Jumat, 12 Januari 2024 10:17 WIB

Kanker Pencernaan

picture-of-article

Sistem pencernaan adalah bagian tubuh manusia yang berfungsi untuk mencerna serta mengolah makanan. Anatomi sistem pencernaan ini terdiri dari beberapa organ tubuh, terdiri atas esofagus, lambung, duodenum, usus besar, anus, hati, limpa dan pankreas. Gejala kanker pada organ-organ ini sering disalah artikan sebagai gangguan pencernaan. Karena sistem pencernaan terdiri dari banyak organ, jenis kanker yang sering dialami juga berbeda-beda. Kanker sistem pencernaan yang tersering yaitu kanker usus besar (kolon) dan kanker rektum. Kanker usus besar kadang-kadang disebut kanker kolorektal. Istilah ini menggabungkan kanker usus besar dan kanker rektum.

Kanker kolon yang menyerang hingga ke anus atau rektum sering disebut dengan kanker kolon. Kasus ini cukup banyak ditemui dan mengalami peningkatan beberapa tahun terakhir.

Kanker kolon biasanya tidak menimbulkan gejala awal, sehingga banyak penderita yang terlambat dan baru menyadari dirinya mengidap penyakit ini ketika sel kanker telah menyebar.

Kanker kolon terbagi menjadi beberapa stadium berdasarkan tingkat keparahannya. Penjelasan dari setiap stadium kanker usus besar adalah sebagai berikut:

  • Stadium awal: sel kanker baru tumbuh pada satu area di lapisan dalam usus besar. Pada tahap ini, kanker usus besar cenderung masih mudah diobati.
  • Stadium 1: sel kanker membesar dibandingkan dengan stadium awal dan sudah tumbuh ke lapisan tengah jaringan usus besar.
  • Stadium 2: sel kanker tumbuh hingga lapisan luar usus besar.
  • Stadium 3: sel kanker telah menyebar ke beberapa area pada lapisan luar usus besar.
  • Stadium 4: sel kanker telah tumbuh pada lapisan dinding luar usus besar dan menyebar ke organ tubuh lain.

Penyebab kanker kolon adalah mutasi genetik. Mutasi genetik ini belum diketahui penyebabnya. Namun, ada beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya mutasi genetik dan menyebabkan pertumbuhan sel kanker pada usus besar. Faktor risiko kanker kolon adalah sebagai berikut:

  • Berusia lebih dari 50 tahun.
  • Memiliki riwayat polip usus besar.
  • Riwayat keluarga yang pernah menderita kanker usus besar.
  • Peradangan pada usus besar.
  • Penyakit diabetes.
  • Berat badan berlebih atau obesitas.
  • Kebiasaan merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Pernah melakukan perawatan radioterapi di area perut.
  • Kurang melakukan aktivitas fisik.
  • Jarang mengonsumsi makanan berserat.

Kanker kolon biasanya baru menimbulkan gejala ketika sel kanker sudah makin berkembang. Gejalanya bervariasi, tergantung pada ukuran dan lokasi kanker. Beberapa gejala kanker kolon yang dapat muncul adalah:

  • Perubahan kebiasaan buang air besar, seperti lebih sering diare atau sembelit.
  • Pendarahan rektal atau darah pada tinja.
  • Ketidaknyamanan yang berkelanjutan di area perut, seperti kram, gas, atau nyeri.
  • Buang air besar terasa tidak tuntas.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Kelemahan atau kelelahan.
  • Berat badan turun tanpa sebab yang jelas.

Kanker kolon dapat terdeteksi sedini mungkin melalui skrining. Dengan begitu, peluang sembuh dari penyakit ini semakin besar. Ada beberapa macam skrining untuk kanker kolon, yaitu:

  • Pemeriksaan tinja
    Pemeriksaan tinja yang meliputi tes darah samar dan deteksi sel kanker pada tinja, dapat dilakukan untuk mendeteksi dini kanker kolon. Tergantung jenisnya, dokter dapat menyarankan agar skrining dilakukan tiap 1–3 tahun sekali.
  • Sigmoidoskopi
    Sigmoidoskopi dilakukan dengan memasukkan selang tipis berkamera (sigmoidoskop) dari anus ke bagian bawah kolon. Tes ini dilakukan tiap 5–10 tahun sekali, disertai tes darah samar setiap tahun.
  • Kolonoskopi
    Prosedur kolonoskopi hampir sama seperti sigmoidoskopi. Bedanya, selang yang digunakan pada kolonoskopi memiliki ukuran lebih panjang. Prosedur ini disarankan untuk dilakukan tiap 10 tahun sekali.
  • Kolonoskopi virtual (CT colonography)
    Kolonoskopi virtual dilakukan dengan menggunakan mesin CT scan. Tes ini menampilkan gambar usus besar secara keseluruhan untuk dianalisis. Kolonoskopi virtual disarankan untuk dilakukan tiap 5 tahun sekali.

Pada pasien yang menunjukkan gejala kanker kolon, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan berikut:

  • Kolonoskopi
    Kolonoskopi dilakukan untuk memeriksa seluruh bagian rektum dan kolon. Jika diduga terdapat kelainan di area rektum atau kolon, dokter akan melakukan biopsi (pengambilan sampel jaringan) di area tersebut, untuk kemudian dianalisis di laboratorium.
  • Pemeriksaan tumor pada jaringan yang dibiopsi
    Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi gen, protein, atau zat lain yang terkait dengan sel tumor. Tes ini dapat membantu dokter menentukan metode pengobatan yang akan dilakukan.
  • Tes darah
    Tes darah dilakukan untuk menghitung kadar sel darah merah, agar diketahui apakah terjadi perdarahan pada rektum atau kolon. Tes darah juga dilakukan untuk menghitung kadar carcinoembryonic antigen (CEA), yang bisa menjadi tanda perkembangan stadium kanker.

Pemindaian
Pemindaian dapat dilakukan dengan USG, CT scan, PET scan, atau MRI, untuk melihat lokasi dan ukuran sel kanker, serta apakah kanker telah menyebar ke organ tubuh lain.

Kanker kolon sering kali tidak memunculkan gejala jika masih pada tahap awal. Oleh sebab itu, konsultasikanlah dengan dokter mengenai perlunya skrining kanker kolon, terutama jika Anda memiliki risiko untuk terkena kanker kolon.

Orang yang berusia di atas 45 tahun disarankan untuk menjalani skrining kanker kolon secara berkala. Namun, diskusikan terlebih dulu dengan dokter mengenai jenis skrining yang tepat serta jadwal skriningnya.

Pengobatan kanker kolorektal tergantung pada kondisi kesehatan pasien, serta lokasi dan stadium kanker. Berikut ini adalah beberapa metode pengobatan kanker kolorektal:

Operasi

Operasi adalah metode utama untuk mengatasi kanker kolorektal. Ada beberapa jenis operasi yang dapat dipilih oleh dokter, yaitu:

  • Polipektomi, untuk mengangkat polip kolorektal berukuran kecil melalui prosedur kolonoskopi
  • Endoscopic mucosal resection, untuk mengangkat polip kolorektal dan lapisan dalam usus besar, melalui kolonoskopi
  • Bedah laparoskopi, untuk mengangkat polip yang tidak dapat ditangani dengan prosedur kolonoskopi
  • Partial colectomy, untuk memotong bagian usus besar yang terserang kanker, bersama sebagian jaringan sehat di sekitarnya

Pada pasien yang menjalani pengangkatan bagian kolon atau rektum yang terkena kanker, dokter akan melakukan anastomosis, yaitu penyatuan masing-masing ujung saluran cerna yang sudah dipotong dengan cara dijahit.

Jika bagian kolon yang sehat hanya tersisa sedikit dan tidak mungkin disambung, dokter akan melakukan pembuatan lubang di dinding perut untuk jalan keluar tinja (kolostomi) dan menempelkan kantong di bagian luar dinding perut. Tinja pasien akan keluar melalui stoma dan tertampung di kantong yang ditempelkan.

Kolostomi bisa bersifat sementara atau permanen. Kolostomi sementara dilakukan hingga bagian kolon yang dipotong pulih. Sedangkan kolostomi permanen dilakukan pada pasien yang telah menjalani pengangkatan rektum secara keseluruhan.

Operasi pengangkatan kanker kolorektal dapat diikuti dengan operasi pengangkatan kelenjar getah bening, untuk melihat apakah kelenjar tersebut sudah terkena kanker.

Kemoterapi

Kemoterapi adalah pemberian obat-obatan untuk membunuh atau menghancurkan sel kanker. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum operasi untuk mengecilkan ukuran kanker agar mudah diangkat. Selain itu, kemoterapi juga bisa dilakukan setelah operasi untuk mengurangi risiko kanker kolorektal kembali kambuh.

Dokter dapat meresepkan obat tunggal atau kombinasi obat, seperti fluorouracil, capecitabine, regorafenib dan oxaliplatin. Bila diperlukan, dokter dapat mengombinasikan obat kemoterapi dengan terapi target.

Terapi target

Terapi target adalah pemberian obat-obatan yang secara spesifik menargetkan gen, protein, atau jaringan tubuh yang berkontribusi dalam perkembangan sel-sel kanker. Obat yang digunakan dalam terapi target berfungsi untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dan mencegah kerusakan lebih lanjut pada sel-sel yang sehat.

Obat yang digunakan dalam terapi target dapat berupa obat tunggal atau kombinasi. Jenis obatnya antara lain bevacizumab, regorafenib, dan cetuximab.

Imunoterapi

Imunoterapi adalah pemberian obat-obatan yang merangsang daya tahan tubuh untuk melawan sel kanker. Terapi ini biasanya ditujukan untuk pasien kanker kolorektal stadium lanjut.

Imunoterapi bekerja dengan dua cara, yaitu:

  • Obat yang mendorong sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel kanker dengan lebih efektif
  • Obat dengan kandungan senyawa buatan, yang meniru cara kerja sistem kekebalan tubuh

Radioterapi

Radioterapi atau terapi radiasi adalah pengobatan yang menggunakan sinar-X atau proton untuk membunuh sel kanker. Radioterapi dapat dilakukan dengan menembakkan sinar radiasi dari mesin radioterapi ke lokasi kanker, atau dengan menempatkan material radioaktif ke dalam tubuh pasien (brakiterapi).

Radioterapi bisa dilakukan sebelum operasi untuk menciutkan ukuran kanker, atau setelah operasi untuk menghancurkan sel kanker yang mungkin tertinggal. Jika diperlukan, radioterapi dapat dikombinasikan dengan kemoterapi.

Ablasi

Ablasi digunakan untuk menghancurkan kanker yang yang telah menyebar ke hati (liver) atau paru-paru dan berdiameter kurang dari 4 cm. Ada empat teknik ablasi yang dapat digunakan untuk menangani kanker kolorektal, yaitu:

  • Radiofrequency ablation, yaitu teknik ablasi dengan menggunakan gelombang radio berfrekuensi tinggi
  • Microwave ablation, yaitu teknik ablasi dengan memanfaatkan suhu tinggi dari gelombang mikro elektromagnetik
  • Ethanol ablation, yaitu teknik ablasi yang dilakukan dengan menyuntikkan alkohol tepat ke area tumor, menggunakan bantuan USG atau CT scan
  • Cryosurgery atau cryotherapy, yaitu teknik ablasi yang dilakukan dengan membekukan tumor, menggunakan nitrogen cair

Embolis

Asi

Embolisasi digunakan untuk menghancurkan kanker kolorektal yang telah menyebar ke liver dan berdiameter lebih dari 5 cm. Teknik ini bertujuan untuk menyumbat arteri liver yang memberi asupan nutrisi dan oksigen ke kanker. Embolisasi dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:

  • Embolisasi arteri, yang dilakukan dengan memasukkan zat penyumbat arteri melalui kateter
  • Kemoembolisasi, yang dilakukan dengan mengombinasikan embolisasi arteri dengan kemoterapi
  • Radioembolisasi, yang dilakukan dengan mengombinasikan embolisasi arteri dengan radioterapi

Belum diketahui bagaimana cara mencegah kanker kolorektal. Namun, Anda bisa mengurangi risiko terkena kanker kolorektal dengan melakukan beberapa hal berikut:

  • Mengonsumsi biji-bijian, buah, dan sayur
  • Berolahraga rutin, sedikitnya 30 menit sehari
  • Mengurangi asupan makanan berlemak dan makanan cepat saji
  • Menghentikan kebiasaan merokok dan konsumsi minuman beralkohol
  • Mempertahankan berat badan ideal
  • Mengelola diabetes dengan baik (jika ada)

Baca juga : Mineral Mikro

0 Disukai

163 Kali Dibaca