Jumat, 29 September 2023 09:04 WIB

Kanker Nasofaring

picture-of-article

Kanker Nasofaring adalah tipe kanker kepala dan leher, yang dimulai dari Nasofaring yaitu bagian teratas dari tenggorokan di belakang hidung dekat dasar tulang kepala, berperan sebagai saluran udara dari hidung ke tenggorokan.

 

Terdapat 2 jenis tipe tumor jinak (bukan kanker) dan ganas (kanker). Jenis terbanyak dari Kanker Nasofaring adalah Carcinoma Nasopharingeal (NPC) yang dimulai dari sel epitelial Nasopharing, dimana terdiri dari 4 jenis:

  • Keratinizing Squamous Cell Carcinoma, kasus terbanyak dengan tingkat keparahan rendah..
  • Non-Keratinizing Differentiated Carcinoma, kasus lebih jarang, tingkat keparahan tinggi berhubungan dengan infeksi Epstein-Barr Virus (EBV).
  • Non-Keratinizing Undifferentiated Carcinoma, kasus terbanyak tingkat keparahan tinggi berhubungan dengan infeksi Epstein-Barr Virus (EBV)
  • Basaloid Squamous Cell Carcinoma, kasus langka dan sangat agresif.

Terapi untuk 4 jenis kanker nasofaring diatas adalah sama, dalam pemberian terapi yang sangat berperan adalah stadium kanker (sel kanker berkembang dan menyebar). 

Selain carcinoma terdapat  3 kanker lainnya  yang dapat terjadi di nasofaring yaitu limfoma (kanker sel sistem kekebalan), sarkoma dan melanoma.

Secara statistik, kasus kanker nasofaring jarang terjadi, <1 per 100 ribu orang setiap tahunnya. Risiko kanker nasofaring meningkat dengan usia, namun dapat terjadi di semua usia, dan pria memiliki risiko 2-3x lebih tinggi dari wanita.

Infeksi Epstein-Barr Virus berhubungan dengan angka kejadian  kanker nasofaring, selain dikarenakan faktor genetika.Sehingga untuk deteksi dini mulai berkembang pemeriksaan untuk mengetahui DNA EBV dalam darah diharapkan suatu saat sebagai bentuk pencegahan nantinya dapat dilakukan dengan vaksin.

Penanganan. Kemoterapi dan imunoterapi.

  • Benjolan atau massa di leher, benjolan kedua sisi leher hingga ke belakang leher.
  • Gangguan pendengaran (penurunan, bunyi mendenging, nyeri dan rasa penuh di telinga), di satu sisi.
  • Infeksi telinga berulang.
  • Sumbatan dan rasa penuh di hidung.
  • Mimisan
  • Sakit kepala
  • Nyeri dan kebas daerah wajah 
  • kesulitan membuka mulut
  • Penglihatan buram dan ganda
  • Kesulitan bernafas dan bicara
  • Penggalian catatan kesehatan dan pemeriksaan fisik untuk mencari gejala dan tanda yang disebutkan diatas.
  • Pemeriksaan Nasofaring baik tidak langsung dan langsung oleh dokter spesialis THT, jika sulit dapat dilakukan CT Scan dan MRI.
  • Biopsi, beberapa metode dapat dipilih untuk penegakkan diagnosis yaitu Endoskopi Biopsi, Fine Needle Aspiration (FNA) Biopsy. 
  • Pemeriksaan darah PD-L1 protein dilakukan saat ditemukan tanda-tanda metastasis.
  • Pemeriksaan penunjang: Rontgen dada (mencari kemungkinan penyebaran ke Paru), CT Scan, MRI, PET Scan.
  • Pemeriksaan lain yang dilakukan sebelum dilakukan terapi kanker nasofaring, yaitu EBV DNA level, Pememriksaan darah dan kimia darah lengkap, EKG, tes fungsi paru, tes pendegaran, tes nutrisi dan bicara.

Klasifikasi stadium TNM (sistem tumor-kelnjar-metastasis) American Joint Committee on Cancer (AJCC) 2010, Edisi 7 untuk Kanker Nasofaring dalam Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) 2010:

Berdasarkan TNM (sistem tumor-kelenjar-metastasis) tersebut, stadium penyakit dapat dikelompokkan berdasarkan American Joint Committee on Cancer (AJCC) 2010 dapat dilihat pada Tabel berikut ini:

Keterangan :

  • Sadium 0 = Tumor terbatas di nasofaring, tidak ada pembesaran, tidak ada metastasis jauh.
  • Stadium II = Tumor terbatas di nasofaring, metastasis kelenjar getah bening unilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6 cm, diatas fossa supraklavikula, tidak ada metastasis jauh. Terjadi perluasan tumor ke rongga hidung tanpa perluasan ke parafaring, metastasis kelenjar getah bening unilateral. Disertai perluasan ke parafaring, tidak ada pembesaran dan metastasis kelenjar getah bening unilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6 cm, diatas fossa supraklavikula, tidak ada metastasis jauh.
  • Stadium III = Tumor terbatas di nasofaring, metastasis kelenjar getah bening bilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6 cm, diatas fossa supraklavikula, dan tidak ada metastasis jauh.
  • Stadium IV A = Tumor dengan perluasan intrakranial dan / atau terdapat keterlibatan saraf kranial, fossa infratemporal, hipofaring, orbita atau ruang mastikator. Tidak ada pembesaran dan metastasis kelenjar getah bening unilateral serta metastasis kelenjar getah bening bilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6 cm, diatas fossa supraklavikula. Tidak ada metastasis jauh.
  • Stadium IV B = Tumor primer, tidak tampak tumor, tumor terbatas di nasofaring, tumor meluas ke jaringan lunak, perluasan tumor ke orofaring dan / atau rongga hidung tanpa perluasan ke parafaring, disertai perluasan ke parafaring, tumor menginvasi struktur tulang dan / atau sinus paranasal, tumor dengan perluasan intrakranial dan / atau terdapat keterlibatan saraf kranial, fossa infratemporal, hipofaring, orbita atau ruang mastikator. Metastasis kelenjar getah bening bilateral dengan ukuran lebih besar dari 6 cm, atau terletak di dalam fossa supraklavikula. Tidak ada pembesaran.
  • Stadium IV C = Tumor primer, tidak tampak tumor, tumor terbatas di nasofaring, tumor meluas ke jaringan lunak, perluasan tumor ke rongga hidung tanpa perluasan ke parafaring. Bisa jadi disertai perluasan ke parafaring, tumor menginvasi struktur tulang dan atau sinus paranasal, tumor dengan perluasan intrakranial dan atau terdapat keterlibatan saraf kranial, fossa infratemporal, hipofaring, orbita atau ruang mastikator. Selain itu dapat juga pembesaran kelenjar getah bening regional, pembesaran kelenjar getah bening tidak dapat dinilai, tidak ada pembesaran, metastasi kelenjar getah bening unilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6 cm, diatas fossa supraklavikula, metastasis kelenjar getah bening bilateral, dengan ukuran terbesar kurang atau sama dengan 6 cm, diatas fossa supraklavikula, Metastasis kelenjar getah bening bilateral dengan ukuran lebih besar dari 6 cm, atau terletak di dalam fossa supraklavikula, ukuran lebih dari 6 cm, di dalam supraklavikula, dan terdapat metastasis jauh. (Soepardi et al, 2012).
  •  

1. Jenis Diet

Diet yang diberikan bagi penderita kanker adalah Diet Tinggi Kalori Tinggi Protein (TKTP) (Almatsier, 2004). Pada pasien kanker nasofaring selama pengobatan, seringkali kehilangan nafsu makan, mual, muntah, diare, pembengkakan pada mulut, kesulitan menelan dan lain sebagainya yang menyebabkan pasien perlu asupan makanan tinggi kalori dan tinggi protein untuk meningkatkan kekebalan tubuh penderita dan mengurangi efek yang lebih parah dari pengobatan kanker (Moore, 2002).

2. Tujuan Diet

Tujuan diet penyakit kanker adalah untuk mencapai dan mempertahankan status gizi optimal dengan cara :

  1. Memberikan makanan yang seimbang sesuai dengan keadaan penyakit serta daya terima pasien.
  2. Mencegah atau menghambat penurunan berat badan secara berlebihan.
  3. Mengurangi rasa mual, muntah dan diare.
  4. Mengupayakan perubahan sikap dan perilaku sehat terhadap makanan oleh pasien dan keluarganya.

3. Syarat Diet

Syarat-syarat diet penyakit kanker adalah sebagai berikut :

  • Energi tinggi, yaitu 36 Kcal/kg BB untuk laki-laki dan 32 Kcal/kg BB untuk perempuan. Apabila pasien dalam keadaan gizi kurang, maka kebutuhan energi menjadi 40 Kcal/kg BB untuk laki-laki dan 36 Kcal/kg BB untuk perempuan.
  • Protein tinggi yaitu 1-1,5 g/kg BB.
  • Lemak sedang, yaitu 15-20% dari kebutuhan energi total.
  • Karbohidrat cukup, yaitu sisa dari kebutuhan energi total.
  • Vitamin dan mineral cukup, terutama vitamin A, B kompleks, C dan E. Bila perlu ditambah dalam bentuk suplemen.
  • Rendah iodium bila sedang menjalani medikasi radioaktif internal.
  • Bila imunitas menurun (leukosit < 10 ul) atau pasien akan menjalani kemoterapi agresif, pasien harus mendapat makanan yang steril.
  • Porsi makan diberikan dalam porsi kecil dan sering. (Almatsier, 2004).

Baca juga : Mineral Makro

2 Disukai

402 Kali Dibaca