• icon-phone Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405
  • Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405

Info Terbaru

thumbnail-image

Hidrocefalus Senin, 23 Mei 2022 15:05 WIB Hidrosefalus dapat diartikan secara luas sebagai gangguan produksi, aliran, hingga penyerapan kembali cairan serebrospinal (CSF) di otak. Gangguan ini dapat mengganggu tekanan terhadap sistem saraf pusat/otak. Kondisi ini juga sering disebut sebagai gangguan hidrodinamik cairan serebrospinal. Normalnya dalam tengkorak manusia memiliki tiga komponen, yaitu jaringan otak, darah, dan cairan serebrospinal. Ketiganya memiliki keseimbangan volume sehingga tidak memberikan gangguan kinerja satu sama lain. Saat salah satu komponen mengalami kelebihan volume sedangkan yang lain tidak mengalami kekurangan volume, dampak yang ditimbulkan adalah peningkatan tekanan intrakranial atau tekanan dalam tengkorak. Peningkatan tekanan ini akan menekan dua komponen lainnya sehingga mengganggu kinerja. Kelebihan cairan serebrospinal mengakibatkan tekanan berlebih pada jaringan otak dan darah sehingga dapat menimbulkan gejala dan gangguan yang berhubungan dengan sistem saraf pusat. Cairan serebrospinal sendiri berperan penting dalam regulasi sistem saraf pusat. Fungsi pentingnya antara lain sebagai peredam guncangan pada organ otak, penghantar nutrisi ke jaringan otak dan menstabilkan tekanan dalam tengkorak (intrakranial). Maka pada kondisi normal, perannya memberikan keseimbangan terhadap tekanan intrakranial dengan mengatur jumlah volume setiap saat. Cairan ini menempati setiap ruang kosong intrakranial yang disebut ventrikel. Terdapat 4 ventrikel intrakranial yang saling terhubung satu sama lain. Penyakit ini dapat menyerang segala umur, anak-anak hingga dewasa. Namun kebanyakan kasus terjadi pada bayi baru lahir dan lansia berusia diatas 60 tahun. Hidrosefalus dapat dibedakan menjadi dua kategori yaitu communicating dan non-communicating. Kedua kategori ini dibedakan berdasarkan kondisi sumbatan dan aliran cairan yang terjadi.

thumbnail-image

Dispepsia Minggu, 03 April 2022 09:50 WIB Lambung merupakan organ pencernaan yang terletak pada bagian tengah hingga kiri perut atas setiap orang. Bagian atas lambung berbatasan langsung dengan diafragma yang memisahkan rongga dada dan perut. Sedangkan bagian bawah lambung berdampingan dengan usus. Fungsi lambung sendiri merupakan rongga tempat berkumpulnya makanan yang siap untuk mulai dicerna oleh tubuh. Pada bagian dalam terdapat kumpulan cairan asam klorida yang merupakan cairan asam kuat untuk melumat makanan. Saat kita makan, makanan akan masuk melalui mulut dan berjalan perlahan dihantarkan oleh esofagus (kerongkongan) ke lambung. Makanan akan melewati pintu katup yang memisahkan agar isi lambung tidak kembali naik ke esofagus. Ketika isi makanan di lambung kembali naik ke esofagus, maka akan terjadi rasa tidak nyaman, perih, panas hingga beberapa gejala tidak nyaman lainnya pada perut. Rangkaian keluhan tersebut dapat dikatakan sebagai dispepsia. Dispepsia  merupakan kondisi dimana seseorang merasakan sensasi tidak nyaman hingga nyeri pada perut bagian atas. Keluhan tersebut dapat hilang timbul, dapat dialami oleh semua usia, dan dapat berlangsung dalam jangka waktu lama. Dispepsia terdiri dari beberapa jenis, yaitu organic dyspepsia, dispepsia fungsional, reflux-like dyspepsia, dan non-ulcer dyspepsia. Berdasarkan gejalanya dispepsia dapat disebut reflux-like dyspepsia, ulcer-like dyspepsia, dan dysmotility-like dyspepsia. Namun keluhan yang dapat dirasakan pada semua jenis di atas secara umum adalah sama.

thumbnail-image

Mengenal Gigi Susu Jumat, 12 November 2021 11:28 WIB Gigi susu memiliki beberapa sebutan lain, di antaranya adalah gigi sulung, deciduous teeth, primary teeth, atau baby teeth. Semua sebutan ini digunakan untuk menggambarkan gigi yang pertama kali tumbuh pada anak, gigi yang akan lepas dan digantikan dengan gigi permanen ketika anak mencapai usia tertentu. Di dalam dunia kedokteran gigi, gigi susu biasa disebut sebagai primary teeth atau deciduous teeth. Manusia memiliki 2 fase gigi geligi yaitu gigi susu dan gigi permanen/dewasa. Gigi susu merupakan fase  gigi awal yang terdiri dari 10 gigi rahang atas dan 10 gigi rahang bawah. Gigi ini mulai muncul rata–rata pada usia 6 bulan dan lengkap jumlahnya ketika anak berusia 3 tahun. Sedangkan gigi permanen adalah fase gigi kedua dan merupakan fase terakhir. Pada fase ini gigi permanen akan mulai tumbuh ketika anak berusia 5-6 tahun yaitu ditandai dengan tumbuhnya gigi geraham pertama permanen pada rahang atas-rahang bawah dan gigi seri permanen rahang bawah. Selain gigi geraham pertama permanen, semua benih gigi tetap terletak di bawah gigi susu. Hal tersebut yang menyebabkan bahwa kedua fase gigi manusia ini saling berhubungan. Fase gigi susu penting untuk dijaga dan diperhatikan kesehatannya karena gigi ini merupakan panduan bagi gigi permanen untuk tumbuh pada posisi yang benar di lengkung rahang pada waktunya nanti. Seorang anak memerlukan gigi susu yang kuat dan sehat tidak hanya untuk mengunyah makanan (perkembangan gizi) tetapi juga untuk dapat mengucapkan kata-kata dengan tepat (perkembangan kognitif). Jika gigi susu mengalami infeksi gigi/gusi, maka hal ini dapat memengaruhi perkembangan benih gigi tetap di bawahnya.

Info Populer

thumbnail-Jenis-jenis Pengawet Makanan

Jenis-jenis Pengawet Makanan Selasa, 06 April 2021 14:57 WIB Bahan pengawet dibedakan menjadi pengawet organik dan anorganik. Berikut contoh-contoh bahan pengawet organik yang sering digunakan: Benzoat. Benzoat banyak ditemukan dalam bentuk asam benzoat maupun natrium benzoat (garamnya). Berbagai jenis soft drink (minuman ringan), sari buah, nata de coco, kecap, saus, selai, dan agar-agar diawetkan dengan menggunakan bahan jenis ini. Batas maksimum penggunaan Asam benzoat dan garamnya (Benzoic acid): Asam asetat. Asam asetat dikenal di kalangan masyarakat sebagai asam cuka yang menghasilkan rasa masam. Jika jumlahnya terlalu banyak akan mengganggu selera makan. Asam asetat dapat dipergunakan sebagai pelengkap makanan (acar, mi ayam, bakso, atau soto), antimikroba, dan pengawet (acar, saus tomat, dan saus cabai). Propionat. Jenis bahan pengawet propionat yang sering digunakan adalah asam propionat dan garam kalium atau natrium propionat. Propionat selain menghambat pertumbuhan jamur juga dapat menghambat pertumbuhan bacillus mesentericus yang menyebabkan kerusakan bahan makanan. Bahan ini sering dipergunakan untuk mengawetkan produk roti dan keju. Batas maksimum penggunaan Asam propionat dan garamnya (Propionic acid):  Sorbat. Sorbat yang terdapat di pasar ada dalam bentuk asam atau garam sorbat. Sorbat sering digunakan dalam pengawetan margarin, sari buah, keju, anggur, dan acar. Asam sorbat sangat efektif dalam menekan pertumbuhan jamur dan tidak mempengaruhi cita rasa makanan pada tingkat yang diperbolehkan. Batas maksimum penggunaan Asam Sorbat dan Garamnya (Sorbic acid):  Bahan pengawet anorganik yang sering digunakan: Sulfit. Bahan ini biasa dijumpai dalam bentuk garam kalium atau natrium bisulfit. Potongan kentang, sari nanas, dan udang beku biasa diawetkan dengan menggunakan bahan ini. Batas penggunaannya tidak melebihi 200mg-1gr/kg untuk produk pangan. Jika melebihi batas maksimum menyebabkan reaksi alergi. Propil galat. Digunakan dalam produk makanan yang mengandung minyak atau lemak dan permen karet serta untuk memperlambat ketengikan pada sosis. Propil galat juga dapat digunakan sebagai antioksidan. Garam nitrit. Garam nitrit biasanya dalam bentuk kalium atau natrium nitrit. Bahan ini sering digunakan sebagai bahan pengawet keju, ikan, daging, dan juga daging olahan seperti sosis atau kornet, serta makanan kering seperti kue kering. Perkembangan mikroba dapat dihambat dengan adanya nitrit ini sebagai contoh pertumbuhan clostridia di dalam daging yang dapat membusukkan daging. Jumlah nitrit yang ditambahkan biasanya 0,1% atau 1gr/kg baha. Bila lebih dari jumlah tersebut bisa menyebabkan keracunan, sakit kepala, dan muntah-muntah

Yakes Health Center