Rabu, 14 Juli 2021 10:09 WIB

Impaksi Gigi

Impaksi gigi adalah gigi yang tidak dapat tumbuh ke posisi fungsional normalnya atau gigi yang sebagian atau seluruhnya tidak tumbuh dan posisinya berlawanan dengan gigi lainnya, Terjadinya impaksi membuat jalan tumbuh normalnya gigi terhalang oleh tulang dan jaringan lunak, terblokir oleh gigi sebelahnya, atau dapat juga oleh karena adanya jaringan patologis. Dampaknya, menimbulkan rasa sakit hingga meningkatkan risiko infeksi. Impaksi juga bisa menyebabkan kerusakan dan resorpsi (kerusakan akar gigi) yang sehat. Nyeri di belakang rahang dan adanya pembengkakan mengindikasikan gigi bungsu yang mulai tumbuh atau terjadi impaksi.

Penyebab impaksi gigi bermacam-macam diantaranya kekurangan ruang tumbuh, kista, gigi supernumerary (gigi tambahan/berlebih), infeksi, trauma, anomali, dan kondisi sistemik. Faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya impaksi gigi adalah ukuran gigi. Sedangkan faktor yang paling erat hubungannya dengan ukuran gigi adalah bentuk gigi.

Pertumbuhan gigi dapat terhambat yang disebabkan oleh:

  • Akibat gigi itu sendiri, seperti: posisinya miring, horizontal, terbalik arah.
  • Pengaruh sekitar gigi, seperti: tulang rahang tebal, terjepit gigi di sebelahnya, adanya gigi susu yang tidak tanggal sehingga menghalangi arah tumbuh gigi tetap penggantinya.

 

Gigi yang sering mengalami impaksi adalah gigi posterior (geraham bungsu) dan jarang pada gigi anterior (gigi seri dan taring). Kasus impaksi pada gigi geraham bungsu sering terjadi pada usia 17-25 tahun.

  1. Pada gigi posterior (geraham), yang sering mengalami impaksi adalah:
    • Gigi geraham (molar) bungsu rahang bawah.
    • Gigi geraham (molar) bungsu rahang atas.
    • Gigi geraham kecil (premolar) rahang atas.
    • Gigi geraham kecil (premolar) rahang bawah.
  2. Sedangkan gigi anterior (seri dan taring) dapat terjadi pada;
    • Gigi taring rahang atas dan rahang bawah.
    • Gigi seri rahang atas dan rahang bawah.

Masalah yang sering dikeluhkan dengan adanya impaksi gigi geraham bungsu yaitu merasa kurang nyaman melakukan hal-hal yang berhubungan dengan rongga mulut.
Tanda-tanda umum dan gejala terjadinya gigi impaksi ialah:

  • Inflamasi, yaitu pembengkakan di sekitar rahang dan warna kemerahan pada gusi di sekitar gigi yang diduga impaksi.
  • Resorpsi (pengikisan) gigi sebelahnya karena letak benih gigi yang abnormal.
  • Kista folikuler (kapsul yang menyelubungi benih gigi).
  • Rasa sakit atau perih di sekitar gusi atau rahang. 
  • Sakit kepala yang lama (neuralgia).
  • Fraktur rahang (patah tulang rahang).
  • Kadang disertai sakit kepala yang lama (neuralgia).

Semua dokter gigi sepakat menyarankan untuk dicabut, bila dibiarkan ada risiko terjadi abses gigi, pembusukan gigi, perikoronitis (radang sekitar mahkota gigi bungsu), hingga kista atau tumor pada gusi.
Jika pengobatan dan perawatan tidak bisa mengatasi masalah pada gigi bungsu, maka mau tidak mau pencabutan gigi bungsu jadi solusi selanjutnya. Nama tindakannya yaitu odontektomi, yaitu operasi pencabutan gigi yang terbenam. Pencabutan gigi bungsu bukannya tanpa alasan. Tindakan ini bisa mencegah komplikasi yang lebih serius karena gigi bungsu yang tumbuh abnormal, seperti kista, penyakit gusi, atau infeksi.
 

Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Operasi Impaksi Gigi 

Salah satu persiapan paling penting sebelum menjalani operasi cabut gigi adalah konsultasi ke dokter. Sebelum operasi benar-benar dilakukan, cobalah untuk menanyakan beberapa pertanyaan berikut ini ke dokter:

  • Apa tipe anestesi yang akan diterima?
  • Seberapa rumit prosedur pencabutan yang akan dilakukan?
  • Berapa lama pencabutan tersebut berlangsung?
  • Akankah gigi geraham tersebut memicu kerusakan pada gigi lainnya?
  • Adakah risiko yang akan dapatkan seperti kerusakan saraf?
  • Adakah perawatan gigi yang harus dilakukan setelah operasi?
  • Berapa lama penyembuhan setelah operasi dan kapan bisa memulai aktivitas?
  • Apakah membutuhkan seseorang untuk menemani dalam perjalanan pulang ke rumah akibat efek anestesi yang diberikan?
  • Haruskah datang lebih awal untuk berjaga-jaga jika ada beberapa pemeriksaan awal?
  • Haruskah berpuasa sebelum operasi? Jika ya, berapa lama harus berpuasa?
  • Apakah ada obat-obatan tertentu yang perlu dihindari sebelum proses operasi?
     

Persiapan Sebelum Operasi Gigi Geraham Bungsu
Dokter akan lebih dulu memeriksa rongga mulut dan kondisi gigi serta menanyakan riwayat kesehatan dan kondisi tubuh secara umum. Bila sedang rutin minum obat antibiotik atau obat lainnya, beritahu dokter soal hal tersebut. Begitu pula bila punya riwayat medis tertentu, seperti alergi obat anestesi, penyakit diabetes, hipertensi, atau gangguan pembekuan darah.

Setelah pemeriksaan awal selesai, dokter mungkin akan melanjutkan dengan rontgen gigi untuk melihat keadaan gigi, gusi, dan tulang penyokong gigi dengan lebih jelas. 

  • Lepaslah semua aksesoris yang menempel di dada hingga bagian kepala. Mulai dari perhiasaan, jam tangan, kacamata, dan alat-alat lain yang mengandung logam pada tubuh. Gunakan pakaian yang nyaman dan longgar ketika akan menjalani prosedur ini.
  • Beri tahu dokter bila punya tambalan gigi berbahan amalgam atau pakai gigi palsu. Keduanya dapat memblokir sinar X untuk menembus ke dalam tubuh.

Bila diperlukan, dokter juga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium yang meliputi tes darah dan tes urin untuk membantu memantapkan diagnosis dokter.

 

Bagaimana Proses Operasi Gigi Geraham Bungsu?

Sebelum operasi impaksi gigi, dokter akan menyuntikan obat bius di area gusi yang bermasalah. Obat bius ini akan membuat gusi menjadi kebas atau mati rasa sehingga Anda tidak akan merasa sakit selama prosedur berlangsung.

Secara umum, ada tiga jenis obat bius yang digunakan dokter ketika melakukan prosedur bedah. Tergantung pada seberapa rumitnya impaksi gigi yang dialami, berikut jenis-jenis obat bius yang digunakan saat operasi gigi geraham bungsu:

  • Anestesi lokal diberikan dengan cara menyuntikkan satu atau lebih suntikan pada titik dekat gigi yang akan dicabut. Pasien akan tetap terjaga selama proses pencabutan. Walaupun akan merasakan tekanan dan pergerakan, tidak akan merasakan rasa nyeri selama operasi impaksi gigi.
  • Anestesi umum (bius total). Anestesi ini akan menekan kesadaran sehingga memiliki memori yang terbatas selama proses pencabutan dan tidak akan merasakan nyeri selama operasi impaksi gigi. Teknik ini dilakukan pada kasus impaksi gigi yang terbenam sangat dalam, seperti mendekati atau menyentuh canalis mandibula (saluran saraf rahang bawah).

Setelah diberikan obat bius, dokter akan menyayat gusi. Lalu akan mengangkat bagian tulang rahang yang menghalangi pertumbuhan gigi geraham bungsu. Saat gigi berhasil dicabut,  akan terjadi perdarahan. Perdarahan ini adalah hal yang normal dan akan cepat mereda.

Selanjutnya dokter akan menutup luka sayatan dengan jahitan dan lubang bekas gigi dengan kain kasa. Dokter biasanya akan meminta pasien untuk menggigit kain kasa tersebut selama satu jam supaya gumpalan darah terbentuk di bekas lubang gigi yang dicabut.

Selain perdarahan, akan dialami sejumlah efek samping seperti:

  • Rasa perih dan berdenyut di area gigi yang dicabut.
  • Lubang bekas gigi yang dicabut meradang.
  • Rahang pegal dan terasa kaku akibat terlalu lama membuka mulut.
  • Pipi di sisi gigi yang dicabut mengalami pembengkakan.
  • Kadang, bekuan darah di lubang bekas pencabutan gigi dapat pecah sehingga memperlihatkan tulang penyangga gigi yang berwarna putih. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit yang parah dalam beberapa hari.

 

Tahapan penyembuhan setelah operasi gigi geraham bungsu, yaitu:

  • 1 hari: terjadi pembekuan darah.
  • 2-3 hari: pembengkakan pada mulut dan pipi mulai membaik.
  • 7 hari: kontrol untuk melihat kembali kondisi bekas operasi.
  • 7-10 hari: rahang yang kaku dan nyeri mulai pulih.
  • 14 hari: segala keluhan terkait luka pasca operasi biasanya telah sembuh.

Proses penyembuhan tersebut bukanlah patokan mutlak. Setiap orang punya waktu pemulihan yang berbeda-beda, tergantung dari tingkat keparahan impaksi gigi atau luka pasca operasi yang dialaminya. Jika ternyata luka mengalami infeksi, atau ada masalah dengan proses penggumpalan darah, tentu waktu pemulihan bisa lebih lama.

Baca juga : Kesehatan Gigi dan Mulut pada Pasien GGK