Rabu, 14 April 2021 12:48 WIB

Dispepsia

Dispepsia merupakan rasa tidak nyaman yang berasal dari daerah perut bagian atas. Rasa tidak nyaman tersebut dapat berupa salah satu atau beberapa gejala berikut, yaitu: nyeri ulu hati, rasa terbakar di daerah ulu hati, rasa penuh setelah makan, cepat kenyang, rasa kembung, mual, muntah, dan sendawa.

Dispepsia terbagi dua, yaitu:

  1. Dispepsia belum diinvestigasi (dispepsia berdasarkan sindrom klinis/keluhan yang dominan)
  2. Dispepsia yang telah diinvestigasi (dispepsia setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan). Terdiri dari:
    1. dispepsia Organik
    2. Dispepsia Fungsional. 

Dispepsia dapat diakibatkan oleh beberapa hal. Sering kali dikaitkan dengan gaya hidup dan dapat dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan minuman atau efek samping dari obat-obatan tertentu, seperti:

  • Makan terlalu banyak atau terlalu cepat.
  • Konsumsi makanan berlemak (berminyak) dan pedas.
  • Konsumsi terlalu banyak kafein, alkohol, cokelat, dan minuman bersoda.
  • Merokok.
  • Rasa cemas.
  • Konsumsi obat penghilang rasa nyeri.

Dispepsia dapat menjadi suatu tanda dari penyakit pencernaan lainnya, yaitu gastritis, ulkus peptikum, batu empedu, pankreatitis, dan keganasan lambung.

Patofisiologi atau proses terjadinya dispepsia hingga saat ini masih belum jelas. Berdasarkan jenisnya, Dispepsia Organik disebabkan oleh beberapa penyakit seperti ulkus lambung, ulkus duodenum, gastritis erosi, duodenitis, dan proses keganasan.

Sedangkan Dispepsia Fungsional merupakan kelainan yang heterogen dengan beberapa subgrup patofisiologi, antara lain pengosongan lambung yang lambat, gangguan akomodasi lambung terhadap makanan, infeksi Helycobacter Pylori, gangguan respon duodenum terhadap lemak atau asam, gangguan motilitas duodenojejunal, serta disfungsi sistem saraf pusat.

  • Nyeri perut.
  • Rasa perih di ulu hati.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Cepat merasa kenyang.
  • Perut kembung.
  • Rasa panas di dada dan di perut.
  • Sendawa.

Menurut kriteria Roma III, dispepsia adalah suatu penyakit dengan satu atau lebih gejala yang berhubungan dengan gangguan di daerah gastroduodenal (lambung dan usus halus), antara lain:

  • Nyeri ulu hati.
  • Rasa terbakar di daerah ulu hati.
  • Rasa penuh atau tidak nyaman setelah makan.
  • Rasa cepat kenyang.

Gejala tersebut setidaknya dirasakan selama enam bulan terakhir sebelum diagnosis ditegakkan. Pemeriksaan yang perlu dilakukan antara lain pemeriksaan fisik dan penunjang.

  • Pemeriksaan fisik: nyeri tekan di daerah ulu hati (tidak khas), temuan lain tergantung etiologi (penyebab) dispepsia.
  • Pemeriksaan penunjang: sesuai penyebab atau perkiraan diagnosis (diagnosis banding) dengan tujuan untuk menyingkirkan atau menemukan kelainan organik, antara lain pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan EKG, dan pemeriksaan endoskopi.

Pengobatan dispepsia dimulai dengan mengidentifikasi faktor penyebab. Pengobatan dispepsia sudah dapat dimulai berdasarkan sindrom klinis/keluhan yang dominan (dispepsia belum diinvestigasi) dan dilanjutkan sesuai hasil investigasi (dispepsia yang telah diinvestigasi).

Pengobatan Dispepsia belum Diinvestigasi 
Strategi tatalaksana optimal pada fase ini adalah memberikan terapi empirik selama 1 – 4 minggu sebelum hasil investigasi awal, yaitu pemeriksaan adanya bakteri Helicobacter Pylori (Hp). Untuk daerah dan etnis tertentu serta penderita dengan faktor risiko tinggi, pemeriksaan Hp harus dilakukan lebih awal.
Obat yang digunakan dapat berupa antasida, anti sekresi asam lambung (PPI) seperti omeprazole, lansoprazole, H2 Reseptor antagonis (H2RA), prokinetik, dan sitoprotektor seperti rebamipide, dimana pilihan ditentukan berdasarkan dominasi keluhan dan riwayat pengobatan sebelumnya.

Pengobatan Dispepsia yang telah Diinvestigasi
Pengobatan dilakukan sesuai hasil investigasi dari beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan laboratorium, endoskopi, pemeriksaan histopatologi, pemeriksaan EKG.

  1. Dispepsia Organik 
    Apabila setelah diinvestigasi ditemukan kerusakan mukosa (mucosal damage), maka obat yang diberikan adalah kombinasi PPI (Proton Pump Inhibitor) seperti rabeprazole, omeprazole.
  2. Dispepsia Fungsional
    Apabila setelah diinvestigasi tidak ditemukan kerusakan mukosa, maka pengobatan yang dapat diberikan sesuai dengan gangguan fungsional yang ada atau tergantung faktor pencetusnya. Penggunaan obat golongan prokinetik seperti metoklorpramid atau domperidon dapat memberikan perbaikan gejala pada beberapa pasien. Hal ini terkait dengan perlambatan pengosongan lambung sebagai salah satu patofisiologi dispepsia fungsional.

Pencegahan dilakukan dengan memodifikasi gaya hidup, seperti:

  • Makan dengan porsi kecil (tidak banyak) dan makanan dikunyah perlahan sebelum ditelan.
  • Menghindari makanan dan minuman yang bisa memicu terjadinya dispepsia seperti makanan yang pedas, asam dan berlemak, minuman bersoda, alkohol, atau yang mengandung kafein.
  • Berhenti merokok.
  • Menjaga berat badan agar tetap ideal.
  • Olahraga secara teratur.
  • Mengontrol dan mengendalikan rasa stres dan cemas yang berlebihan.
  • Apabila ada pilihan lain dalam konsumsi obat-obatan, ganti obat-obatan yang dapat mengiritasi lambung (seperti obat penghilang rasa nyeri). Tetapi jika tidak bisa, obat dapat dikonsumsi setelah makan atau dapat dikombinasikan atau ditambahkan dengan obat dispepsia.

Baca juga : Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien Stroke