Jumat, 19 Maret 2021 19:53 WIB

Halitosis

Halitosis atau bau mulut merupakan salah satu penyakit yang disebabkan karena kurangnya kebersihan dan kesehatan rongga mulut yang dapat terjadi secara fisiologis dan patologis.

Halitosis berasal dari gas Volatile Sulphur Compounds atau VSCs  yang merupakan hasil produksi bakteri anaerob yang bereaksi dengan protein-protein yang ada dalam rongga mulut karena adanya inflamasi/peradangan. Protein di dalam mulut dapat diperoleh dari kandungan air liur itu sendiri, sisa-sisa makanan yang mengandung protein, sel-sel darah yang telah mati, bakteri yang mati maupun sel-sel epitel yang terkelupas dari jaringan rongga mulut.

  1. Sebesar 80 – 90% berasal dari rongga mulut. Faktor berasal dari rongga mulut, antara lain:
    • Kebersihan mulut yang buruk seperti adanya karang gigi.
    • Periodontitis, yaitu adanya pembusukan protein dari sisa makanan dan pembusukan jaringan pada kantong gusi.
    • Karies gigi, yaitu terjadinya pembusukan sisa makanan oleh bakteri di dalam karies. 
    • Gigi yang mengalami kematian jaringan saraf gigi sehingga menyebabkan pembusukan.
    • Gingivitis, biasanya akan muncul rasa nyeri pada saat menyikat gigi dan kadang timbul pendarahan sehingga  menurunkan kebersihan mulut yang berakibat terkumpulnya plak dan darah pada gusi.
    • Sariawan, adanya luka pada dinding rongga mulut yang akan menimbulkan rasa sakit terutama bila tersentuh sehingga menurunkan perilaku kebersihan gigi dan mulut.
    • Gigi tiruan yang kotor.  
    • Glossitis, yaitu peradangan pada lidah yang parah yang meningkatkan terkumpulnya plak pada lidah.
    • Kanker rongga mulut yang disertai perdarahan spontan. 
    • Mulut kering/xerostomia.
  2. Sebesar 10 – 20% berasal dari luar rongga mulut. Faktor yang berasal dari luar rongga mulut, antara lain: 
    • Berbagai infeksi dari saluran napas antara lain seperti bronchitis, pneumonia. 
    • Pecandu alkohol.
    • Penderita diabetes melitus.
    • Gangguan fungsi ginjal. 
    • Penyakit yang bersumber dari hidung dan tenggorokan seperti sinusitis kronis.
    • Gangguan hati (liver).
    • Gangguan gastrointestinal.
  3. Faktor-faktor lainnya:
    • Makanan/minuman
    • Kebiasaan merokok
    • Menstruasi, yaitu berhubungan dengan adanya perubahan hormonal sehingga menyebabkan xerostomia.

Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menilai dan mencari penyebab bau mulut, yaitu:

  1. Halimeter, menganalisis kandungan sulfur total dari udara mulut pasien.
  2. GC-SCS Oral Chroma, untuk mengukur konsentrasi gas-gas volatile sulfur compound (VSC) individual sehingga dapat memudahkan untuk membedakan bau mulut patologis dan bau mulut fisiologis.

Berdasarkan Treatment Needs (TN), penanganan pada halitosis dikategorikan menjadi: 

  1. TN-1 instruksi oral hygiene yang benar, yaitu: sikat gigi yang benar, penggunaan dental floss, pembersihan permukaan lidah, dan kumur antiseptic/air garam hangat.
  2. TN-2 berupa oral profilaksis yang dilakukan oleh dokter gigi, yaitu: pembersihan karang gigi (skeling & penghalusan akar) dan perawatan untuk penyakit mulut khususnya penyakit periodontal.
  3. TN-3 bau mulut disebabkan karena patologis sistemik, dilakukan rujukan ke dokter umum atau dokter spesialis.
  4. TN-4 kasus pseudo halitosis berupa penjelasan hasil data pemeriksaan dan edukasi oral hygiene.
  5. TN-5 kasus halitophobia, yaitu berupa rujukan ke psikolog klinis atau psikiater.

Berikut adalah cara mencegah terjadinya halitosis:

  1. Berkumur setelah makan dan menggosok gigi tiga menit setelah makan serta bersihkan sela-sela gigi dengan dental floss.
  2. Bersihkan permukaan lidah dengan sikat gigi halus, sikat lidah, atau skrap lidah (tongue scraper).
  3. Perhatikan kebersihan gigi palsu. Dilepas saat tidur dan lakukan perendaman gigi palsu dalam larutan antiseptik. 
  4. Jaga selalu kebersihan rongga mulut dan lakukan pemeriksaan rutin minimal setiap 6 bulan sekali ke dokter gigi. 
  5. Jangan makan terlalu kenyang terutama saat makan malam dan dianjurkan mengonsumsi makanan yang tidak terlalu berminyak.
  6. Kurangi/hentikan konsumsi alkohol dan merokok. 
  7. Bagi lansia dianjurkan banyak mengonsumsi buah-buahan segar untuk merangsang sekresi/produksi air liur.
  8. Kunyah permen karet bebas gula selama 1–2 menit, terutama bila mulut terasa kering.
  9. Minum air putih yang cukup dan jangan mengonsumsi kopi berlebihan yang dapat menyebabkan bau yang sulit keluar dari lidah.
  10. Berkumur-kumur dengan menggunakan obat kumur antiseptik sesuai arahan dokter gigi atau dengan air garam hangat.
     

Baca juga : Penanggulangan dan Pengendalian Hipertensi