Penyakit ini bermula ketika sel imun tubuh salah mengenali protein di dalam sendi sebagai ancaman berbahaya. Akibatnya, sel imun berkumpul di lapisan pelindung sendi (sinovium) dan memicu peradangan hebat. Lambat laun, peradangan kronis ini membuat lapisan sendi menebal secara tidak normal (membentuk jaringan pannus) yang lambat laun mengikis tulang rawan dan merusak struktur sendi di sekitarnya.
Meskipun belum ada obat yang bisa menyembuhkan rematik secara total, pengobatan modern fokus untuk meredakan nyeri dan mencegah kecacatan sendi. Dokter biasanya meresepkan obat golongan DMARDs (seperti methotrexate) sebagai terapi utama, yang dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi (NSAID atau kortikosteroid) untuk meredakan nyeri cepat, serta obat biologis mutakhir untuk mengontrol sistem imun yang terlalu aktif.
Gejala khas yang paling sering dirasakan pasien adalah nyeri, kemerahan, dan pembengkakan pada sendi yang terjadi secara simetris (misalnya, jika tangan kanan terkena, tangan kiri juga mengalami hal yang sama), terutama pada sendi kecil di jari tangan dan kaki. Selain itu, pasien biasanya merasakan kaku sendi di pagi hari yang berlangsung lebih dari satu jam, disertai rasa cepat lelah dan demam ringan.
Dokter mendiagnosis penyakit ini lewat pemeriksaan fisik pada sendi yang bengkak, dibantu dengan tes laboratorium. Tes darah khusus dilakukan untuk mencari tanda peradangan (seperti CRP dan LED) serta mendeteksi antibodi spesifik seperti Rheumatoid Factor (RF) dan Anti-CCP. Dokter juga bisa menggunakan foto rontgen atau USG untuk melihat apakah sudah ada kerusakan pada struktur tulang dan sendi.
Untuk mencegah keparahan dan menjaga kualitas hidup, pasien disarankan untuk menerapkan gaya hidup sehat. Langkah penting yang bisa diambil meliputi berhenti merokok, menjaga berat badan ideal agar tidak membebani sendi, mengonsumsi makanan bergizi seimbang (seperti diet Mediterania), serta melakukan olahraga ringan secara rutin guna menjaga kelenturan sendi.
Belum Ada Komentar