Selasa, 27 Desember 2022 13:09 WIB

Penatalaksanaan Dislipidemia

picture-of-article

Penatalaksanaan paling esensial untuk mengatasi dislipidemia yaitu modifikasi gaya hidup. Intervensi dilakukan mulai dari faktor penyebabnya seperti merokok, kurang aktivitas fisik dan pola makan yang kurang tepat. Menghentikan merokok juga dapat menurunkan risiko komplikasi dari ketidakseimbangan kolesterol yaitu penyakit jantung dan pembuluh darah. Olahraga sangat disarankan sebagai solusi dalam menormalkan metabolisme kolesterol darah. Asupan zat gizi perlu diperhatikan jika seseorang sudah mengalami ketidakseimbangan kolesterol. Konsumsi serat dari sayur dan buah setidaknya hadir setiap hari, serta mengurangi konsumsi makanan mengandung lemak jenuh dan lemak trans.

Obat lini pertama yang digunakan dalam mengatasi dislipidemia adalah statin. Statin bekerja menghambat proses pembentukan kolesterol di liver sehingga diharapkan terjadinya penurunan pelepasan kadar kolesterol ke darah. Jenis statin yang sering kita dengar antara lain seperti simvastatin, atorvastatin, rosuvastatin, dan pravastatin. Masih ada lagi jenis statin lainnya, namun perlu diingat bahwa penggunaan obat statin termasuk jenis dan dosis pakai harus diawasi langsung oleh dokter mengingat efek samping toksisitas yang dapat ditimbulkannya. Statin tetap berpeluang menyebabkan gangguan serius pada pecahnya sel otot, gangguan neurologis, kognitif, gangguan pembuluh darah hingga munculnya diabetes melitus tipe 2. Maka penting untuk menanyakan pertimbangan pemakaiannya ke dokter.

Terdapat juga obat-obatan pilihan lainnya selain statin seperti ezetimibe, fibrat, dan PCSK9 inhibitor yang juga harus diawasi oleh dokter

Pada pasien dengan ketidakseimbangan kolesterol (dislipidemia), dianjurkan untuk mengatur pola makan supaya kadar kolesterol darah total, kolesterol LDL (kolesterol jahat), dan Trigliserida menurun sedangkan kolesterol HDL (kolesterol baik) meningkat; menurunkan berat badan bila terlalu gemuk; dan membatasi jumlah kalori. Berikut beberapa prinsip umum pola makan dislipidemia:

  1. Menggunakan lemak sehat atau lemak tidak jenuh untuk mengolah/menyiapkan makanan. Mengganti mentega, margarin, krim, minyak goreng (minyak kelapa/minyak kelapa sawit) dengan minyak zaitun, atau minyak kacang kedelai
  2. Mengonsumsi sayuran dan buah–buahan dengan porsi yang lebih banyak setiap kali makan
  3. Mengganti teknik memasak yang menggunakan banyak lemak seperti menggoreng atau kuah santan dengan merebus, mengungkep, memanggang, mengukus, atau menumis dengan sedikit minyak.
  4. Mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung banyak gula dan garam, mengganti snack manis dengan buah–buahan.
  5. Mengurangi konsumsi daging merah, diganti dengan ikan, daging ayam tanpa kulit, dan kacang–kacangan.
  6. Memperbanyak penggunaan bawang putih, bawang merah, daun bawang sebagai bumbu masak serta menambah sayuran mentah sebagai lalapan setelah dicuci bersih.
  7. Jika disertai darah tinggi (hipertensi) dianjurkan untuk mengurangi penggunaan garam dan makanan tinggi natrium. Contohnya: seafood, makanan olahan, dan makanan kemasan.

Makanan yang dianjurkan:

  1. Beras terutama beras tumbuk/ beras merah, roti tinggi serat (whole wheat bread), sereal, ubi, kentang, dan kue buatan sendiri dengan menggunakan sedikit minyak atau lemak tak jenuh
  2. Ikan, ayam tanpa kulit, daging tanpa lemak, putih telur, susu rendah lemak, yoghurt rendah lemak, dan keju rendah lemak
  3. Tempe, tahu, dan kacang-kacangan
  4. Semua sayuran dalam bentuk segar, direbus, dikukus, disetup, ditumis dengan minyak jagung, minyak kedelai, atau minyak tidak jenuh ganda.
  5. Semua buah dalam keadaan segar

Makanan yang perlu dihindari:

  1. Produk makanan jadi: Pai, cake, croissant, pastri, muffin, roti keju, donat, biskuit, keripik kentang, mi telur, krim kentang, krim pasta, biskuit berlemak, kue berlemak, dan gula sederhana lainnya.
  2. Daging berlemak, daging angsa, daging bebek, ikan goreng, daging babi, daging kambing, jeroan, otak, sosis, sarden, daging kornet, dan kuning telur (maksimal 3x/minggu.
  3. Susu full cream, susu kental manis, krim, yoghurt full cream, keju, es krim, milkshake, dan krimer.
  4. Sumber protein nabati yang dimasak dengan santan dan digoreng dengan minyak jenuh seperti kelapa dan kelapa sawit.
  5. Dibatasi: minyak kelapa, minyak kelapa sawit, mentega, margarin padat (lemak trans), kelapa, santan, krim, lemak babi, bacon, cocoa butter, mayones, dan dressing dibuat dengan telur.
  6. Buah yang diawetkan dengan gula seperti buah kaleng dan buah kering, jelly, selai, sorbet, dan es loli.
  7. Cokelat, es krim, dan soft drink.

Melakukan gaya hidup sehat seperti menjaga pola makan dan berolahraga baik dilakukan untuk mengontrol kadar kolesterol. Olahraga yang perlu diperhatikan untuk menurunkan kolesterol yaitu dengan menggunakan waktu atau durasi berolahraga lebih lama dengan tujuan untuk mengoptimalkan penggunaan lemak sebagai sumber energi. Berikut panduan olahraga untuk mengontrol kadar kolesterol berdasarkan prinsip FITT:

  • Frekuensi: Dilakukan sebanyak 3 - 5 kali/ minggu.
  • Intensitas: Sedang (65%-80% dari DNM). Tidak disarankan intensitas tinggi karena akan mempengaruhi penggunaan komponen energi.
  • Time/ Waktu: Durasi 30 - 60 menit.
  • Tipe Olahraga: Aerobik, seperti jalan cepat atau jogging, senam, renang, atau bersepeda.

Baca juga : Mengenal Dislipidemia

2 Disukai

370 Kali Dibaca