Rabu, 16 September 2026 12:00 WIB

Intermittent Fasting

picture-of-article

Pernah mendengar pola makan intermittent fasting (IF) atau diet puasa berselang? Pola makan ini semakin populer karena dianggap dapat membantu menurunkan berat badan tanpa harus terus-menerus menghitung kalori.

Namun, apakah intermittent fasting benar-benar lebih efektif dibandingkan pola makan sehat biasa?

Jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak". Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intermittent fasting dapat membantu menurunkan berat badan dan memperbaiki beberapa indikator kesehatan metabolit, tetapi manfaatnya sangat dipengaruhi oleh pola makan secara keseluruhan, kualitas makanan, serta kemampuan seseorang mempertahankan pola tersebut.

Meskipun intermittent fasting dapat dilakukan dengan aman oleh banyak orang dewasa, pola ini bukan berarti bebas dari risiko. Pada awal menjalankan intermittent fasting, sebagian orang mungkin mengalami rasa lapar, sakit kepala, pusing, lemas, atau sulit berkonsentrasi. Keluhan tersebut dapat berbeda pada setiap orang dan tidak selalu terjadi.

Risiko juga dapat menjadi lebih besar jika seseorang terlalu membatasi makanan sehingga kebutuhan energi dan zat gizi tidak terpenuhi. Karena itu, waktu makan yang lebih pendek sebaiknya tidak diartikan sebagai alasan untuk mengurangi konsumsi makanan bergizi secara berlebihan.

Ada pula kelompok yang sebaiknya tidak melakukan intermittent fasting secara mandiri. Misalnya, orang yang sedang hamil atau menyusui, anak dan remaja, orang dengan riwayat gangguan makan, serta orang dengan kondisi medis tertentu perlu mendapatkan pertimbangan khusus.

Orang dengan diabetes, terutama yang menggunakan insulin atau obat tertentu yang dapat menurunkan gula darah, juga perlu berhati-hati. Perubahan waktu makan dapat memengaruhi kadar gula darah dan mungkin memerlukan penyesuaian obat. Karena itu, intermittent fasting pada kondisi tersebut sebaiknya dilakukan dengan pendampingan tenaga kesehatan.

Jika tubuh memberikan sinyal seperti pusing berat, lemas berlebihan, sulit berkonsentrasi, atau keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan memaksakan diri untuk melanjutkan puasa.

Mulailah dengan pola yang realistis dan sesuai dengan rutinitas sehari-hari. Yang terpenting bukan seberapa lama Anda mampu menahan lapar, tetapi apakah pola tersebut dapat dilakukan dengan nyaman dan tetap memenuhi kebutuhan tubuh.

Selama waktu makan, tetap konsumsi makanan dengan gizi seimbang. Pastikan terdapat sumber protein, sayur, buah, sumber karbohidrat, dan lemak sehat dalam pola makan sehari-hari. Hindari menjadikan eating window sebagai kesempatan untuk “balas dendam” makan dalam jumlah berlebihan.

Jika memungkinkan, pilih waktu makan yang tidak terlalu larut. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa early time-restricted eating, yaitu menempatkan waktu makan lebih awal dalam sehari, berpotensi memberikan manfaat metabolik yang lebih baik dibandingkan pola makan yang dilakukan lebih larut. Namun, penelitian masih terus berkembang sehingga belum ada satu jadwal yang dapat dikatakan paling ideal untuk semua orang.

Selama menjalankan intermittent fasting, perhatikan juga kecukupan cairan, tidur, dan aktivitas fisik. Intermittent fasting sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari gaya hidup sehat, bukan sebagai pengganti pola makan bergizi dan aktivitas fisik.

1. Mulai secara bertahap
Tidak perlu langsung memilih pola 16:8. Pilih jadwal yang terasa nyaman dan dapat dipertahankan.

2. Tetap perhatikan kualitas makanan
Gunakan waktu makan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi, bukan sekadar mengisi perut.

3. Jangan “balas dendam” saat waktu makan tiba
Puasa bukan alasan untuk makan dalam jumlah berlebihan.

4. Dengarkan tubuh
Rasa lapar ringan mungkin terjadi, tetapi pusing berat, lemas berlebihan, atau keluhan yang mengganggu aktivitas perlu menjadi tanda untuk mengevaluasi pola yang dilakukan.

5. Sesuaikan dengan aktivitas sehari-hari
Pola makan yang mengganggu pekerjaan, olahraga, tidur, atau aktivitas sosial mungkin bukan pola yang tepat untuk Anda.

6. Konsultasikan terlebih dahulu jika memiliki kondisi khusus
Terutama jika sedang hamil atau menyusui, memiliki diabetes, menggunakan obat rutin, memiliki riwayat gangguan makan, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu.

Pada akhirnya, tidak ada satu pola intermittent fasting yang cocok untuk semua orang. Jika suatu pola terasa terlalu sulit untuk dipertahankan, bukan berarti Anda kurang disiplin. Bisa jadi pola tersebut memang tidak sesuai dengan kebutuhan dan rutinitas Anda.

Intermittent fasting (IF) adalah pola makan yang mengatur kapan seseorang makan dan kapan tidak makan. Jadi, fokus utamanya bukan pada jenis makanan tertentu, melainkan pada pengaturan waktu makan.

Salah satu bentuk yang paling populer adalah Time-Restricted Rating (TRE). Pada pola ini, seseorang mengonsumsi makanan dalam jangka waktu tertentu setiap hari dan berpuasa pada waktu lainnya. Misalnya, pada pola 16:8, seseorang makan dalam waktu 8 jam dan berpuasa selama 16 jam.

Saat seseorang tidak makan dalam beberapa waktu, tubuh tetap membutuhkan energi untuk menjalankan berbagai fungsi. Tubuh kemudian secara bertahap menggunakan cadangan energi yang tersimpan, termasuk lemak. Perubahan ini juga disertai perubahan hormon dan proses metabolisme, termasuk menurunnya kadar insulin selama periode puasa.

Namun, bukan berarti tubuh baru mulai menggunakan lemak setelah tepat 16 jam berpuasa. Tidak ada satu batas waktu pasti ketika tubuh tiba-tiba mulai "membakar lemak". Penggunaan sumber energi oleh tubuh berlangsung secara bertahap dan dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk jumlah makanan yang dikonsumsi, aktivitas fisik, komposisi tubuh, dan kondisi metabolik seseorang.

Hal penting lainnya adalah intermittent fasting bukan berarti bebas makan apa saja selama waktu makan. Jika selama eating window seseorang mengonsumsi makanan dalam jumlah berlebihan atau sebagian besar berasal dari makanan tinggi gula, garam, dan lemak jenuh, manfaat yang diharapkan tentu dapat berkurang.

Jadi, inti intermittent fasting adalah mengulur waktu makan, bukan mengabaikan kualitas makanan.

Intermittent fasting dapat menjadi salah satu pilihan bagi orang yang ingin mengatur pola makan dan membantu mengendalikan berat badan. Dengan adanya batas waktu makan, seseorang dapat menjadi lebih teratur dalam menentukan kapan harus makan dan kapan berhenti makan. Pada sebagian orang, pola ini juga membantu mengurangi kebiasaan ngemil atau makan larut malam sehingga jumlah asupan energi dalam sehari menjadi lebih terkontrol.

Selain membantu pengelolaan berat badan, intermittent fasting juga berpotensi memberikan manfaat bagi kesehatan metabolik. Penerapannya dapat membantu memperbaiki beberapa hal seperti kadar gula darah, sensitivitas insulin, tenakan darah, dan kadar lemak darah. Manfaat ini tentu akan lebih optimal jika waktu makan diisi dengan makanan bergizi seimbang, bukan makanan tinggi gula, garam, dan lemak secara berlebihan.

Menariknya, intermittent fasting tidak harus selalu berarti "semakin lama berpuasa, semakin baik". Waktu makan yang lebih teratur dan tidak terlalu larut, misalnya dengan menyelesaikan makan malam lebih awal, juga dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih sehat. Yang terpenting adalah memilih pola yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dan aktivitas sehari-hari.

Baca juga : Jenis-jenis Pengawet Makanan

0 Disukai

0 Kali Dibaca