Kamis, 06 Oktober 2022 10:43 WIB

Infeksi Virus

picture-of-article

Virus adalah mikroorganisme yang sangat kecil yang tidak bisa hidup dengan sendirinya. Virus selalu membutuhkan inang atau sel makhluk lain untuk hidup. Menggunakan sel dari makhluk lain, virus dapat memperbanyak dirinya untuk terus berkembang biak. Ia tidak bisa melakukan replikasi dengan sendirinya karena inti sel dari virus tidak sempurna untuk melakukan hal tersebut. Lantas virus akan menginfeksi sel hidup untuk melakukan replikasi.

Tidak jarang sel yang ditumpanginya mengalami kerusakan dalam proses replikasi/kembang biak tersebut. Maka semakin banyak sel yang dirusak oleh virus pada tubuh manusia, semakin besar pula peluang kesakitan atau tingkat keparahan penyakit yang diderita.

 

Infeksi virus adalah kondisi dimana tubuh seseorang diserang oleh mikroorganisme bernama virus. Virus menyerang dengan menginfeksi sel tubuh manusia, dari kulit hingga organ paling penting seperti otak maupun lainnya. Virus menyerang dengan memakai sel tubuh orang yang sehat untuk memperbanyak diri hingga menyebabkan sel sehat tersebut rusak.

Pada dasarnya tubuh manusia memiliki sistem kekebalan terhadap mikroorganisme baik bakteri, virus, jamur hingga parasit. Sistem kekebalan tubuh ini yang disebut sistem imun. Maka proses infeksi virus terhadap tubuh manusia akan melewati serangkaian proses netralisir dari sistem imun tersebut. Sebenarnya tidak mudah pada sebuah virus untuk menginfeksi seseorang mengingat ketatnya sistem imun kita dalam menyaring mikroorganisme yang masuk ke dalam tubuh. Namun hal ini bisa terlewati dan menjadi suatu proses infeksi jika sistem imun tubuh kalah terhadap daya infeksi virus yang menyerang. Virus bisa berhasil melewati sistem imun tubuh karena jumlahnya yang banyak atau karena kemampuannya yang belum bisa dikenali oleh sistem imun.

Virus dan bakteri adalah dua hal yang berbeda. Namun, masyarakat kerap kali memaknainya hampir serupa ditunjukkan dari sikap dalam penggunaan antibiotik secara bebas. Padahal kegunaan antibiotik efektif untuk mengobati infeksi bakteri, namun tidak efektif untuk mengobati infeksi virus.

Bakteri merupakan mikroorganisme yang kompleks dan dapat bertahan hidup dengan sendirinya. Bakteri dapat hidup di luar dan di dalam tubuh manusia. Bakteri bisa berkembang biak dengan sendiri. Tidak semua bakteri menyebabkan kesakitan, namun bakteri juga kita butuhkan untuk membantu proses normal tubuh, seperti pertahanan dan bantuan metabolisme pada rongga mulut, saluran cerna hingga liang vagina. Bakteri ini disebut juga dengan bakteri normal. Tidak seperti bakteri, virus harus membutuhkan inang, makhluk hidup untuk ditinggali, untuk berkembang biak dan bertahan hidup. Kebanyakan virus dapat menyebabkan kesakitan dan tidak ada virus yang kita butuhkan dalam proses normal tubuh layaknya seperti beberapa bakteri. Virus juga menyerang secara spesifik pada jenis sel yang diserangnya. Misalnya virus yang menyerang khusus sel hati, pernapasan, sel darah, bahkan virus dapat menyerang bakteri normal dalam tubuh.

Infeksi virus disebabkan oleh berbagai jenis virus. Virus memiliki berbagai macam jenis. Variasi jenis ini pula yang menentukan sel apa yang akan diserangnya. Maka virus menginfeksi saluran cerna bisa berbeda dengan virus yang menginfeksi otak.

Infeksi virus dapat menular. Proses penularan bisa melalui udara, droplet, cairan tubuh, darah pasien, dapat diperantarai oleh binatang seperti nyamuk dan lainnya. Pintu masuk penularannya bisa melalui sentuhan, pernapasan, pencernaan, hubungan seksual, hingga kontak darah langsung.

Dalam perjalanan proses infeksi virus terhadap sel, virus juga membutuhkan waktu untuk dapat menginfeksi hingga menyebabkan sakit. Periode waktu ini disebut masa inkubasi. Masa inkubasi ini pun berbeda-beda pada setiap virus dan orang. Seseorang akan mulai mengalami gejala mulai dari 3 hari hingga tahunan sejak terpapar virus yang berhasil menginfeksi.

Berdasarkan lokasi infeksi pada umumnya, jenis virus dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Saluran pernapasan. Virus menginfeksi saluran pernapasan atas dan bawah, meliputi hidung, tenggorokan hingga paru-paru. Contohnya seperti virus influenza, Respiratory Syncytial Virus (RSVs) dan coronavirus.
  2. Saluran pencernaan. Infeksi saluran cerna juga umumnya dapat disebabkan oleh virus, seperti gastroenteritis yang sering disebabkan oleh norovirus dan rotavirus.
  3. Hati. Virus menginfeksi organ hati (liver) yaitu virus hepatitis menyebabkan penyakit hepatitis.
  4. Sistem saraf. Infeksi virus pada organ ini cukup menjadi perhatian dikarenakan tingkat keparahan yang relatif tinggi hingga dapat mengancam jiwa. Rabies dan west nile virus merupakan penyebab penyakit ensefalitis atau radang jaringan otak hingga selaput otak menyebabkan meningitis atau polio.
  5. Kulit. Infeksi pada kulit juga termasuk yang sering kita jumpai di Indonesia. Contoh diantaranya seperti cacar atau ruam lainnya yang bisa disebabkan oleh virus seperti varicella dan herpes.
  6. Plasenta dan uterus (rahim). Beberapa virus seperti zika, rubella, cytomegalovirus dapat menginfeksi selama kehamilan dan menyebabkan penyakit pada ibu maupun bayi dalam kandungan.
  7. Sistem imun. Human Immunodeficiency Virus (HIV) menyerang sel darah putih tepatnya sel CD4 seseorang menyebabkan penurunan fungsi kekebalan tubuh seseorang yang pada satu kondisi dapat berakhir pada AIDS. Virus ini juga dapat berpeluang menyebabkan kanker karena cara replikasi virus yang merusak rantai gen sel inang, beresiko terjadi mutasi sel.
  8. Darah. Layaknya demam berdarah yang disebabkan oleh virus dengue, infeksi virus ini menyerang sistem sel-sel darah seseorang. Penularan virus dengue diperantarai oleh nyamuk aedes aegypti.

Gejala yang dapat timbul akibat infeksi virus sangat beragam bergantung pada organ apa yang diserang. Keluhan yang dapat dirasakan diantaranya seperti demam, batuk, pilek, nyeri kepala, nyeri tenggorokan, hingga keluhan spesifik seperti diare, kaku kuduk, kejang, kulit gatal dan panas, hingga gangguan janin selama kehamilan maupun saat melahirkan.

Pada infeksi berat, tidak jarang infeksi virus dapat mengancam nyawa. Infeksi virus berat seperti kejang pada rabies, ensefalitis dan meningitis, perdarahan pada demam berdarah, sesak nafas hingga gagal nafas pada COVID-19, dan lainnya. Kekhawatiran infeksi virus pada kehamilan juga menjadi perhatian mengingat ibu yang terinfeksi beberapa virus tertentu dapat menyebabkan gejala pada bayi seperti tuli yang disebabkan oleh rubella, kepala bayi kecil abnormal dan buta karena cytomegalovirus, hingga HIV yang bisa diturunkan pada bayi.

Virus mempunyai siklus hidup sehingga kebanyakan virus akan berhenti menginfeksi saat siklus hidupnya selesai. Maka pengobatan infeksi virus yang paling disarankan pertama kali yaitu memperkuat sistem imun tubuh. Infeksi virus dapat diduga jika tanda-tanda infeksi karena penyebab lain tersingkirkan. Proses penyembuhan infeksi virus akan berlangsung hitungan hari hingga minggu tanpa perlu obat. Perkuat sistem imun tubuh dengan makan bergizi seimbang dan olahraga teratur.

Penanganan gejala menjadi perhatian pada infeksi virus mengingat kebanyakan infeksi virus dapat sembuh dengan sendirinya, atau disebut dengan self-limiting disease. Maka penggunaan obat penurun panas, pereda batuk, pengencer dahak, dekongestan, hingga NSAID untuk anti radang dan nyeri kerap digunakan untuk mengurangi keluhan pasien. Tidak lupa asupan kecukupan cairan juga menjadi kunci dalam masa penyembuhan infeksi virus.

Pengobatan antivirus dapat diberikan pada beberapa penyakit yang diyakini berpeluang mengganggu kualitas fungsi organ seperti cacar hingga herpes. Obat antivirus umumnya akan mencegah perkembang biakan virus dengan cara menghambat partikel virus yang berfungsi sebagai aktivator replikasi virus. Antiretroviral untuk pengendalian HIV juga punya mekanisme kerja yang hampir sama. Sehingga pada pasien HIV, replikasi virus dapat ditekan dan sistem imun dapat meningkat atau bertahan. Dengan demikian, pasien HIV diharapkan tidak mengalami perburukan menuju AIDS dan dapat hidup layaknya orang normal dengan pencegahan cara penularannya.

Terapi interferon dan antibodi juga menjadi pilihan dalam tatalaksana infeksi virus. Namun penggunaan terapi ini berdasarkan kompetensi dan pertimbangan dokter. Seperti diketahui sebelumnya, penggunaan antibiotik tidak efektif dalam mengobati infeksi virus. Penggunaan antibiotik dapat digunakan untuk menangani infeksi bakteri setelah mendapat diagnosa dari dokter.

Upaya mencegah terinfeksi virus dapat dimulai dengan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Kebiasaan seperti mencuci tangan dengan sabun, memakai masker jika sedang sakit atau merawat orang sakit hingga memastikan sirkulasi udara di rumah mengalir dengan baik adalah tindakan pencegahan paling mendasar pada keseharian. Pencegahan juga dapat kita maksimalkan dengan memastikan kebugaran tubuh dengan berolahraga dan asupan gizi seimbang tercukupi. Gizi seimbang mencakup cukup makronutrien seperti karbohidrat, protein, lemak, dan mikronutrien seperti multivitamin dan mineral.

Vaksin dapat mencegah infeksi virus. Vaksin berperan menstimulasi antibodi spesifik terhadap jenis virus yang akan dicegah. Berbeda jenis virus yang ingin dicegah, berbeda pula jenis vaksinnya. Maka vaksin diberikan saat seseorang belum terinfeksi virus, bukan saat sedang terinfeksi virus. Fungsinya agar tubuh membentuk antibodi untuk menangkal jenis virus yang sama.

Penggunaan vaksin untuk mencegah infeksi virus sudah diterapkan pada umur bayi dengan program imunisasi wajib 9 bulan oleh pemerintah. Vaksin lainnya yang juga sering digunakan seperti influenza, pneumonia, hepatitis B, MMR, rabies dan lainnya. Cara pemakaiannya pun beragam, mulai yang cukup dengan satu dosis hingga memerlukan dosis tambahan/booster seperti vaksin hepatitis B dan COVID-19.

Vaksin juga digunakan guna mencegah pelaku perjalanan terhindar dari penyakit endemik yang ada di lokasi tujuan. Seperti halnya jemaah haji yang wajib melaksanakan beberapa vaksin seperti vaksin meningitis, polio dan yellow fever.

Baca juga : Nutrifikasi Pangan

1 Disukai

104 Kali Dibaca