TERAPKAN DOSIS ALA TUKANG JAHIT› 09-11-2009
 | Setiap orang memiliki faktor “kostitusi” tubuh masing-masing. Dosis obat yang sama akan berbeda efeknya pada orang yang berbeda. Begiitu juga pemberian obat pada jam yang berbeda (bioritme), dan pada kondisi tubuh yang tidak sama. Karena itu pemberian obat model tukang jahit sebaiknya perlu diterapkan. |
Setiap pasien adalah khas, untuk penyakit papun. Karena itu. Idealnya dosis obat tidak senantiasa sama dari waktu ke waktu. Ada pasien yang dengan odsis lebih rendah dari yang dianjurkan perusahaan farmasi, efek obatnya sudah optimal. Sebaliknya ada yang perlu dosis lebih besar agar memberi efek menyembuhkan. Pasien sendiri yang paling mengenali penyakitnya, dari merasakan keluhan dan gejala yang muncul dari waktu ke waktu. Dengan mengukur tekanan darah, pasien akan tahu apakah perlu minum obat dengan dosis sama, atau cukup sebagian dosis. Ingat, seringan apapun, obat punya efek samping. Makin tinggi dosis makin tinggi efek sampingnya. Kalau efek obat tercapai dengan separuh dosis, kenapa harus dosis penuh? Pemberian dosis obat terhadap pasien disesuaikan ulang dengan kondisi penyakitnya, dari waktu ke waktu, disebut “Dosis tukang jahit”, diamana dosis disesuaikan dengan tubuh si pasien. Kalau pagi ini tekanan darah normal, mungkin obat tidak diperlukan. Kalau kembali meninggi, dosis obat kembali ke dosis semula. Dengan demikian tubuh tak harus terus menerus memikul efek samping obat, selain menghemat. Kencing manis dimonitor dari pemeriksaan gula darah, asam urat dari darah, gondok dari hormone gondok dalam darah, lemak darah dari pemeriksaan lipid darah. Dengan mengamati faktor-faktor yang ikut berpengaruh terhadap perjalanan penyakit, kita membantu dokter lebih bijak dalam menetapkan dosis obat untuk kita sendiri, semata-mata karena dosis obat tidak harus terus menerus sama dari waktu ke waktu dan dari kondisi penyakit yang tidak senantiasa tetap sama. Sumber: Tabloid Gaya hidup sehat 538 |