• icon-phone Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405
  • Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405

Info Terpopuler

Yakes Mobile, Download Sekarang dan Nikmati Segudang Manfaatnya

Info Terbaru

image-newest
Berita

Sosialisasi Untuk Pencegahan Penyebaran Covid-19 dan Vaksin Bagi Peserta Pensiun Kamis, 17 Juni 2021 16:08 WIB Bandung - Pada saat ini angka kenaikan kasus covid-19 di lingkungan TelkomGroup sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan, menjadi hal yang wajib bagi Yakes Telkom untuk mengingatkan kembali agar angka kasus tersebut tidak melebihi angka tertinggi pada januari 2021. Dengan melalui aplikasi zoom meeting, Yakes Telkom menggelar sosialisasi untuk pencegahan penyebaran Covid-19 bagi peserta pensiun pada Rabu (16/6). Kegiatan ini diikuti oleh jajaran BOD dan Senior Leader Yakes Telkom, Ketua P2Tel beserta jajarannya, Seluruh pengurus cabang P2Tel, dan Tim SAHATY (Sahabat Sehat Yakes). Pada sambutannya, Tri Priyo Anggoro selaku Dirut yakes Telkom menyampaikan bahwa dengan meningkatnya kembali angka penyebaran Covid di Indonesia, kita merasa sangat penting untuk melakukan sosialisasi kepada peserta pensiun agar dapat terhindar dari penyebaran virus tersebut dengan tetap menerapkan 5M. “Dengan kegiatan ini diharapkan agar seluruh peserta sosialisasi dapat bertambah wawasannya mengenai penyebaran virus dan vaksin, serta dapat dengan optimal menjaga diri dari penyebaran virus” ujarnya. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi sosialisasi oleh dr. Rena Winasis selaku Narasumber. Dalam pemaparannya, Rena menyampaikan bahwa Berdasarkan laporan harian per tanggal 14 Juni 2021, total peserta yakes yang terkonfirmasi positif sebanyak 5.018 yang dibagi menjadi dua kategori, kategori karyawan dan Keluarga sebanyak 2.514, sedangkan dari Pensiunan dan Keluarga sebanyak 2.504. Total meninggal 203 jiwa terdiri dari karyawan dan keluarga 28 peserta dan dari pensiunan 175 peserta. Berdasarkan angka sebaran yang terkonfirmasi covid yang positif paling banyak ialah usia produktif 31-45 tahun, sedangkan angka tertinggi yang meninggal dunia paling banyak ialah usia 60 tahun keatas, karena kondisi usia 60 tahun keatas mempengaruhi penurunan kekebalan tubuh serta resiko dikarenakan penyakit penyerta yang dimiliki. “Pada saat ini awal dari kenaikan angka kasus covid-19 sudah banyak di sekitar kita. Diakibatkan lengahnya prokes yang terjadi dikarenakan mengikuti kegiatan-kegiatan pasca hari raya agama. Untuk itu, sekarang kita semua tidak boleh lengah lagi dan wajib untuk menerapkan 5M, yaitu Memakai masker, Menjaga jarak, Mencuci tangan, Membatasi mobilitas, dan Menjauhi kerumunan”, imbuhnya. Mengenai vaksinasi, perlu diketahui bahwa Yakes Telkom bukanlah yang mengatur program vaksin, karena vaksin terbatas dikomandoi oleh pemerintah melalui kemenkes yang sudah dimulai dari januari hingga saat ini, dan untuk tenaga kesehatan Yakes Telkom hampir semuanya sudah divaksin, hanya sebagian yang belum dikarenakan terkendala kondisi kesehatan. Pelaksanaan vaksinasi ini dilakukan oleh Pemerintah dengan titik pelaksanaannya di Rumah Sakit, Puskesmas, dan Pusat Vaksin di kota besar. Pencapaian secara nasional masih sangat jauh dari angka 100%, secara total peserta Yakes Telkom yang sudah divaksin sebanyak 16.950 atau 19,17% dari total 88.394. Dengan dilaksanakannya sosialisasi ini, diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih luas lagi agar terhindar dari penyebaran Covid-19. Ayo tetap Semangat Yakes Family, bersama kita bisa memutus rantai penyebaran Covid-19. (YKS00)

image-newest
Artikel

MEMPERSIAPKAN MASA PENSIUN Jumat, 21 Mei 2021 15:04 WIB Seseorang yang akan pensiun perlu mempertimbangkan apakah akan tetap melanjutkan bekerja atau tidak. Banyak orang yang mengambil pekerjaan baru setelah pensiun dari karir utama mereka, yaitu pekerjaan temporari atau self-employment. Namun, ada juga yang memilih untuk menikmati masa pensiunnya dengan kembali aktif melakukan hal yang menjadi hobby-nya, yang mungkin dulu tidak sempat dilakukan saat bekerja. Pertanyaan yang sering muncul sebelum seseorang pensiun biasanya adalah “Berapa banyak uang yang akan saya butuhkan?”, “Apakah tabungan yang saya persiapkan sudah cukup?”. Namun ketika permasalahan yang banyak diperbincangkan adalah seputar finansial, sebenarnya ada hal lain yang perlu untuk dipersiapkan, yaitu kondisi emosional. Sedikit orang yang mempertimbangkan kondisi emosional (penyesuaian psikologis) yang turut berpengaruh ketika kita berada pada masa pensiun. Penyesuaian ini termasuk pada kemampuan kita untuk siap menerima identitas karir yang telah hilang, menghabiskan waktu yang lebih banyak dengan keluarga, dan mencari kegiatan yang dapat membuat kita tetap aktif. Perubahan-perubahan yang dialami antara lain dari sisi biologis (misal: penurunan pada masa tulang yang menyebabkan tulang menjadi lebih rapuh, mudah retak, dan proses penyembuhan memakan waktu yang lebih lama), kognitif (misal: kecepatan dalam memproses informasi -yang terukur melalui waktu reaksi- berkurang seiring dengan penambahan usia), hingga sosio-emosional. Perubahan tersebut akan menjadi tantangan bagi diri kita. Maka dari itu, persiapan terhadap kondisi psikologis merupakan hal penting yang perlu untuk dilakukan agar kita dapat menjalani masa pensiun dengan bahagia. Beberapa pensiunan terkadang ada yang menjalani masa pensiunnya dengan bahagia, menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman dan menjalankan hobi yang dulu tidak dapat mereka nikmati. Namun yang lainnya, dapat mengalami kecemasan, depresi, dan perasaan kehilangan. Penelitian yang dilakukan oleh psikolog menemukan bahwa orang-orang yang benar-benar terlibat dalam kegiatan-kegiatan pasca pensiunnya akan mendapatkan keuntungan secara psikologis. Untuk itu,  kita perlu untuk memberikan waktu dalam mempersiapkan masa pensiun, baik dalam segi sosial maupun psikologis untuk mencari tahu apa yang dapat membuat kita bahagia ketika menikmati masa pensiun kelak dan tidak hanya terpaku pada masalah finansial. Berikut adalah tips singkat yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan masa pensiun dengan lebih baik dan meningkatkan kesejahteraan diri: Connect. Jalinlah hubungan dengan orang-orang di sekitar. Bangunlan hubungan dengan dukungan yang positif sehingga memberikan manfaat bagi diri kita. Be Active. Cobalah untuk melakukan aktivitas di luar seperti berjalan, berlari, bersepeda, atau bahkan menari. Beraktivitas fisik dapat membuat kita merasa lebih baik. Lakukan aktivitas fisik yang kita senangi dan sesuai dengan mobilitas kita. Take Notice. Tingkatkan rasa ingin tahu. Hargai setiap momen. “Be aware” terhadap dunia serta perasaan Anda. Merefleksikan pengalaman pribadi dapat membantu Anda untuk mengapresiasi segala hal di dalam hidup. Keep Learning. Cobalah hal-hal baru atau temukan kembali hobby lama. Daftarkan diri kita mengikuti kegiatan yang baru, misalnya mempelajari alat musik atau belajar memasak. Give. Lakukan hal baik terhadap orang di sekitar. Ucapkan terima kasih, berikan senyum, sapaan, dan pujian kepada orang lain. Berterima kasihlah terhadap segala hal baik yang terjadi di dalam hidup kita.   Kelima tips di atas dapat kita lakukan sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis. So, persiapkanlah kondisi psikologis kita untuk menghadapi masa pensiun. Ingat, pensiun tidak seperti melompat dari papan seluncur, pensiun adalah sebuah proses dan membutuhkan waktu untuk menyesuaikannya. (oleh : Rahmi Maya Fitri, M.Psi., Psikolog)   Sumber: Santrock, John W. (2013). Life-span Development (fourteenth edition). NY: McGraw Hill. Southern Health and Social Care Trust. (2013). Booklet of Five Ways to Wellbeing: Simple Steps to Improve your Mental Wellbeing. London. http://www.apa.org/monitor/2014/01/retiring-minds.aspx

image-newest
Berita

HUT ke-23 YAKES Telkom: Sehat, Bahagia, Penuh dengan Cinta Jumat, 23 April 2021 08:18 WIB Bandung – Kamis (22/4), Yakes Telkom menginjak usia yang ke-23. Pada tahun ini, tentu saja Yakes Telkom memiliki harapan sebagaimana yang terukir pada tema Sehat, Bahagia, Penuh dengan Cinta. Berdiri sejak 1998 Yakes Telkom menjadi Institusi Mandiri dengan visi Menjadi institusi kesehatan terbaik di Indonesia dalam mengelola Layanan Kesehatan berbasis managed care dengan pemanfaatan teknologi digital. T. Zilmahram sebagai Direktur Utama Yakes Telkom terus berbenah mengembangkan Program-program yang senantiasa hadir memberikan yang terbaik bagi Insan TelkomGroup. Perayaan hari jadi tersebut dilaksanakan secara virtual dengan dihadiri beberapa partisipan dari seluruh Indonesia yang berlangsung secara istimewa dengan rangkaian acara yang sangat menarik. Dihadiri oleh Afriwandi selaku Ketua Pembina Yakes Telkom, Heri Supriadi selaku Anggota Pembina Yakes Telkom, harry Suseno selaku Ketua Pengawas Yakes Telkom, Djaka Sundan beserta Jajaran pengurus P2TEL, Edward Simanjuntak selaku Ketua DPP Sekar Telkom, dan para pimpinan TelkumGroup, serta seluruh Direktur Yakes Telkom dari awal hingga akhir. Dalam pidatonya T. Zilmahram menyebutkan POT CINTA menggambarkan komitmen dari seluruh Insan Yakes untuk memberikan Pelayanan Prima, Operasional Handal, didukung oleh Teknologi Tepat, membangun Citra Positif dan adanya Investasi berkelanjutan. T. Zilmahram menambahkan Yakes Ibarat POT CINTA yang bermakna mengurus Pelanggan dengan penuh cinta, mengurus karyawan dengan penuh perhatian, bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh dedikasi untuk seluruh Stakeholdernya. Yakes Telkom berperan membawa pelanggan ke taraf Kesehatan yang paripurna dengan mengintegrasikan Kesehatan fisik, jiwa, pikiran, sosial, dan spiritual. Pada usia Yakes Telkom ke-23 ini, sudah saatnya kita menuju “Connecting Wellness” yang akan saya canangkan pada Hari Jadi Yakes Yakes sekarang ini, ujar Zil. Connecting Wellness merupakan positioning fungsi dan peran Yakes Telkom setelah mengarungi sejarahnya selama 23 tahun serta menjawab tantangan saat ini dan masa depan, imbuh Zil. Selain itu pengumuman para pemenang lomba HUT Yakes ke 23 turut memeriahkan acara puncak HUT ke 23 YAKES, dan ditutup dengan Tausiah oleh Ustadz Dr. Aam Amirudin. Acara berlangsung dengan sangat meriah dengan participant diatas 400 menjadikan kemeriahan acara walaupun berlangsung secara virtual tapi tetap meriah. #SehatTekadKIta #MelayanidenganCinta (YKS03-2/Red02)

image-newest
Berita

Dirut Yakes Melantik SAHATY: “SAHATY merupakan Agent of Change” Jumat, 16 April 2021 08:23 WIB Sejalan dengan transformasi paradigma kesehatan dari kuratif ke preventif, maka dibutuhkan agen kesehatan dalam lingkungan  pensiunan Telkom. Pada Jumat (16/4) T. Zilmahram selaku Direktur Utama Yakes Telkom berkesempatan melantik 131 kader SAHATY (Sahabat Sehat Yakes). Melalui video conference, Zil menjelaskan dalam sambutannya, bahwa SAHATY adalah Agent of Change dan perpanjangan tangan Yakes dalam memberikan informasi fasilitas kesehatan dan program pembinaan Kesehatan. Kader SAHATY merupakan sukarelawan dari peserta Yakes (Pensiunan) dan karyawan Telkom yang terpilih menjadi agen/wakil dari seluruh kegiatan pada program pembinaan; kader yang proaktif dan relatif sehat yang berasal dari peserta klub kesehatan yang aktif, pengurus P2TEL, pensiunan, maupun karyawan telkom. Seluruh kader SAHATY telah diberikan pembekalan terkait informasi kesehatan dan kepesertaan yang kemudian disosialisasikan pada pelatihan yang telah diselenggarakan sehari sebelumnya (15-16 April 2021). “Para kader SAHATY ini akan mengikuti program pembinaan dan menyesuaikan dengan kegiatan di regionalnya masing-masing”, jelas Zil. Setelah prosesi pelantikan, seluruh kader SAHATY kemudian membacakan ‘Ikrar SAHATY’ untuk menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjalankan tugasnya. Dengan dilantiknya SAHATY, diharapkan dapat menjadi role model dan mengajak peserta lainnya untuk mencapai Kesehatan paripurna. (YKS00)    

image-newest
Artikel

Tetap Sehat Mental Selama Menjalani Perawatan atau Isolasi Mandiri Kamis, 04 Maret 2021 10:34 WIB Covid-19 sudah melanda Indonesia hampir satu tahun dengan jumlah pasien yang terinfeksi virus masih terus bertambah. Pada tanggal 4 Februari 2021, data dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 menyatakan bahwa jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini berjumlah 1.123.105 orang dengan tingkat kematian mencapai 31.001 orang. Data juga menunjukkan bahwa lebih dari 99 persen wilayah di Indonesia sudah terdampak pandemi Covid-19. Hal ini menunjukkan bahwa penularan virus ini tidak hanya semakin tinggi, tetapi juga meluas jika dibandingkan dengan tahun lalu. Pandemi Covid-19 merupakan bencana non alam yang dapat memberikan dampak pada kondisi kesehatan jiwa dan psikososial setiap orang. Menurut WHO (2020) munculnya pandemi menimbulkan stres pada berbagai lapisan masyarakat. Ketakutan, kekhawatiran dan stres adalah respons normal terhadap ancaman yang dirasakan atau nyata dan pada saat dihadapkan pada ketidakpastian atau yang tidak diketahui. Walaupun begitu, stress, ketakutan, dan kekhawatiran yang berlebihan dapat meningkat menjadi gangguan kecemasan atau gangguan somatoform. Menurut DSM V (2015), beberapa dari gejala gangguan cemas diantaranya adalah mengalami sesak nafas, perasaan mau mati, pusing/sakit kepala, sulit tidur, sering merasa lelah, otot tegang. Sedangkan gejala gangguan somatoform adalah memiliki pikiran persisten yang berkaitan dengan gejala dari sebuah penyakit, dimana terkadang tampak tidak rasional. Ketika seseorang terkonfirmasi positif Covid-19, bisa jadi stres, rasa takut dan cemas langsung menghampiri. Penelitian yang dilakukan di luar negeri (dalam Amirullah dan Kartinah, 2020) menyatakan pasien atau penyintas dari Covid-19 dapat menunjukkan gejala trauma dan depresi. Selain itu, mereka mungkin mengalami gangguan tidur, kecemasan, dan gejala Obsesif Kompulsif. Sedangkan serangkaian kasus pengamatan di Prancis menemukan bahwa 65% orang dengan COVID 19 di unit perawatan intensif (ICU) menunjukkan tanda-tanda delirium (kebingungan) dan 69% mengalami agitasi (kemarahan dan kegelisahan) (WHO, 2020a). Penyebab seseorang dengan kasus positif Covid-19 mengalami masalah atau gangguan psikologis ketika menjalani perawatan atau isolasi mandiri diantaranya adalah resiko kematian yang tinggi, adanya perasaan bosan dan tertekan selama isolasi (Masyah, 2020). Selain itu, adanya stigma masih menjadi momok tersendiri. Stigma (dalam Abdillah, 2020) merupakan suatu istilah yang menggambarkan suatu keadaan atau kondisi terkait sudut pandang atas sesuatu yang dianggap bernilai negatif. Stigma dapat: 1) Mendorong orang untuk menyembunyikan penyakit untuk menghindari diskriminasi, 2) Mencegah orang mencari perawatan kesehatan segera, dan 3) Mencegah orang untuk mengadopsi perilaku sehat. Tetap sehat mental selama menjalani perawatan dan isolasi tidaklah mudah, namun bukan pula hal yang mustahil untuk dilakukan. Hal pertama yang perlu mendapatkan perhatian adalah aspek kognitif atau cara berpikir Anda ketika menghadapi keadaan yang memerlukan perawatan dan isolasi. Caranya, Anda bisa membuat tujuan selama mendapatkan perawatan atau isolasi mandiri, serta berusaha untuk mencapainya sehingga dapat meningkatkan rasa adanya kontrol dan kompetensi. Tujuan yang dibuat haruslah realistis, disesuaikan dengan situasi dimana Anda berada dan disesuaikan dengan kondisi tubuh Anda. Misalnya, Anda dapat melakukan pekerjaan berkaitan dengan penyelesaian tugas administrasi meskipun tidak bekerja di lapangan. Bagi sebagian orang, hal ini dapat menumbuhkan rasa kepuasan setiap kali berhasil menyelesaikannya dalam waktu satu hari. Ketika kita sedang mendapatkan perawatan dari Covid 19 atau melakukan isolasi mandiri, kita perlu mempertahankan harapan. Percaya bahwa Anda dapat melalui peristiwa ini dengan sebaik mungkin. Percaya bahwa kondisi ini akan memberikan pembelajaran tersendiri dalam hidup Anda. Percaya pada hal yang lebih bermakna, misalnya keluarga, keyakinan/agama, atau nilai-nilai yang diyakini seseorang. Selama Anda merasa mampu, tetap rencanakan rutinitas harian, serta buat rencana kesejahteraan untuk beberapa hari atau beberapa minggu ke depan. Usahakan tetap aktif bergerak, melakukan aktivitas seperti biasa, beribadah dan berolah raga dapat melawan beberapa gejala fisiologis dari gangguan mental. Tidak lupa makan makanan seimbang dan tidur tepat waktu. Saat Anda menjaga pola makan dan tidur, maka dapat membantu dalam meningkatkan kemampuan tubuh untuk mengatasi stress. Anda juga tetap perlu berhubungan dengan keluarga dan teman. Tetap dekat secara sosial meskipun ketika membatasi diri secara fisik. Hal ini bisa dilakukan secara digital, yaitu jalin komunikasi dengan teman, rekan kerja, dan keluarga menggunakan surat elektronik dan aplikasi. Anda juga bisa menonton film atau membaca buku yang sama, lalu diskusikan secara virtual, lakukan percakapan virtual sembari meminum kopi atau teh bersama. Cari atau ciptakan humor pada situasi yang tepat. Lelucon dapat menjadi penangkal yang kuat untuk mengatasi perasaan tidak berdaya atau putus asa. Meski begitu, tetap batasi koneksi dengan internet dan media sosial untuk hal-hal yang tidak perlu. Misalnya, mencari sumber informasi tentang Covid 19 bukan dari sumber yang terpercaya atau membaca berita-berita negatif terlalu berlebihan.  Jika memang merasa mengalami emosi-emosi negatif selama masa perawatan atau isolasi mandiri, cobalah terima emosi yang sedang muncul. Berada dalam situasi yang menekan dapat menyebabkan reaksi emosional yang berbeda seperti marah, frustrasi, cemas, penyesalan, mempertanyakan mengenai diri, menyalahkan diri sendiri, dll. Perasaan tersebut merupakan reaksi yang wajar pada situasi yang tidak wajar saat ini. Tidak menekan emosi-emosi tersebut, coba untuk pahami sumber dari emosi tersebut dan buatlah solusi sederhana dari persoalan yang sedang dihadapi. Anda bisa menggunakan teknik pengelolaan stress. Teknik relaksasi secara fisik dapat meredakan stres dan menjadi teknik yang berguna untuk mengelola rasa sakit dan kekacauan emosi. Sebagian besar orang akrab dengan teknik pengelolaan stress, akan tetapi tidak semuanya menggunakan atau mempraktikkannya. Inilah saat yang tepat untuk menggunakan teknik ini. Ketika Anda sudah melakukan semua cara di atas, namun masih merasa kesulitan untuk mengelola kesehatan mental, maka Anda bisa berkonsultasi dengan Psikolog terdekat. Psikolog akan membantu dalam melakukan asesmen, memandu dalam melakukan relaksasi, mengekspresikan emosi negatif dengan cara yang adaptif, serta akan memandu untuk tetap berpikir dan berperilaku positif.     Disusun Oleh : Sarwendah Indrarani, M. Psi., Psikolog Sumber : Kompas.com (2021, 04 Februari). UPDATE: Bertambah 11.434, Kasus Covid-19 Indonesia Capai 1.123.105. Diakses pada 6 Februari 2021, dari https://nasional.kompas.com/read/2021/02/04/16323031/update-bertambah-11434-kasus-covid-19-indonesia-capai-1123105?page=all   Direktorat Pencegahan Dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa Dan Napza, Direktorat Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit. (2020). Pedoman Dukungan Kesehatan Jiwa Dan Psikososial Pada Pandemi Covid-19. Jakarta : Kementerian Kesehatan Ri. Diakses dari : https://covid19.kemkes.go.id/protokol-covid-19/pedoman-dukungan-kesehatan-jiwa-dan-psikososial-pada-pandemi-covid-19 Abdillah, Leon. A. (2020). Stigma Terhadap Orang Positif COVID-19. Universitas Bina Darma. Diakses dari : http://eprints.binadarma.ac.id/4163/ Perhimpunan Nasional Bulan Sabit Merah Palang Merah (Red Cross Red Crescent). (2020). Dukungan Psikologis Awal (Psychological First Aid - PFA) Jarak Jauh selama pandemi COVID-19. Diakses dari : https://ipkindonesia.or.id/media/2020/04/Remote-PFA-IFRC-Bahasa-Indonesia.pdf Masyah, Barto. (2020). Pandemi Covid 19 Terhadap Kesehatan Mental Dan Psikososial. Palangka Raya : Mahakam Nursing Journal. Diakses dari : http://ejournalperawat.poltekkes-kaltim.ac.id/index.php/nursing/article/view/180

image-newest
Artikel

Bahagia dalam Bekerja.. Senin, 08 Februari 2021 16:33 WIB Apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dalam bekerja? Mengapa kebahagiaan dalam bekerja penting? Bahagia saat bekerja membuat kita lebih termotivasi dan percaya diri dengan pekerjaan yang dilakukan. Kebahagiaan dalam bekerja merupakan suatu mindset (pola pikir) yang memungkinkan kita untuk meningkatkan performa dan mencapai potensi yang dimiliki. Dengan demikian, hal ini membuat kita memberikan kontribusi lebih terhadap pekerjaan. Ketika kita bahagia dalam bekerja maka akan ada manfaat yang diraih, yaitu menjadi lebih kreatif dalam bekerja, mencapai goals dengan cepat, memiliki interaksi positif dengan rekan kerja, dapat mencapai kesuksesan, dan yang utama adalah menjadi individu yang lebih sehat. Semakin tinggi tingkat kebahagiaan, maka semakin kuat juga sistem imun di dalam tubuh. Hal ini juga berkaitan dengan stres yang akan timbul akibat kerja, yaitu semakin kecil peluang untuk terpengaruh oleh stressor. Hanya saja, kebahagiaan dalam bekerja tidak semata-mata hanya dengan selalu tersenyum atau memiliki mood ceria sepanjang hari. Ingat bahwa bahagia dalam bekerja bukan berarti harus merasa baik 100% setiap waktu atau tidak boleh memiliki emosi negatif. Terkadang justru perasaan seperti marah, frustrasi, atau kegagalan mendorong diri untuk melakukan aksi berbeda untuk menggapai kebahagiaan tersebut. Jadi intinya, bahagia dalam bekerja adalah bagaimana mindset yang dimiliki sehingga dapat meningkatkan performa dan mencapai potensi diri. Lalu, bagaimana mencapai kebahagiaan dalam bekerja? Jessica Pryce-Jones dalam bukunya Happiness at Work menjabarkan ada lima hal (5C) yang berperan terhadap kebahagiaan dalam bekerja, yaitu: Contribution (Kontribusi). Kontribusi berkaitan dengan usaha yang dikerahkan. Individu yang memberikan kontribusi akan merasa lebih bahagia dalam bekerja. Jika ingin mengembangkan kebahagiaan tersebut, maka mulailah dengan berfokus pada hal-hal yang dapat dilakukan dan tetapkan tujuan yang ingin diraih. Tetapkanlah tujuan yang selaras dengan kemampuan, minat, serta nilai-nilai yang kita miliki. Jika tujuan tersebut sejalan dengan minat dan keinginan, maka akan memberikan efek bahagia bagi diri. Conviction (Keyakinan). Keyakinan merupakan penggerak yang membuat kita termotivasi saat bekerja. Dengan keyakinan, kita percaya bahwa diri kita menjadi lebih efektif dan efisien. Keyakinan ini juga membantu kita untuk merasa tangguh ketika kita berada pada masa yang sulit. Culture (Budaya). Budaya adalah lingkungan dimana kita bekerja. Setiap tempat kerja memiliki budaya tersendiri yang akan mengatur jalannya perusahaan. Untuk itu, kita perlu paham akan budaya di lingkungan kerja. Budaya dalam kerja juga menekankan pada siapa saja orang-orang yang terlibat di dalam organisasi, yaitu rekan kerja. Dalam bekerja, ketika kita tidak menyukai rekan kerja, maka akan sulit bagi kita untuk menyukai pekerjaan kita. Bekerja di lingkungan yang kita cintai membuat kita nyaman dalam bekerja sehingga konflik berkurang dan terciptanya kerja sama tim yang baik. Commitment (Komitmen). Kita tidak sepenuhnya dapat menjalankan pekerjaan dengan baik jika kita tidak bahagia dengan pekerjaan, karena selalu ada perasaan yang tertahan ketika seseorang melakukan hal yang tidak mereka senangi. Rendahnya tingkat kebahagiaan dalam bekerja akan berpengaruh pada rendahnya komitmen. Komitmen terbentuk atas perasaan dan kepercayaan. Titik mulanya adalah kepercayaan bahwa kita mengerjakan sesuatu yang berguna sehingga terbentuklah perasaan. Komitmen dalam bekerja pun muncul dan membuat kita terhubung dengan visi yang dimiliki oleh organisasi. Confidence (Kepercayaan diri). Kepercayaan diri dapat dikatakan sebagai elemen terpenting terhadap kebahagiaan yang menjadi dasar dari empat elemen lainnya. Dengan kepercayaan diri, harapan hari ini akan menjadi kenyataan untuk hari esok; Tanpa kepercayaan diri, motivasi tidak akan berubah menjadi suatu aksi. Ketika tidak memiliki kepercayaan diri, maka akan muncul keraguan akan kemampuan diri sendiri yang pada akhirnya berpengaruh pada performa. Sementara, kepercayaan diri berlebih justru membuat seseorang menjadi semakin arogan dan berdampak pada performa yang tidak efektif. Pada dasarnya, dibutuhkan kepercayaan diri yang optimal sehingga membuat kita dapat bekerja dengan lebih baik dan menyelesaikan tugas yang ada. Dengan demikian, kita pun percaya bahwa diri kita mampu untuk melakukan tugas dan mencapai tujuan yang diinginkan.  Dengan melakukan kelima hal tersebut, maka kita dapat membangun sendiri kebahagiaan dalam bekerja. Hal termudah yang dapat kita lakukan untuk memulainya adalah self-awareness. Dengan sadar akan situasi kerja, kita memiliki perspektif terhadap situasi sehingga dapat mengatur situasi kerja menjadi lebih baik lagi. Satu hal yang perlu untuk kita ketahui adalah bahwa kita sendirilah yang menentukan seberapa bahagia diri kita. Meskipun pekerjaan tidak dapat membuat kita bahagia, setidaknya kita dapat membuat diri kita bahagia ketika bekerja. (oleh Rahmi Maya Fitri, M.Psi., Psikolog)   Sumber: Pryce-Jones, Jessica. 2010. Happiness at Work (Maximizing your Psychological Capital for success). UK: Wiley-Blackwell.