Rabu, 24 Maret 2021 10:22 WIB

Vitamin

picture-of-article

Vitamin ditemukan dalam penelitian Hopkins. Hewan ujinya gagal tumbuh meskipun sudah diberikan lemak, protein, karbohidrat dan garam mineral dalam jumlah yang cukup. Namun setelah ditambahkan sedikit susu dalam bahan makanannya, hewan dapat tumbuh dengan normal. Akhirnya Ia berasumsi di dalam susu terdapat satu atau lebih “aksesoris faktor pertumbuhan” atau zat gizi penting yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit yang kemudian disebut vitamin.

Vitamin merupakan senyawa organik yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil (mikrogram atau miligram per hari) untuk menjaga kesehatan dan metabolisme tubuh agar tetap dalam kondisi yang baik. Indonesia memiliki AKG (Angka Kecukupan Gizi) dalam menentukan kebutuhan vitamin setiap orang berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, dan kelompok khusus (ibu hamil dan menyusui). Vitamin tidak dapat diproduksi oleh tubuh manusia dalam jumlah yang cukup, sebagian lainnya diperoleh dari bahan pangan yang dikonsumsi, kecuali Vitamin D yang berasal dari sinar ultraviolet. 

Berbeda dengan zat gizi makro (yang dibutuhkan dalam jumlah besar), vitamin yang merupakan zat gizi mikro tidak dapat digunakan sebagai sumber energi . Secara umum vitamin berfungsi sebagai katalisator (merupakan bagian dari sistem enzim/koenzim dalam membantu proses metabolisme), mempertahankan fungsi jaringan, mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan sel baru, serta mempercepat penyembuhan. Kekurangan vitamin dapat menyebabkan gangguan fisiologis dalam tubuh.

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penggunaan vitamin di dalam tubuh, diantaranya:

  1. Faktor Biosintesis
    Biosintesis atau pembentukan vitamin di dalam tubuh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi penggunaan vitamin di dalam tubuh. Terganggunya flora bakteri dapat mengganggu penggunaan vitamin di dalam tubuh, karena dalam kondisi normal flora bakteri usus dapat memproduksi Vitamin K dan Vitamin B12. 
  2. Ketersediaan Vitamin
    Tidak semua vitamin terdapat dalam bentuk yang mudah diserap tubuh, misalnya vitamin yang larut lemak. Vitamin yang tersedia di dalam tubuh sangat bergantung pada efisiensi dari saluran pencernaan, status gizi, makanan lain yang dimakan dalam waktu bersamaan, metode penyiapan makanan dan sumber vitamin itu sendiri (sintetik, fortifikasi, atau alami).
  3. Antivitamin
    Antivitamin merupakan ikatan-ikatan organik yang menentang atau meniadakan kerja suatu vitamin. Antivitamin dapat merebut titik aktif di dalam enzim dan dapat juga mengikat vitamin di dalam usus untuk membentuk zat lain yang lebih kompleks sehingga tidak dapat diserap. Contoh dari antivitamin adalah thiaminase (terdapat di dalam kerang dan ikan mentah), avidin (terdapat di dalam putih telur mentah) dan millet (terdapat di dalam jagung).
  4. Provitamin
    Beberapa jenis vitamin tersedia dalam makanan dengan kondisi yang belum aktif, dikenal sebagai prekursor atau provitamin. Jumlah provitamin yang rendah juga mempengaruhi penggunaan vitamin di dalam tubuh, misalnya karoten yang berubah menjadi Vitamin A ketika di dalam tubuh. 

Kandungan vitamin dalam makanan bergantung pada jumlah vitamin yang semula terdapat dalam makanan tersebut dan jumlah vitamin yang rusak saat panen, penyimpanan, pemrosesan, serta pemasakan. Kehilangan vitamin akibat proses pemasakan dapat dicegah dengan cara:

  1. Menggunakan suhu tidak terlalu tinggi;
  2. Waktu memasak tidak terlalu lama;
  3. Menggunakan sedikit mungkin air saat memasak;
  4. Bila memotong dengan pisau tajam, sebaiknya potongan tidak terlalu halus;
  5. Menutup panci ketika memasak;
  6. Tidak menggunakan air alkali (basa) dalam pemasakan;
  7. Sisa air perebus digunakan untuk masakan lain.

Hingga saat ini vitamin diklasifikasikan berdasarkan zat dimana vitamin tersebut dapat terlarut:

Baca juga : Cognitive Behavioral Therapy