Jumat, 03 Maret 2023 12:30 WIB

Mengenal Diare

picture-of-article

Diare merupakan masalah kesehatan yang melibatkan saluran cerna, yaitu usus. Usus adalah salah satu organ saluran cerna. Fungsi usus untuk mencerna makanan yang dikonsumsi, menyerap nutrisi dan gizi baik ke dalam peredaran darah, mendorong dan membuang hasil makanan yang tidak terpakai oleh tubuh menjadi kotoran. Untuk mendorong sisa makanan hingga keluar dari tubuh, gerakan dorong usus disebut dengan gerakan peristaltik. Gerakan tersebut diciptakan oleh otot-otot, sekat, hingga katup di dalam rongga usus. Keseluruhan proses ini biasanya terjadi antara 24 hingga 72 jam. Gerakan ini sangat berpengaruh pada baik atau tidaknya nutrisi akan diserap tubuh, bentuk dan konsistensi kotoran/feses, dan sensasi rasa nyaman dan nyeri pada perut.

Usus terdiri dari dua bagian yaitu usus kecil dan usus besar. Panjang usus kecil mencapai 8 meter dengan diameter 2 cm. Usus kecil menerima makanan langsung dari lambung. Usus kecil menyerap nutrisi dan air dari makanan kemudian makanan berpindah ke usus besar. Panjang usus besar mencapai 2 meter dengan diameter 6-7 cm. Usus besar melakukan penyerapan nutrisi dan air kembali hingga optimal. Setelah selesai, sisa makanan yang tidak lagi dibutuhkan tubuh akan disimpan pada usus besar dalam waktu lama dan menjadi kotoran untuk dibuang oleh tubuh melalui anus.

Diare adalah kondisi kesehatan ketika seseorang mengalami buang air besar dengan feses yang lunak, tak berbentuk, banyak cairan serta berulang-ulang. Sensasi berulang kali buang air sering disebut mules, perut melilit, hingga nyeri perut oleh penderita. Hal ini dikarenakan gerakan peristaltik otot usus yang semakin cepat namun tidak teratur. Kondisi ini umum terjadi dan biasanya dapat sembuh dengan sendirinya dalam beberapa hari tanpa penanganan khusus. Namun, pada beberapa kasus, diare bisa menjadi masalah kesehatan serius. Diare erat kaitannya dengan kehilangan cairan tubuh yang dapat berujung dehidrasi. Diare yang dialami kurang dari 14 hari disebut diare akut. Sedangkan diare yang dialami lebih dari 14 hari disebut diare kronis.

Diare tidak hanya dapat dibedakan melalui durasi sakitnya, namun juga dibedakan dari gejalanya. Klasifikasi ini dapat membantu menentukan penyebab diare. Umumnya diare akut disebabkan oleh infeksi Infeksi yang sering menyerang pada diare akut adalah infeksi virus dan bakteri. Pada infeksi virus, umumnya diare akan sembuh dengan sendirinya ketika masa infeksi virus selesai, sering disebut self-limiting disease. Pada infeksi bakteri, umumnya penderita akan membutuhkan bantuan terapi antibiotik. Penyebab yang sering muncul pada diare kronis antara lain akibat malabsorbsi, penyakit radang usus (inflammatory bowel disease), dan efek samping obat.

Infeksi bakteri dan virus penyebab diare dapat diperoleh dari kegiatan yang dilakukan penderita seperti riwayat kunjungan dan rawat rumah sakit, riwayat konsumsi makanan minuman kurang bersih dan matang, terpapar sumber air tidak bersih, hingga kontak erat dengan hewan peliharaan. Semua kegiatan tersebut akan semakin berisiko ketika penderita tidak menerapkan kebiasaan cuci tangan dengan baik.

Pada diare kronis, infeksi tidak lagi menjadi penyebab paling utama. Penyebab lain antara lain alergi makanan, intoleransi laktosa, efek samping radioterapi, dampak obat-obatan, psikologis seperti cemas sering disebut irritative bowel syndrome, hingga kanker usus.

Penderita diare sering mengalami gejala seperti:

  • Feses konsistensi lunak dan berair
  • Nyeri perut satu bagian atau seluruh perut
  • Perut kembung
  • Sensasi melilit dan mulas ingin buang air besar
  • Demam
  • Mual muntah

Pada beberapa kondisi, diare bisa menunjukkan gejala yang perlu diwaspadai seperti:

  • Feses mengandung darah atau cairan kehijauan
  • Penurunan berat badan
  • Demam tinggi berhari-hari
  • Nyeri perut hebat
  • Tubuh lemas dan lemah
  • Rasa haus hebat
  • Penurunan kesadaran seperti melantur

Penderita dianjurkan untuk memeriksakan dirinya ke dokter ketika keluhan tidak kunjung membaik dalam 3 hari atau gejala yang perlu diwaspadai muncul.

 

Hal yang paling penting dalam menangani diare adalah mengganti cairan yang hilang dari tubuh. Pada kebanyakan kasus diare umumnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan khusus. Hanya saja, kehilangan cairan berlebih yang dialami harus diganti kembali melalui minum maupun intravena (infus) untuk menjaga keseimbangan cairan, sehingga penderita tidak mengalami dehidrasi. Penderita diare disarankan minum cairan tinggi elektrolit yang dapat dibeli bebas. Pada kondisi lebih berat, seperti mengalami gejala lemas dan sulit minum, pemberian cairan elektrolit melalui infus dapat dipertimbangkan oleh dokter.

Pemberian cairan elektrolit pada penderita diare orang dewasa dapat melakukan hal-hal berikut:

  • Dehidrasi minimal ataupun tidak dehidrasi tidak perlu cairan elektrolit, cukup jaga asupan cairan 2 liter/hari;
  • Dehidrasi ringan sedang ditandai dengan rasa haus dan mudah lelah. Disarankan konsumsi cairan elektrolit 120-140 ml setiap kali diare;
  • Dehidrasi berat ditandai dengan haus namun sulit minum, lemas hingga pingsan, berdebar-debar hingga urin berwarna gelap atau sedikit. Disarankan untuk mencari pertolongan tenaga medis untuk pertimbangan terapi pengganti cairan melalui infus.

Untuk penderita diare pada anak dapat melakukan konsultasi lebih lanjut kepada dokter mengenai kebutuhan pengganti cairan elektrolit.

Ketika sedang mengalami diare, konsumsi makanan rendah serat akan membantu untuk membuat feses lebih padat dan menghindari terbuangnya cairan lebih banyak. Beberapa contoh makanan yang disarankan saat diare antara lain pisang, roti panggang, oatmeal, saus apel, nasi putih, kentang, ayam tanpa kulit, ikan, hingga sup kaldu.

Dokter akan mempertimbangkan pemberian obat anti diare untuk mengurangi gejala dan frekuensi buang air besar. Namun hal ini perlu diperhatikan pada penderita dengan diare berdarah dengan demam tinggi karena berpotensi memperburuk kondisi. Dokter dapat mempertimbangkan pemberian antibiotik empiris seperti golongan sefalosporin, makrolida, fluoroquinolon hingga nitroimidazole pada kondisi diare yang berat. Pemberian suplementasi probiotik terbukti mengurangi tingkat keparahan dan lama gejala pada penderita diare akut.

Pada diare kronis, penanganan dapat dilakukan dengan mengatasi penyakit penyebab yang mendasarinya. Tatalaksana dilakukan setelah jenis feses diare dapat diidentifikasi. Identifikasi dapat berupa pemeriksaan laboratorium feses hingga pencitraan tubuh (imaging). Prosedur lainnya yang sering dilakukan berupa kolonoskopi atau endoskopi.

Diare dapat dicegah dengan menghindari paparan bakteri atau virus, terutama menghindari agar tidak masuk ke saluran cerna. Menerapkan pola hidup bersih dan sehat dapat membantu menghindari paparan infeksi tersebut. Pola hidup bersih dan sehat yang dapat dilakukan meliputi:

  • Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir;
  • Gunakan hand-sanitizer jika tidak tersedia air bersih;
  • Konsumsi makanan dan minuman bersih dan matang;
  • Hindari makanan dan minuman tidak higienis, seperti buah dan sayur yang belum dicuci bersih.

Ketentuan di atas juga dapat menjadi perhatian bagi pelaku perjalanan dalam memilih makanan, minuman dan sumber air untuk dipakai. Pelaku perjalanan yang cenderung berpindah-pindah tempat, belum tentu dapat beradaptasi dengan jenis makanan dan air setempat. Konsumsi air minum kemasan, hindari es batu yang dijual sembarangan, pilih makanan matang, dan rajin menggosok gigi merupakan cara-cara ampuh untuk menjaga pencernaan tetap sehat selama perjalanan.

Bagi orang dengan perasaan mudah cemas dan panik, terkadang diare muncul saat perasaan tersebut datang. Disarankan mengelola pikiran dan perasaan dengan baik dan dapat melakukan konsultasi dengan psikolog. Bagi orang yang mengalami alergi dan intoleransi pada beberapa jenis makanan sehingga menyebabkan diare, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter maupun ahli gizi untuk menemukan pola makan yang lebih sesuai dengan pencernaannya.

Baca juga : Pola Makan Penderita Diare

0 Disukai

386 Kali Dibaca