- Diabetes Mellitus Tipe 1
- Kerusakan sel beta pada pankreas secara menyeluruh. Pankreas tidak menghasilkan hormon insulin sama sekali.
- Biasanya mengenai pada anak-anak dan remaja, tapi bisa juga terjadi pada orang dewasa.
- Faktor penyebab yaitu karena rusaknya sistem kekebalan tubuh (autoimun) atau infeksi virus.
- Diabetes Mellitus Tipe 2
- Disebut juga diabetes life sytle (karena gaya hidup yang tidak sehat).
- Resistensi insulin (adanya hambatan pada kerja hormon insulin).
- Defisiensi insulin (jumlah insulin yang diproduksi pankreas tidak mencukupi).
- Paling banyak dialami, sekitar 90-95% penderita diabetes didunia merupakan DM Tipe 2.
- Diabetes Mellitus Gestasional
- Muncul pada masa kehamilan (biasanya minggu ke 24 kehamilan).
- Biasanya menghilang setelah melahirkan.
- Perlu penanganan yang baik agar tidak berdampak buruk pada ibu dan bayi.
- Polidipsi (sering haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya)
- Polifagi (sering merasa sangat lapar, nafsu makan meningkat)
- Poliuri (sering buang air kecil terutama malam hari)
- Lemas (kurang tenaga)
- Berat badan turun tanpa penyebab yang jelas
- Kesemutan di kaki
- Gatal-gatal terutama di lipatan paha
- Luka yang tidak sembuh-sembuh
- Disfungsi Ereksi
- Penglihatan kabur
- Beberapa tidak merasakan gejala
Gejala Diabetes Mellitus pada Rongga Mulut
Keluhan di dalam rongga mulut dapat timbul pada pasien DM yang belum terdeteksi, Diabetisi yang tidak terkontrol, dan pada Diabetisi dengan pengobatan DM yang tidak adekuat/tidak cukup. Keluhan DM pada rongga mulut yang dapat terjadi pada Diabetisi yang tidak terkontrol adalah sebagai berikut:
- Sialosis atau pembesaran kelenjar liur asimptomatik (tanpa gejala). Hal ini biasanya terjadi pada orang dengan gangguan toleransi glukosa atau awal terjadinya DM.
- Xerostomia atau rasa kering dalam mulut yang subjektif.
- Kandidiasis atau adanya jamur di dalam mulut.
- Infeksi jaringan penyangga gigi (mulai dari gingivitis sampai terjadinya periodontitis) dan frekuensi terjadinya lubang gigi/karies gigi yang lebih tinggi.
Hal tersebut di atas berkaitan dengan adanya kadar glukosa yang lebih tinggi pada penderita DM, yang jika terfermentasi menjadi lingkungan yang cocok untuk tumbuhnya kuman penyebab lubang gigi dan penyebab terjadinya infeksi jaringan penyangga gigi/periodontal.
- Diabetes Mellitus Tipe 1
- Memiliki keluarga dengan riwayat DM Tipe 1 (10 %)
- Sebanyak 30-50% kembar identik terkena
- Biasanya mengenai pada anak-anak dan remaja, tapi bisa juga terjadi pada orang dewasa.
- Diabetes Mellitus Tipe 2
- Obesitas (kegemukan)
- Gaya hidup kurang gerak
- Memiliki keluarga dengan riwayat DM
- Usia > 45 th (risiko meningkat seiring bertambahnya usia)
- Memiliki tekanan darah tinggi ( >= 140/90 mmhg)
- Pola makan tidak sehat (gizi tidak seimbang: tinggi karbohidrat dan lemak, rendah serat)
- Memiliki riwayat Diabetes Gestasional (riwayat melahirkan bayi dengan BB > 4 kg)
- Memiliki riwayat penyakit PCOS (Polycystic Ovarial Syndrome)
- Diabetes Mellitus Gestasional
- Riwayat keluarga dengan DM
- Riwayat melahirkan dengan berat badan bayi > 4 kg
- Obesitas (kegemukan)
Seseorang dikatakan Diabetisi (orang yang terdiagnosis diabetes mellitus) jika:
- Terdapat gejala:
- Sering merasa haus, sering merasa lapar, sering buang air kecil (disebut gejala klasik).
- Ditambah dengan hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) >= 200 mg/dl.
- Terdapat gejala:
- Sering merasa haus, sering merasa lapar, sering buang air kecil.
- Ditambah dengan hasil pemeriksaan kadar Gula Darah Puasa (GDP) 8 - 10 jam >= 126 mg/dl.
- Ada gejala atau tidak ada gejala, namun hasil pemeriksaan TTGO (Tes Toleransi Glucosa Oral) memperlihatkan hasil kadar gula darah 2 jam sesudah minum 75 gr glukosa khusus >= 200 mg/dl.
Komplikasi Jangka Pendek
- Hiperglikemia
Hiperglikemia adalah keadaan ketika kadar gula darah tinggi (lebih dari 200 mg/dL) dalam waktu yang panjang. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan organ tubuh penderita. Komplikasi ini dapat terjadi ketika pasien mengabaikan atau membiarkan kadar glukosa dalam darah tetap tinggi, tidak melakukan terapi insulin, atau karena pola makan dan hidup yang tidak memperhatikan penanganan penyakit diabetes.
Menurut American Diabetes Association (2018), tanda dan gejala hiperglikemia antara lain:
-Poliurea (sering kencing);
-Polifagia (cepat lapar);
-Polidipdi (sering haus);
-Gula darah atau glukosa tinggi.
Pencegahan pada hiperglikemia meliputi:
-Minum lebih banyak air, sehingga membantu menghilangkan kelebihan gula darah melalui urin dan membantu mengatasi dehidrasi;
-Melakukan aktifitas fisik dan berolahraga, sehingga dapat membantu menurunkan gula dalam darah dan mengubahnya menjadi energi;
-Melakukan pemeriksaan rutin gula darah setiap saat.
- Hipoglikemia
Kebalikan dari hiperglikemia adalah hipoglikemia, yaitu penderita diabetes melakukan penanganan yang salah sehingga kadar glukosa dalam darah menjadi terlalu rendah (kurang dari 70 mg/dL). Perilaku yang bisa memicu hal ini antara lain melewatkan jam makan dan olahraga serta lupa mengkonsumsi obat diabetes dan tidak disiplin dalam perawatan diabetes.
Menurut American Diabetes Association (2018), hipoglikemia biasanya ditandai dengan gejala:
-Pusing;
-Rasa lapar yang berat;
-Gemetar;
-Berkeringat;
-Gelisah;
-Pandangan kabur;
-Sulit berkonsentrasi;
-Kelelahan.
Hipoglikemia dapat dikelompokkan sesuai tingkat keparahannya, yaitu:
a. Hipoglikemia berat yaitu pada keadaan pasien yang membutuhkan bantuan pemberian karbohidrat dan glukagon dari orang lain;
b. Hipoglikemia sistomatik yaitu apabila gula darah sewaktu < 70mg/dL dan disertai gejala hipoglikemia;
c. Hipoglikemia asimtomatik yaitu apabila gula darah sewaktu <70mg/dL dan tanpa gejala hipoglikemia;
d. Hipoglikemia relative yaitu apabila gula darah sewaktu >70mg/dL dengan gejala hipoglikemia;
e. Probable hipoglikemia yaitu apabila gejala hipoglikemia tanpa pemeriksaan gula darah sewaktu.
Pencegahan pada kasus hipoglikemia meliputi:
-Pemberian edukasi mengenai tanda dan gejala hipoglikemia;
-Melakukan pemantauan gula darah secara mandiri;
-Pemberian edukasi tentang obat antidiabetes oral yang dikonsumsi pasien mengenai golongan obat,dosis obat dan frekuensi pemakaian obat.
- Ketoasidosis Diabetik
Ketoasidosis terjadi saat tubuh tidak mampu menggunakan glukosa/gula darah sebagai energi karena kekurangan insulin. Saat sel-sel tubuh kekurangan energi, mereka akan menggunakan cadangan lemak sebagai energi. Saat jaringan lemak terganggu, terbentuklah zat keton (racun) dalam tubuh. Kondisi ini bisa mengakibatkan kesulitan bernapas, sakit perut parah, dan juga dehidrasi. Penderita harus ditangani segera agar tidak berlanjut semakin parah.
Tanda dan gejala ketoasidosis diabetic menurut Menurut American Diabetes Association (2018) adalah:
-Frekuensi buang air kecil meningkat;
-Sering haus;
-Kelelahan;
-Napas cepat dan berbau keton;
-Mual dan muntah.
Pencegahan pada keadaan ketoasidosis diabetik meliputi:
-Menjaga pola makan;
-Pemeriksaan kadar gula darah secara rutin;
-Pemantauan pada penggunaan obat antidiabetes oral dan obat-obatan yang lain yang dikonsumsi oleh pasien DM;
-Mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
Komplikasi Jangka Panjang
Kalau tidak ditangani dengan baik, semakin lama seseorang menderita penyakit diabetes, semakin tinggi pula risikonya mengalami komplikasi. Semakin baik pasien mengontrol kadar glukosa tetap normal, semakin kecil risikonya. Dalam jangka panjang, komplikasi akibat diabetes umumnya berhubungan dengan kerusakan saluran pembuluh darah. Diabetes yang berlarut-larut dalam jangka panjang dapat menyebabkan pembuluh darah menyempit. Ini menyebabkan volume aliran darah ke berbagai bagian tubuh seperti mata, ginjal, jaringan saraf, dan lain sebagainya menjadi berkurang. Akibatnya, bagian-bagian tubuh tersebut mengalami kerusakan fungsi yang serius.
- Kerusakan pada Mata. Diabetes Mellitus yang terlalu berlarut tidak tertangani dapat merusak pembuluh darah di mata. Akibatnya, mata mengalami gangguan seperti katarak, glaukoma, kerusakan retina, hingga kebutaan yang sifatnya permanen.
- Masalah pada Kulit dan Kaki. Rusaknya jaringan saraf dan pembuluh darah akan membatasi aliran darah terutama ke kulit dan kaki. Luka kecil di kaki atau kulit bisa dengan mudah berubah menjadi luka infeksi yang sangat parah, menjalar dan membesar. Jika tidak ditangani serius, luka tersebut akan semakin menyebar dan merusak hingga dalam keadaan terparah, bagian tersebut harus diamputasi.
- Masalah Jantung Koroner. Penderita Diabetes Mellitus berisiko tinggi terkena penyakit jantung. Risiko serangan jantung pada penderita diabetes sama dengan orang yang pernah terkena serangan jantung sebelumnya. Beberapa masalah pada jantung dan penyempitan pembuluh darah yang berhubungan dengan diabetes antara lain adalah stroke, kerusakan pembuluh arteri, tekanan darah tinggi, dan masalah kolesterol tinggi.
- Penyakit pada Ginjal (Nefropati). Ginjal adalah organ yang rawan terserang penyakit pada penderita diabetes mellitus. Penyakit pada ginjal atau nefropati lebih sering terjadi pada pasien dengan DM dibandingkan dengan pasien tanpa DM. Hal ini terjadi dikarenakan kerusakan pembuluh darah kecil di ginjal yang menyebabkan kerja ginjal kurang efisien atau bahkan gagal ginjal.
Neuropathy adalah keadaan matinya kepekaan di bagian tubuh karena kurang berfungsinya saraf. Gula yang berlebih pada tubuh dapat merusak saraf dan jaringan pembuluh di kaki dan tangan, menyebabkan kesemutan, mati rasa, sakit atau sensasi seperti terbakar. Pada kondisi mati rasa yang parah, penderita diabetes bahkan tidak dapat merasakan rasa sakit jika tergores, hingga akhirnya sadar saat luka tersebut melebar dan terinfeksi.
Beberapa gejala neuropathy yang paling umum diantaranya gangguan keseimbangan, keringat berlebihan, disfungsi ereksi, penurunan libido, sembelit, penyakit pembuluh darah otak (ateosklerosis serebri).
2 Komentar
Urutkan berdasarkan yang terbaik
BagikanTks atas penjelasan tentang DM
Tks utk perhatiannya