Kamis, 25 Februari 2021 18:31 WIB

Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

Tujuan pengelolaan DM secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup Diabetisi. Tujuan pengelolaan DM meliputi:        

  1. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko komplikasi akut.
  2. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati dan makroangiopati.
  3. Tujuan akhir pengelolaan DM adalah turunnya morbiditas (sakit) dan mortalitas (kematian) DM.        

Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan, dan kolesterol melalui pengelolaan DM pasien secara komprehensif.        


Langkah-Langkah Pengelolaan DM Umum
Perlu dilakukan evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama, meliputi:

  • Riwayat penyakit: usia dan karakteristik saat mulai terjadinya DM, pola makan, status gizi, status aktivitas fisik, riwayat perubahan berat badan, pengobatan yang pernah diperoleh sebelumnya, pengobatan yang sedang dijalani termasuk obat yang digunakan, perencanaan makan dan program latihan jasmani, riwayat infeksi sebelumnya, dan faktor risiko lain.
  • Pemeriksaan fisik: pengukuran tinggi badan, berat badan, tekanan darah, pemeriksaan funduskopi (mata), pemeriksaan jantung, evaluasi nadi, pemeriksaan kaki secara komprehensif. 
  • Evaluasi laboratorium: pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam setelah TTGO (Tes Toleransi Glukosa Oral), pemeriksaan HbA1c (kadar glukosa darah dalam 3 bulan terakhir).

Langkah-Langkah Pengelolaan DM Khusus

  • Edukasi penerapan pola hidup sehat (pengelolaan gizi medis dan aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi farmakologis (pengobatan) dengan obat anti hiperglikemia secara oral (diminum) dan/atau suntikan.
  • Pengetahuan tentang pemantauan mandiri, tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada diabetisi.
  • Berikut pengelolaan khusus DM, meliputi:
    • Edukasi. Hal ini sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari pengelolaan DM.
    • Terapi Gizi Medis. Diabetisi perlu mengetahui pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis, dan jumlah kandungan kalori.
    • Latihan Fisik. Latihan fisik dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas hormon insulin.
    • Pengobatan. Pengobatan diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Pengobatan terdiri dari obat yang diminum (OAD = Obat Antidiabetik) dan suntik (insulin). 

Diet untuk Diabetisi sama seperti untuk orang biasa. Diabetisi tidak perlu diet khusus. Diet sehat terdiri dari banyak makan sayuran dan cukup buah-buahan, konsumsi lauk pauk yang mengandung protein tinggi, serta batasi konsumsi panganan manis, asin, dan berlemak. Pastikan bahwa diet sehat dan menjaga kebiasaan makan yang sehat untuk mengontrol kadar gula darah dengan 3J (Jadwal, Jumlah, Jenis).  


Pola Makan Diabetisi Saat Puasa

  • Harus atas seizin dokter terlebih dahulu karena terkait obat dan insulin yang dikonsumsi.
  • Jika terjadi hipoglikemi (gula darah < 70 mg/dl), dianjurkan untuk langsung berbuka sesuai dengan cara mengatasi hipoglikemi.
  • Mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka agar waktu puasa tidak lebih lama dari waktu yang ditentukan sehingga gula darah tetap stabil.
  • Berbukalah dengan buah-buahan seperti buah potong.
  • Jangan meninggalkan makan sahur.        

Waktu makan dan distribusi makanan bagi yang puasa sebaiknya diatur sebagai berikut: 

  1. Buka puasa: 50% kebutuhan kalori dalam sehari.
    • Sebelum shalat maghrib: makanan yang ringan/segar (misal: 3 biji kurma);
    • Sesudah sholat: makanan utama (makanan lengkap, misal nasi + pepes ikan mas + tempe bacem + sayur asem + lalap + jeruk manis).
  2. Sesudah tarawih: 10% kebutuhan kalori dalam sehari (misal: pisang rebus + teh tanpa gula).
  3. Sahur: 40% kebutuhan kalori sehari (misal: sup kacang merah wortel + kentang + steak daging + setup brokoli buncis + apel).

Mengatasi Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah kondisi dimana kadar glukosa darah terlalu rendah yaitu kurang dari 70 mg/dl. Hal ini dapat terjadi karena:

  1. Minum obat tablet atau menggunakan obat suntik (insulin) disertai mengonsumsi makanan yang terlalu sedikit.
  2. Latihan fisik terlalu berat sehingga kadar glukosa darah turun terlalu rendah.
  3. Terlambat makan.
  4. Mengonsumsi obat anti diabetes tidak sesuai petunjuk dokter.
     

Gejala-gejala yang muncul:

  1. Rasa lapar
  2. Gemetar
  3. Berdebar-debar
  4. Keringat dingin
  5. Bicara pelo
  6. Pandangan kabur
  7. Tidak sadar

Jika terjadi hipoglikemi, yang harus dilakukan adalah minum air dengan gula yang bukan merupakan pemanis buatan, misalnya teh manis, sirup, air gula, dll. Kemudian dianjurkan untuk segera makan dengan porsi seharusnya sesuai piring T.


Tips Mengatasi Rasa Lapar

  1. Makan dengan frekuensi sering namun porsi kecil.
  2. Konsumsilah air putih hangat ketika lapar namun belum berjarak 3 jam dari makan sebelumnya.
  3. Kunyahlah permen karet tanpa gula untuk memuaskan rasa ingin mengunyah.

Melakukan aktivitas fisik diyakini dapat membantu seseorang untuk mengurangi risiko penyakit tidak menular, seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, dan DM. Aktivitas fisik dibagi menjadi 3 bagian yaitu: 

  1. Aktivitas fisik ringan: Duduk bekerja di depan komputer, mencuci piring, memasak, menyapu, mengepel. 
  2. Aktivitas fisik sedang: Jalan cepat pada permukaan datar, bersepeda pada permukaan datar, berenang.
  3. Aktivitas fisik berat: Jogging, berlari, bulutangkis kompetitif.        

Untuk mencapai kesehatan yang optimal, maka lakukan olahraga atau latihan fisik pada jenis aktivitas fisik sedang. Lakukan olahraga yang efektif dan direkomendasikan untuk dilakukan oleh Diabetisi.

Melakukan olahraga teratur dan terstruktur dapat membantu mengontrol kadar gula darah, hal ini dikarenakan ketika Diabetisi berolahraga maka akan terjadi kontraksi otot yang bisa memicu peningkatan sensitivitas insulin dan resistensi insulin pun berkurang.

Guna mendapatkan hasil yang optimal dalam mengontrol kadar gula darah, maka Diabetisi perlu memperhatikan dosis olahraga yang diatur berdasarkan 4 prinsip latihan yaitu Frequency, Intensity, Time, Type atau disingkat menjadi FITT.


  1. Frequency: 3-5 kali per minggu.
    Hal ini dikarenakan peningkatan sensitivitas insulin akan terjadi hanya setiap kali melakukan olahraga, tidak merupakan efek yang menetap, dan berlangsung lama.
     
  2. Intensity: Denyut Nadi Latihan (DNL) = 65 – 80%
    Melakukan olahraga dengan intensitas sedang (DNL antara 65%- 80%) merupakan batas aman karena tidak memberikan kerja jantung yang berlebihan sehingga Diabetisi bisa melakukan olahraga dengan durasi lebih lama.
    Untuk Diabetisi yang memiliki riwayat olahraga kurang teratur maka disarankan untuk memulai olahraga dengan intensitas ringan - sedang seperti jalan kaki. Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan adaptasi tubuh terhadap aktivitas olaharaga.
    Intensitas saat berolahraga dapat dilihat dengan cara menghitung denyut nadi, rumusnya yaitu dengan mengetahui denyut nadi maksimal terlebih dahulu. Denyut Nadi Maksimal (DNM) = 220 - Usia.        
    Contoh: Menghitung DNL 65% - 80% pada Diabetisi usia 55 tahun
    DNM = 220 - Usia = 220 - 55 = 165 kali/menit
    DNL (65%) = 165 x 65% = 107 kali/menit
    DNL (80%) = 165 x 80% = 132 kali/menit
    Jadi, diabetisi dengan usia 55 tahun direkomendasikan melakukan olahraga dengan DNL antara 107-132. Silakan gunakan kalkulator Denyut Nadi pada menu berikut ini: Yakes Health Center.
     
  3. Time: Minimal 30 menit per sesi latihan atau 150 menit/minggu. Direkomendasikan 45 menit/sesi latihan.
    Pengaturan waktu dalam dosis latihan untuk DM berhubungan erat dengan intensitas. Waktu yang butuhkan untuk mengontrol DM harus dilakukan minimal 30 menit. Bahkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Patrick (2019) menyebutkan bahwa melakukan olahraga seperti berjalan dan bersepeda selama 45 menit per sesi dengan intensitas 65% dapat membantu menurunkan massa lemak, peningkatan lemak baik (HDL), dan peningkatan status kebugaran pada penyandang DM tipe 2.
     
  4. Type
    Diabetisi disarankan melakukan olahraga yang bersifat aerobik (memerlukan oksigen banyak), seperti jalan cepat, senam aerobik, yoga, bersepeda, dan berenang. Hal ini dikarenakan olahraga tersebut dilakukan secara terus-menerus dan melibatkan otot-otot besar yang akan membantu meningkatkan sensitivitas insulin. Pelaksanaan olahraga perlu dilakukan secara berurutan yaitu mulai dari peregangan dan pemanasan (5 - 10 menit), latihan inti, serta pendinginan.

Pengobatan diberikan bersama dengan pengaturan makan dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Pengobatan terdiri dari Obat Antidiabetik Oral (minum) dan Suntik Insulin.

  1. Obat Antidiabetes (OAD) Oral
    Berdasarkan cara kerjanya, OAD dibagi beberapa golongan, yaitu:
    • Sulfonilurea
      Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi insulin oleh sel beta pankreas. Efek samping utama adalah hipoglikemia dan peningkatan berat badan. Hati-hati menggunakan sulfonilurea pada pasien dengan risiko tinggi hipoglikemia (orang tua, gangguan fungsi hati dan ginjal). Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah Glibenclamide, Glimepiride, Glipizide, Gliclazide.
    • Glinid
      Obat yang cara kerjanya mirip dengan sulfonilurea, namun beda lokasi reseptor, dengan hasil akhir berupa penekanan pada peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 (dua) macam obat yaitu Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat melalui hati. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemia post prandial. Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah Repaglinide.
    • Biguanid
      Obat ini dapat mengurangi produksi glukosa hati (glukoneogenesis) dan memperbaiki  ambilan glukosa di jaringan perifer. obat ini merupakan pilihan pertama pada sebagian besar kasus DM Tipe 2. Yang termasuk dalam golongan ini adalah Metformin.
    • Tiazolidinedion (TZD)
      Obat ini dapat menurunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa sehingga meningkatkan ambilan glukosa di jaringan perifer. Obat golongan ini dapat meningkatkan retensi cairan tubuh sehingga dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung (NYHA Fungsional Class III - IV) karena dapat memperberat edema/retensi cairan. Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah Pioglitazone.
    • Penghambat Alfa Glukosidase
      Obat ini bekerja dengan menghambat kerja enzim alfa glukosidase di saluran pencernaan sehingga menghambat absorbsi glukosa dalam usus halus. Efek samping yang mungkin terjadi berupa bloating (penumpukan gas dalam usus) sehingga sering menimbulkan flatus. Guna mengurangi efek samping pada awalnya diberikan dosis kecil. Contoh obat golongan ini adalah acarbose. 
    • Penghambat enzim Dipeptidyl Peptidase-4 (DPP-4 inhibitor)
      Obat ini dapat memperbaiki toleransi glukosa, meningkatkan respons insulin dan mengurangi sekresi glukagon. Yang termasuk dalam golongan ini adalah: vildagliptin, linagliptin, saxagliptin, sitagliptin dan alogliptin.
    • Penghambat enzim Sodium Glucose co-Transporter 2 (SGLT-2 inhibitor)
      Obat ini bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi glukosa di tubulus proksimal dan meningkatkan ekskresi glukosa melalui urin. Obat yang termasuk dalam golongan ini adalah Liraglutide, Semaglutide, Lixisenatide, Albiglutide.

Berikut Tabel Obat Antidiabetes Oral (OAD) yang tersedia di Indonesia: 

Golongan Obat Cara Kerja Obat Efek Samping Utama Penurunan HbA1c
Metformin Menurunkan produksi glukosa hati dan meningkatkan sensitivitas terhadap insulin  Dispepsia, diare, asidosis laktat 1,0 - 1,3%
Tiazolidinedion  Meningkatkan sensitivitas terhadap insulin Edema 0,5 - 1,4%
Sulfonilurea Meningkatkan sekresi insulin BB naik, hipoglikemia 0,4 - 1,2%
Glinid Meningkatkan sekresi insulin BB naik, hipoglikemia 0,5 - 1,0%
Penghambat Alfa-Glukosidase Menghambat absorpsi glukosa Flatulen, tinja lembek 0,5 - 0,8%
Penghambat DPP-4 Meningkatkan sekresi insulin dan menghambat sekresi glukogon Muntah 0,5 - 0,9%
Penghambat SGLT-2 Menghambat reabsorbsi glukosa di tubulus distal Infeksi saluran kemih dan genital 0,5 - 0,9%

 

  1. Suntik Insulin
    Insulin digunakan pada keadaan:
    • HbA1c saat diperiksa >9% atau 7,5% dan sudah menggunakan satu atau dua OAD.
    • Penurunan berat badan yang cepat.
    • Hiperglikemia berat ( kadar glukosa darah > 240 mg/dl) yang disertai ketoasidosis.
    • Krisis hiperglikemia.
    • Gagal dengan kombinasi OAD dosis optimal.
    • Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OAD.
    • Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat.
    • Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, infark miokard akut, stroke).

Jenis dan lama kerja insulin:
Berdasarkan lama kerja, insulin terbagi menjadi 6 jenis:

  • Insulin kerja cepat (rapid-acting insulin)
  • Insulin kerja pendek (short-acting insulin)
  • Insulin kerja menengah (intermediate-acting insulin)
  • Insulin kerja panjang (long-acting insulin)
  • Insulin kerja Ultra panjang (ultra long-acting insulin)
  • Insulin campuran tetap, kerja pendek dengan menengah dan kerja cepat dengan menengah (premixed insulin)
     
  1. Kombinasi OAD dengan Suntik Insulin
    • Apabila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai dengan kombinasi 2 (dua) macam obat OAD, maka dapat diberikan kombinasi 2 (dua) macam OAD dengan insulin.
    • Kombinasi OAD dengan insulin dimulai dengan pemberian insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang). Insulin kerja menengah harus diberikan jam 10 malam menjelang tidur, sedangkan insulin kerja panjang dapat diberikan sejak sore sampai sebelum tidur, atau diberikan pada pagi hari.
    • Pendekatan terapi ini pada umumnya dapat mencapai kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin yang cukup kecil. Dosis awal insulin basal untuk kombinasi adalah 6 - 10 unit. Kemudian evaluasi kadar glukosa darah puasa keesokan harinya. Dosis insulin dapat dinaikkan secara perlahan, pada umumnya 2 unit apabila kadar glukosa darah puasa belum mencapai target.

Salah satu cara terpenting agar Diabetisi tetap dapat memiliki keadaan gigi dan mulut yang baik adalah dengan tetap rutin memeriksakan keadaan rongga mulut ke dokter gigi. Penting untuk tetap menjaga keadaan di dalam rongga mulut untuk selalu terkontrol agar komplikasi dari kondisi DM seperti gigi goyang dapat dihindari.        
Hal yang perlu disiapkan oleh Diabetisi saat akan melakukan perawatan gigi dan mulut ke dokter gigi adalah sebagai berikut:

  1. Diabetisi harus terus mengontrol kadar gula darahnya dengan mengkonsumsi obat DM secara rutin, mengecek kadar gula darahnya secara rutin, dan menjaga dietnya.
  2. Saat membuat perjanjian ke dokter gigi, Diabetisi memberikan informasi lengkap ke dokter gigi yang akan merawat tentang hal di bawah ini:
    • Obat–obatan apa saja yang sedang dikonsumsi.
    • Hasil kadar gula darah yang rutin dilakukan.
    • Keluhan–keluhan sistemik serta keluhan rongga mulut yang dirasakan dalam 1 minggu terakhir.
  3. Saat akan membuat perjanjian, minta agar perawatan dibuat di pagi hari agar kondisi badan fit jasmani dan tidak stres.
  4. Diabetisi sangat disarankan untuk makan terlebih dahulu sebelum dilakukan perawatan gigi, agar kadar gula darah stabil selama dan setelah proses perawatan rongga mulut selesai. Dianjurkan juga membawa makanan atau minuman ringan untuk dapat dikonsumsi sebagai antisipasi jika Diabetisi harus menunggu lama di ruang tunggu klinik.        

Keempat poin di atas diperlukan agar dokter gigi dapat menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan untuk Diabetisi sejak awal perawatan sampai selesai.

Berikut ini adalah jenis tindakan gigi dan mulut yang dapat dilakukan pada Diabetisi dan hal-hal yang perlu diperhatikan:

Jenis Perawatan Gigi dan Mulut di Dokter Gigi

Hal yang Diperhatikan untuk Diabetisi
Selama Perawatan Selesai Perawatan
Pembersihan karang gigi/skeling
  • Tindakan pembersihan dilakukan tidak terlalu lama.
  • Pembersihan karang gigi minimal sekali masuk ke dalam jaringan gusi / periodontal.
  • Tidak boleh terlalu sering berkumur selama 1 jam pasca pembersihan karang gigi.
  • Obat – obat rutin DM tetap diminum seperti biasa.
  • Tetap konsumsi makanan dan minuman seperti biasa.
Penambalan gigi
  • Sebelum perawatan dimulai, sebaiknya Diabetisi sudah mengkonsumsi makanan / minuman ringan agar gula darah tetap stabil.
  • Tindakan penambalan dapat dilakukan seperti biasa.
  • Jika kasus penambalannya sulit, maka tindakan bisa dilakukan dalam beberapa kali kunjungan.
  • Tambalan tidak boleh dipakai makan selama 1 jam.
  • Obat–obat rutin DM tetap diminum seperti biasa.
  • Tetap konsumsi makanan dan minuman seperti biasa setelah 1 jam perawatan.
Perawatan saluran akar gigi
  • Sebelum perawatan dimulai, sebaiknya Diabetisi sudah mengkonsumsi makanan/minuman ringan agar gula darah tetap stabil.
  • Tindakan perawatan saluran akar memerlukan waktu panjang sehingga diperlukan beberapa kali kunjungan.
  • Tambalan sementara tidak boleh dipakai makan selama 1 jam.
  • Obat – obat rutin DM tetap diminum seperti biasa.
  • Tetap konsumsi makanan dan minuman seperti biasa setelah 1 jam perawatan.
Pencabutan gigi
  • Diperlukan adanya beberapa pemeriksaan penunjang seperti: tes Hba1c (untuk melihat gambaran kadar glukosa 2-3 bulan terakhir), rontgen gigi, dan tes laboratorium lain sesuai kondisi medis Diabetisi.
  • Diabetisi diberikan pengobatan antibiotik sebagai tindakan pencegahan/profilaktik.
  • Pengaturan waktu pencabutan pada pagi hari untuk menghindari meningkatnya kadar stres.
  • Sebelum perawatan dimulai, sebaiknya Diabetisi sudah mengonsumsi makanan/minuman ringan agar gula darah tetap stabil.
  • Ikuti instruksi dokter gigi untuk menggigit kapas padat / tampon di area pasca pencabutan selama 1 jam.
  • Obat – obat rutin DM tetap diminum seperti biasa.
  • Tetap konsumsi makanan dan minuman seperti biasa setelah 1 jam perawatan
Perawatan kawat gigi
  • Tidak dianjurkan untuk Diabetisi melakukan perawatan kawat gigi/orthodontik karena perawatan ini memerlukan waktu panjang.
  • Sangat disarankan untuk konsultasi terlebih dahulu mengenai kondisi medis yang dialami Diabetisi ke dokter spesialis penyakit dalam.
-

Reaksi psikologi yang muncul pada Diabetisi diantaranya:

  • Merasa kewalahan dengan tuntutan pengelolaan DM diri.
  • Merasa frustrasi, lelah, marah, kelelahan, dan mood yang buruk.
  • Sulit mengikuti rutinitas yang rumit.
  • Sulit melakukan self-management dalam mengontrol gula darah.

Tidak hanya itu, situasi lainnya yang berkaitan dengan keluarga antara lain juga dapat menyebabkan distress bagi Diabetisi, seperti:

  • Ketidakmampuan anggota keluarga untuk memahami perasaan Diabetisi membuat pada akhirnya Diabetisi merasa memberatkan keluarga.
  • Diferensiasi makanan dan pembatasan makanan oleh anggota keluarga juga dapat menambah kesulitan.
  • Tidak adanya diskusi yang kondusif dengan keluarga dan teman juga akan memperburuk situasi.
  • Komunikasi Diabetisi dengan anggota keluarga mungkin sulit dilakukan karena Diabetisi tidak ingin membuat anggota keluarga merasa tidak enak"        

Oleh karena itu, penting bagi Diabetisi dan juga keluarga untuk mengelola dengan baik kondisi psikologis selama proses perawatan DM.

Apa bentuk penanganan psikologi yang dapat dilakukan?        

  1. Akui perasaan yang dimiliki. Normal bagi Diabetisi untuk mengalami emosi negatif dan positif. Hampir setiap orang dengan DM pernah merasa frustrasi atau stres dari waktu ke waktu. Tetapi ketika perasaan tersebut berlebihan dan bertahan lebih dari satu atau dua minggu, hal itu menandakan bahwa Anda membutuhkan bantuan untuk menangani emosi negatif tersebut.
  2. Berbicaralah dengan tim perawatan diabetes. Mendapatkan bantuan dari tim perawatan kesehatan diabetes (dokter, perawat, pendidik diabetes, atau psikolog) penting untuk menangani distress yang muncul akibat diabetes. Tim perawatan kesehatan tersebut dapat membantu Diabetisi dengan mengembangkan rencana manajemen yang tepat untuk mengatasi tantangan yang akan dihadapi. Berbicara dengan tenaga kesehatan yang tepat dapat membantu mengatasi perasaan tertekan yang muncul pada Diabetisi.
  3. Dapatkan dukungan dari keluarga dan kerabat. Berbicaralah dengan keluarga dan kerabat terdekat terkait perasaan yang muncul. Jujur dengan perasaan yang ada dan sampaikan kepada mereka dukungan apa yang dibutuhkan (kebanyakan keluarga tidak tahu apa yang bisa mereka lakukan dan mungkin Diabetisi hanya ingin seseorang mendengarkan curhat Anda). Jika merasa tidak nyaman untuk bercerita dengan keluarga, cobalah bergabung dengan support group yang ada di Rumah Sakit atau lokasi terdekat untuk bercerita dan mendapatkan dukungan dari mereka. Menceritakan dengan orang lain yang mengalami pengalaman serupa dapat memberikan dukungan yang berbeda. Diabetisi yang mendapat dukungan dapat mengelola diabetesnya dengan lebih baik dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
  4. Tetapkan harapan yang realistis. Ada banyak hal yang perlu dilakukan terkait perawatan DM dan hal tersebut dapat menyebabkan kewalahan. Cobalah untuk melakukan satu hal dalam satu waktu, beberapa langkah kecil dapat membawa pada perbaikan yang besar. Sebagai contoh, minggu ini Diabetisi dapat memulai rutinitas untuk mengecek gula darah secara teratur 4 kali sehari, setelah rutinitas ini menjadi kebiasaan bagi Diabetisi, minggu berikutnya Diabetisi memulai rutinitas baru seperti berjalan 20 menit dalam sehari.
  5. Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disenangi. Hal ini bisa dilakukan dengan menelepon teman, bermain games dengan kerabat, menonton TV, atau mengerjakan hal-hal lainnya yang menyenangkan. Sangat penting untuk meluangkan waktu dan melakukan hal yang Diabetisi senangi.        

Ingatlah bahwa penting bagi Diabetisi untuk memperhatikan perasaan. Emosi yang terkelola dengan baik membantu Diabetisi patuh terhadap treatment yang diberikan. 
Jika menyadari bahwa diri Anda merasa frustrasi, lelah, dan tidak dapat membuat keputusan tentang perawatan diabetes, maka segera lakukan tindakan. Beri tahu keluarga, teman, dan penyedia layanan kesehatan agar mereka dapat membantu Anda mendapatkan dukungan yang dibutuhkan.

Baca juga : Mengenal Diabetes Mellitus