Kamis, 14 April 2022 10:44 WIB

Demam Tifoid (Tipes)

picture-of-article

Demam merupakan hal yang sering ditemui dan terjadi pada banyak orang. Demam memiliki jenis yang beragam dan berbeda pada setiap orang. Demam merupakan respon tubuh dalam menanggapi proses peradangan atau infeksi pada tubuh, sehingga pola dan keluhan demam mungkin saja berbeda setiap orang dikarenakan perbedaan penyebabnya. Salah satu yang umum kita dengar yaitu demam tifoid atau yang lebih sering dikenal tipes (tifus). Tidak sedikit kasus penyakit ini berhasil mengganggu aktifitas sehari-hari seseorang.

Demam tifoid menjadi masalah serius terutama pada daerah dengan kondisi air hingga makanan yang kurang bersih. WHO sendiri mencatat sekitar 11-20 juta orang di dunia menderita penyakit ini dan merenggut nyawa hingga 160 ribu jiwa setiap tahunnya. Mengingat penyakit ini berkaitan dengan air dan makanan, dapat kita simpulkan bahwa penyakit ini dapat menular di dalam satu populasi melalui hal tersebut.

Demam tifoid atau yang lebih sering dikenal tipes (tifus) adalah penyakit karena infeksi bakteri yang paling umum menyerang pencernaan namun juga organ tubuh lainnya sehingga dapat mengancam nyawa jika tidak diatasi dengan benar.

Demam tifoid sangat menular. Sehingga jika seseorang mengkonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, ia dapat terinfeksi hingga berkembang menjadi penyakit tifoid.

Penyakit ini bisa menyerang segala umur, namun kasus yang paling banyak terjadi pada anak-anak maupun orang yang sering bepergian. Anak-anak menjadi lebih rentan menderita tifoid dikarenakan sistem imun tubuh yang masih berkembang dalam merespon patogen termasuk bakteri. Pada daerah dengan akses kebersihan air dan makanan yang rendah, tifoid pada anak-anak menjadi masalah serius yang harus ditanggapi. Pada orang yang sering bepergian yang belum terbiasa menyeleksi budaya makan pada satu daerah juga berisiko terinfeksi tifoid.

 

Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi. Bakteri ini bersifat anaerob dimana ia dapat berkembang biak tanpa oksigen. Manusia merupakan inang untuk bakteri ini hidup dan berkembang biak.

Bakteri Salmonella typhi terdapat pada feses dari orang yang terinfeksi. Makanan dan air yang tidak bersih memiliki resiko tercemar bakteri tersebut. Salah satu resiko yaitu jika seseorang tidak mencuci tangan dengan benar setelah menggunakan toilet bersama. Pada kehidupan komunitas, penampungan tinja yang terlalu dekat atau bersinggungan langsung dengan akses saluran air bersih dapat menjadi resiko kontaminasi pada air yang dikonsumsi komunitas tersebut.

Penggunaan pupuk alami dari feses yang digunakan pada perkebunan sayur juga salah satu resiko. Maka pastikan sayur mayur mentah yang dikonsumsi sebaiknya dicuci bersih terlebih dahulu.

Demam tifoid memiliki gejala yang berkembang secara perlahan. Biasanya, gejala mulai dirasakan sejak hari ke-5 terinfeksi. Namun jika tidak langsung diobati, gejala mulai dirasakan mengganggu saat memasuki minggu ke-2 hingga ke-3 terinfeksi.

Gejala awal bisa meliputi:

  1. Demam yang semakin tinggi setiap hari secara perlahan
  2. Nyeri kepala
  3. Mudah letih dan lemas
  4. Nyeri otot
  5. Mudah berkeringat
  6. Batuk kering
  7. Penurunan nafsu makan hingga berat badan
  8. Nyeri perut
  9. Diare atau konstipasi
  10. Ruam
  11. Perut membuncit

Jika hal di atas dibiarkan tanpa pengobatan, seseorang bisa mengalami penurunan kesadaran delirium disertai lemah tak berdaya dengan mata sulit untuk dibuka atau yang disebut dengan status tifoid. Hal seperti ini dapat menyebabkan komplikasi organ hingga mengancam nyawa.

Pada penanganan yang kurang baik, penderita mungkin akan merasakan gejala kembali kambuh setelah 2 minggu demam mereda.

Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi yaitu perdarahan saluran cerna. Pada kondisi infeksi berat yang tidak tertangani dengan baik, saluran cerna termasuk usus bisa bocor/berlubang sehingga makanan yang sedang dicerna dapat masuk ke rongga perut yang seharusnya steril. Kejadian ini bisa menimbulkan gejala nyeri perut hebat, mual dan muntah, hingga mengalami tahap infeksi berat yang disebut sepsis.

Komplikasi lainnya yang jarang namun dapat juga terjadi antara lain seperti myocarditis, endocarditis, mycotic aneurysm, pneumonia, pancreatitis, infeksi saluran kemih, meningitis, dan masalah psikologis seperti halusinasi dan paranoid.

Pengobatan demam tifoid yaitu dengan antibiotik tertentu. Sayangnya pada beberapa orang di belahan dunia telah terjadi resisten terhadap antibiotik fluorokuinolon dimana golongan antibiotik ini umum menjadi terapi pilihan pertama demam tifoid. Jenis antibiotik lain yang menjadi pilihan untuk pengobatan demam tifoid seperti golongan sefalosporin maupun jenis azitromisin. Maka penting untuk penderita mematuhi dosis dan durasi konsumsi antibiotik yang disarankan oleh dokter selama masa pengobatan.

Umumnya penderita akan mulai merasakan perbaikan gejala dan keluhan setelah 3-5 hari mengonsumsi antibiotik. Namun tetap harus ingat untuk menyelesaikan durasi konsumsi antibiotik dari dokter untuk menghindari resisten antibiotik dan membunuh bakteri secara tuntas.

Selama masa penyembuhan, diharapkan penderita mengonsumsi cukup cairan dan cukup makanan bergizi. Biasanya penderita merasa lebih mudah makan dengan porsi kecil lebih sering dibandingkan porsi normal.

Tifoid juga bisa kambuh kembali namun kebanyakan dengan gejala yang lebih ringan dan singkat. Ini bisa terjadi setelah 2 minggu demam mereda atau selesai obat antibiotik.

Tifoid dapat dicegah dengan menghindari penyebab penularan. Pastikan minum air matang dan bersih, meningkatkan kebersihan diri secara umum dan kontrol ke dokter secepatnya jika ada gejala mengganggu.

Hingga sekarang WHO telah mengeluarkan vaksin tifoid sebagai salah satu cara pencegahan penularan. Vaksin diperuntukkan kepada orang berusia di atas 2 tahun dan bayi 6 bulan. Namun hingga sekarang belum ada vaksin yang diizinkan untuk bayi 6 bulan sampai 2 tahun.

Yang masih menjadi kelemahan dari vaksin tifoid ini adalah efeknya yang tidak bertahan terlalu lama dalam memberi perlindungan imun. Sehingga vaksin tidak sepenuhnya melindungi seseorang dari terinfeksi tifoid. Maka pola kebiasaan sehat masih menjadi andalan dalam mencegah penyebaran penularan demam tifoid. Beberapa tips yang bisa diterapkan meliputi:

  1. Cuci tangan pada air mengalir, menggunakan sabun setelah menggunakan toilet atau menyentuh benda kotor. Akan lebih baik dengan air hangat. Bawalah hand-sanitizer non alkohol agar bisa mencuci tangan dimanapun.
  2. Pilih air minum terjamin kebersihannya atau kemasan selama bepergian ke daerah lain terutama daerah endemik tifoid, termasuk Indonesia. Hindari mengkonsumsi air mentah secara langsung.
  3. Hindari konsumsi buah dan sayur mentah secara langsung tanpa dicuci bersih. Proses masak atau pemanasan makanan dapat menurunkan resiko adanya bakteri jika makanan terkontaminasi selama proses panen.
  4. Pilih makanan yang sudah dimasak atau dalam kondisi panas untuk memastikan makanan tersebut bebas kontaminasi bakteri.
  5. Hindari es batu kecuali dibekukan dari air yang bersih.
  6. Untuk orang yang sering bepergian pastikan mengenal budaya kebersihan dan makanan daerah tujuan. Mengetahui fasilitas layanan kesehatan terdekat akan sangat membantu saat perjalanan.

Jika penderita tifoid sedang menjalani pengobatan penyembuhan, sebaiknya hindari berbagi makanan langsung atau makan bersama kepada orang lain agar tidak menularkan kontaminasi tifoid dari sentuhan yang terkontaminasi. Dengan demikian pastikan kebersihan tangan selama proses penyembuhan.

Gejala demam pada tifoid memengaruhi sistem pencernaan dan menyebabkan beberapa masalah gizi, seperti:

  • Kehilangan 250–500 gr protein harian dalam jaringan otot.
  • Penipisan cadangan glikogen dengan cepat.
  • Keseimbangan cairan terganggu.
  • Penyerapan zat gizi makanan terganggu.
  • Perdarahan/perforasi usus karena ulserasi.

Tujuan utama asuhan gizi pada tifoid adalah untuk memberikan gizi yang cukup kepada penderita dan mengurangi tekanan pada sistem pencernaan sehingga mengurangi gejala akut. Berikut beberapa ketentuan pola makan bagi penderita tifoid:

  1. Tinggi Kalori. Diet tinggi kalori dianjurkan bagi penderita tifoid untuk mencegah penurunan berat badan yang disebabkan karena demam. Umumnya penderita juga mengalami penurunan nafsu makan sehingga dianjurkan pemberian makanan lunak namun padat gizi. Kemudian, porsi makan diberikan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering 5-6 kali makan.
  2. Tinggi Protein. Protein merupakan sumber makanan pembentuk imunitas, sehingga makanan tinggi protein dibutuhkan untuk melawan infeksi yang ada pada tubuh. Pemilihan jenis protein juga sangat penting agar proses pemulihan lebih cepat. Konsumsi daging sapi sebaiknya dihindari karena memberatkan sistem pencernaan. Telur ayam, ikan, dan produk olahan susu menjadi anjuran sumber protein.
  3. Karbohidrat. Karbohidrat yang dibutuhkan bagi penderita tifoid adalah yang mudah dicerna dan kaya vitamin mineral seperti kentang rebus.
  4. Lemak. Lemak yang dibutuhkan bagi penderita tifoid adalah lemak yang mengandung omega-3 untuk membantu mengurangi peradangan di tubuh.
  5. Cairan. Penderita tifoid umumnya mengalami demam dan diare yang menyebabkan dehidrasi. Penderita banyak kehilangan cairan sehingga kebutuhan cairan meningkat. Dehidrasi pada tifoid dapat menyebabkan banyak komplikasi selama perawatan. Dianjurkan pemenuhan cairan 3-4 liter sehari untuk memperbaiki serta menjaga keseimbangan elektrolit dalam tubuh.

Makanan yang dianjurkan bagi penderita tifoid, antara lain:

  1. Makanan yang menarik dan mudah dicerna: Makanan yang menarik penting untuk meningkatkan nafsu makan. Sedangkan makanan yang mudah dicerna akan membantu mengurangi beban sistem saluran pencernaan. Contohnya sup dan air kaldu.
  2. Sumber karbohidrat: Nasi tim, bubur, roti bakar, kentang rebus, dan biskuit.
  3. Sumber protein hewani:  Telur rebus/dadar, hati ayam, daging ayam, ikan, dan susu rendah lemak dianjurkan dengan proses pengolahan rebus, tumis, kukus, dan panggang.
  4. Sumber protein nabati: Tahu, tempe, susu kedelai dianjurkan dengan proses pengolahan tim, rebus, dan tumis.
  5. Sayuran: Sayuran berserat rendah dan sedang seperti kacang panjang, buncis muda, bayam, labu siam, tomat masak, dan wortel dengan proses pengolahan direbus, dikukus, dan ditumis.
  6. Buah-buahan: Semua sari buah serta buah segar yang matang (tanpa kulit dan biji) dan tidak banyak menimbulkan gas. Contohnya: pepaya, pisang dan alpukat.
  7. Lemak: Margarin, mentega, dan minyak dalam jumlah terbatas untuk menumis atau mengoles.
  8. Minuman: Teh manis dan madu.
  9. Bumbu: Garam, gula, salam, lengkuas, dan kunyit dalam jumlah terbatas.

 Makanan yang sebaiknya dihindari bagi penderita tifoid, antara lain:

  1. Pangan yang berbau dan memiliki rasa yang tajam seperti bawang putih dan merica.
  2. Makanan yang asam dan pedas seperti, cabai, saus sambal, merica dan cuka.
  3. Berserat tinggi seperti daun pepaya, kangkung, dan ubi.
  4. Mengandung gas seperti sawi, kembang kol, durian, nangka, nanas, lobak dan paprika.

Baca juga : Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien GGK

0 Disukai

248 Kali Dibaca