Kamis, 15 September 2022 12:59 WIB

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

picture-of-article

Paru-paru yang merupakan organ pernapasan kerap kali rentan terserang infeksi. Udara yang kita hirup bisa saja tercemar dengan bakteri dan virus. Maka saat tubuh tidak cukup kuat dalam menangani serangan yang datang, infeksi saluran napas akan terjadi. Istilah yang sering kita dengar adalah ISPA atau Infeksi Saluran Pernapasan Akut.

ISPA dapat menyerang semua umur, namun dapat lebih berisiko pada anak dibawah 5 tahun. Kejadian ISPA menjadi penyebab kematian 4,5 juta anak di dunia setiap tahunnya. Persentase kejadian lebih tinggi pada daerah pedesaan daripada perkotaan dan meningkat pada lingkungan perokok.

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi penyakit yang menyerang saluran pernapasan atas maupun bawah. Saluran pernapasan atas mulai dari hidung hingga pita suara di laring, termasuk telinga bagian tengah. Sedangkan saluran pernapasan bawah mulai dari trakea, percabangan bronkus dan bronkiolus hingga alveoli pada paru-paru.

Penyakit-penyakit yang tergolong dalam kategori ISPA pada saluran pernapasan atas meliputi seperti flu atau rhinitis, epiglottitis, tonsillitis, laringitis, faringitis, sinusitis hingga infeksi telinga tengah atau otitis media. Sedangkan infeksi saluran pernapasan bawah meliputi seperti bronkitis, bronkiolitis, dan pneumonia.

 

Kebanyakan ISPA disebabkan oleh infeksi virus, namun tidak menutup kemungkinan bahwa bakteri juga bisa menjadi salah satunya.

 

Infeksi saluran pernapasan atas mayoritas disebabkan oleh aktivitas virus seperti rhinovirus pada 25-30% ISPA; respiratory syncytial virus (RSVs), parainfluenza dan influenza, human metapneumovirus, dan adenovirus (25-35%); dan coronavirus (10%). Sama halnya dengan infeksi saluran pernapasan atas, infeksi saluran pernapasan bawah kebanyakan disebabkan oleh virus, terutama RSVs, kemudian disusul parainfluenza sebagai kedua terbanyak.

Bakteri-bakteri juga dapat menyebabkan infeksi-infeksi di atas, antara lain seperti Streptococcus sp, Mycoplasma pneumoniae dan Chlamydia pneumoniae.

Faktor risiko lainnya yang meningkatkan kemungkinan menderita ISPA seperti:

  1. Usia di bawah 30 tahun akan lebih beresiko, terutama anak di bawah 5 tahun.
  2. Malnutrisi atau kurang gizi akan mengganggu perkembangan sel dan sistem imun anak, sehingga tubuh akan lebih rentan terpapar infeksi.
  3. Imunisasi tidak lengkap tentu saja akan menurunkan peluang kekebalan terhadap organisme infeksi saluran pernapasan dan keparahan penyakitnya. Terbukti anak yang imunisasinya tidak lengkap mengalami gejala ISPA 50% lebih parah daripada yang terimunisasi dengan lengkap.
  4. ASI eksklusif tidak lengkap selama 6 bulan pertama juga berkaitan dengan perkembangan sistem imun tubuh yang tidak optimal, sehingga rentan terserang ISPA 3 kali lebih tinggi. 
  5. Rumah padat penghuni juga meningkatkan resiko penularan ISPA. Dikutip pada penelitian bahwa anggota serumah berjumlah lebih dari 5 orang memiliki angka kejadian ISPA lebih tinggi pada keluarga.
  6. Perokok aktif atau pasif merupakan faktor pemberat ketika seseorang menderita ISPA. Ini dikarenakan rokok menurunkan kinerja rambut silia dan jaringan parenkim paru untuk bekerja menetralisir organisme infeksi. Kondisi ini dapat diperburuk dengan kondisi tata rumah yang buruk seperti ventilasi udara, rumah padat penghuni, dan faktor sosioekonomi yang rendah.
  7. Paparan polusi lingkungan, terutama biasa didapati pada daerah perkotaan dapat meningkatkan resiko terserang ISPA. Namun tingkat keparahan penyakit tidak terlalu terlihat berbeda karena akses kesehatan pada kota dinilai lebih mudah didapatkan daripada pedesaan.
  8. Tingkat pendidikan orang tua terkadang berperan dalam kurangnya pengetahuan penerapan hidup bersih dan sehat pada rumah tangga, sehingga peluang kejadian ISPA meningkat pada lingkungan keluarga mereka.

ISPA merupakan infeksi yang terjadi pada keseluruhan sistem pernapasan atas maupun bawah, maka gejala yang dialami terkadang lebih spesifik tergantung bagian mana yang mengalami infeksi. Gejala yang dapat dialami seperti:

  1. Batuk, yang juga bisa disertai dahak;
  2. Bersin-bersin;
  3. Pilek dan hidung tersumbat;
  4. Nyeri tenggorokan;
  5. Suara parau;
  6. Nyeri kepala;
  7. Letih dan pegal-pegal;
  8. Sesak napas, dada terasa sempit atau mengi;
  9. Demam tinggi;
  10. Tidak enak badan;
  11. Pembesaran kelenjar getah bening sekitar leher.

Penanganan akan berbeda tergantung pada penyebab yang mendasari ISPA. Jika diduga ISPA disebabkan oleh virus maka biasanya keluhan dan penyakit akan membaik seiring waktu dalam hitungan hari atau minggu tanpa perlu obat. Dalam hal ini, penderita dapat melakukan beberapa cara sebagai tindakan suportif keluhan seperti:

  1. Istirahat cukup selama sakit.
  2. Memperbanyak minum minimal 8 gelas sehari karena dapat menurunkan sekresi mukus (dahak) pada mukosa dan memastikan sistem imun bekerja optimal.
  3. Kompres hangat pada daerah wajah dapat meringankan keluhan pilek dan hidung tersumbat. Suhu hangat dapat mengurangi bengkak (kongesti) pada rongga hidung dan membuat drainase pilek menjadi lancar. Caranya yaitu gunakan lap hangat atau botol berisi air hangat yang diletakkan di atas wajah selama 5-10 menit sebanyak 3-4 kali per hari.
  4. Irigasi nasal atau hidung dapat meningkatkan kemampuan mukosa hidung dan rambut siliari melawan agen alergi dan iritan. Gunakan larutan salin (NaCl 0,9%) dengan cara menyemprot ke rongga hidung sebanyak 2 kali sehari menggunakan spuit (gagang suntik tanpa jarum) atau spray.
  5. Minum lemon hangat dan madu untuk meringankan batuk (Tidak dianjurkan untuk bayi <1 tahun).
  6. Berkumur dengan larutan garam untuk meringankan gejala nyeri tenggorokan (Tidak dianjurkan untuk anak-anak).

Pada kasus yang disebabkan oleh virus, maka antibiotik tidak akan membantu penyembuhan. Pada kondisi khusus seperti ibu hamil, bayi usia <6 bulan, lansia, obesitas, immunocompromised, penggunaan antivirus seperti oseltamivir perlu dikonsultasikan ke dokter mengingat risiko perburukan yang mungkin terjadi.

Jika ISPA disebabkan oleh bakteri, maka antibiotik menjadi dasar penyembuhan infeksi. Dokter akan memilih jenis antibiotik yang tepat berdasarkan jenis dan keparahan penyakitnya. Pilihan antibiotik untuk ISPA antara lain seperti Amoxicillin, Eritromisin, Klaritromisin, Kloramfenikol, Ceftriaxone hingga Azithromycin. Untuk menghindari resistensi antibiotik, sebaiknya konsultasikan penggunaan antibiotik dengan dokter.

Dokter dapat memberi obat untuk meringankan gejala agar tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Dekongestan dapat digunakan untuk meredakan gejala berkaitan dengan flu. Contohnya yang beredar banyak seperti fenilepinefrin dan oxymetazoline. Namun penggunaan pada anak dibawah 2 tahun harus diwaspadai karena efek samping obat. Antihistamin bisa untuk mengurangi keluhan pilek dan bersin-bersin. Contoh yang beredar banyak seperti diphenhydramine dan chlorpheniramine maleate (CTM). Untuk meringankan keluhan batuk berdahak dapat digunakan seperti guaifenesin dan kodein sebagai antitusif. Namun perlu diingat penggunaan obat ini disarankan sesuai resep dokter. Penggunaan obat penurun demam seperti acetaminophen dan anti nyeri golongan NSAID dapat meredakan keluhan nyeri tenggorokan, nyeri kepala, demam, dan nyeri lainnya. Penelitian menyebutkan konsumsi vitamin C saat menderita ISPA dapat mempersingkat masa sakit.

Pada kondisi keluhan berat seperti sesak nafas hebat, jangan ragu untuk mencari bantuan tenaga kesehatan. Dokter akan mempertimbangkan perawatan rawat inap jika ISPA sudah beresiko menyebabkan gagal organ, termasuk paru-paru yang berakibat gagal pernapasan. ISPA yang tidak tertangani dan berlarut-larut bisa berakhir kepada komplikasi serius seperti penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak dan jantung.

 

ISPA tentu bisa dicegah. Pada prinsipnya, dengan menjaga tubuh tetap bugar, makan bergizi dan minum cukup memastikan sistem imun bekerja dengan optimal untuk menangkal segala jenis organisme infeksi yang masuk terutama melalui saluran pernapasan. Namun beberapa tips hidup bersih dan sehat dapat dilakukan seperti:

  • Mencuci tangan sebelum dan setelah makan;
  • Terapkan etika batuk dan bersin dengan menutup batuk atau bersin menggunakan lengan dalam atau tisu dan kemudian mencuci tangan;
  • Hindari kontak berlebihan dengan orang sakit terutama jika curiga ISPA, gunakanlah masker pelindung terutama sarankan untuk pasien yang sedang sakit agar tidak menularkan ke orang lain;
  • Minum cukup air putih setiap hari minimal 8 gelas;
  • Cukup istirahat;
  • Berhenti merokok.

Imunisasi juga merupakan salah satu cara jitu untuk mengurangi resiko terserang ISPA. Lakukan imunisasi MMR (Measles, mumps, rubella) dan vaksin pertusis pada anak untuk memastikan perlindungan optimal si kecil. Optimalkan perlindungan imunisasi saat dewasa dengan vaksin influenza dan pneumonia. Konsultasikan dengan dokter mengenai kebutuhan vaksin.

Beberapa hal yang juga perlu diperhatikan untuk mencegah perburukan ketika seseorang sedang menderita ISPA antara lain:

  • Jangan biarkan anak-anak menghirup uap panas langsung dari genangan air panas karena bisa menimbulkan resiko luka bakar pada lapisan mukosa dalam hidung.
  • Jangan beri obat anti nyeri berupa aspirin pada anak usia <16 tahun untuk menangani keluhan nyeri yang diderita, seperti nyeri tenggorokan, nyeri kepala dan lainnya.
  • Jangan merokok saat menderita ISPA karena akan memperparah kondisi keluhan.

Baca juga : Mengenal Gagal Ginjal Kronik (GGK)

0 Disukai

40 Kali Dibaca