Rabu, 14 Juli 2021 10:07 WIB

Gingivitis

Gingiva atau gusi merupakan bagian tubuh yang menutupi tulang rahang berfungsi untuk mengikat gigi pada lengkung rahang didalam rongga mulut.  Secara umum, gingiva yang sehat berwarna pink, memiliki konsistensi yang kenyal, memiliki tekstur yang berbintik-bintik seperti kulit jeruk, tepinya meruncing, dan tidak mudah berdarah. Gingiva berperan penting untuk melindungi jaringan di bawahnya dan menjaga gigi tetap melekat kuat pada tempatnya. Gingiva juga dapat terserang penyakit, bentuk penyakit yang sering dijumpai adalah gingivitis.

Gingivitis atau radang gusi adalah kondisi inflamasi dari jaringan gingiva atau gusi yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Proses inflamasi ini sering diawali dengan akumulasi dari microbial biofilm yang terbentuk di sekitar jaringan gingival, disebut juga plak gigi (dental plaque). Apabila tidak diatasi, gingivitis dapat berkembang menjadi periodontitis atau radang pada tulang penyangga gigi yang dapat menyebabkan gigi menjadi goyang dan lepas dengan sendirinya. 

Gingivitis dapat dialami oleh siapapun tanpa dibatasi usia, sebanyak 50-90% orang dewasa di seluruh dunia mengalami gingivitis. Di Eropa, gingivitis ditemukan pada 30-60% populasi. Sedangkan studi pada 1.000 orang dewasa di Amerika menunjukkan bahwa 55,7% partisipan memiliki inflamasi gingiva dari ringan hingga parah berdasarkan penilaian gingival index (GI). Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018, prevalensi gingivitis di Indonesia adalah 74%.

Gingivitis secara garis besar disebabkan oleh faktor primer dan faktor sekunder. Pada umumnya disebabkan oleh kebersihan rongga mulut yang kurang baik sehingga terjadinya penumpukan mikroorganisme yang membentuk plak dan karang gigi sebagai faktor terbesar timbulnya gingivitis.

Faktor Primer

  1. Plak
    Merupakan deposit lunak dari sisa makanan yang melekat erat pada permukaan gigi, terdiri atas mikroorganisme yang berkembang biak. 
  2. Karang gigi 
    Merupakan deposit plak atau sisa makanan yang mengandung mikroorganisme/bakteri yang menempel pada gigi dalam jangka waktu lama dan mengalami pengerasan/terkalsifikasi. 

Faktor Sekunder 

  1. Faktor Lokal, seperti: 
    • Tambalan gigi yang gagal.
    • Pemasangan alat orthodonti.
    • Susunan gigi geligi yang tidak teratur.
    • Karies gigi.
    • Pemasangan gigi tiruan yang kurang tepat.
  2. Faktor Sistemik, seperti:
    • Hormonal. Ketidakseimbangan hormon akan mengakibatkan peningkatan respon gingiva terhadap plak. Contohnya pada ibu hamil, usia pubertas, menopause, dan masa menstruasi.  
    • Defisiensi nutrisi. Nutrisi yang kurang baik dapat berpengaruh pada gangguan fungsi dan struktur jaringan lunak rongga mulut, terutama pada ujung bibir, lidah, langit-langit, dan pada gigi sehingga pertumbuhan mikroba dalam celah gingiva meningkat oleh terjadinya penguraian makanan di sekitar gigi. Seseorang yang termasuk kategori status gizi tidak normal (kurus, berat badan lebih, dan obesitas) mempunyai risiko 25,3 kali lebih besar mengalami gingivitis dibandingkan yang memiliki kategori status gizi normal.
    • Hematologi. Penyakit darah tidak menyebabkan gingivitis, tetapi dapat menimbulkan perubahan jaringan yang merubah respon jaringan terhadap plak. Penyakit hematologi yang menyebabkan perdarahan gingiva diantaranya adalah anemia, leukemia, dan leukopenia.
    • Gangguan psikologi. Kondisi psikologi dapat berdampak pada gingiva karena mengubah metabolisme jaringan dan menurunkan daya tahan tubuh untuk melawan bakteri yang terdapat pada karang gigi.
    • Obat-obatan. Mengonsumsi obat-obatan tertentu seperti pil kontrasepsi, steroid, antikonvulsan (obat kejang), kemoterapi, obat pengencer darah, serta calcium channel blocker dinilai dapat meningkatkan risiko terkena radang gusi.

Gingivitis pada umumnya tidak langsung terasa sakit sehingga banyak orang tidak menyadari apabila mengalami radang pada gusinya. Beberapa tanda dan gejala awal terjadinya gingivitis adalah:

  1. Perubahan warna gusi dari pink menjadi kemerahan. 
  2. Gusi menjadi bengkak dan apabila disentuh terasa lunak.
  3. Tekstur permukaan gusi terasa licin.
  4. Mudah berdarah saat menggosok gigi ataupun menggunakan benang gigi.
  5. Bau mulut yang tidak hilang dan terasa tidak enak di dalam mulut meskipun telah menggosok gigi.
  6. Nyeri yang terus menerus terutama saat berbicara, mengunyah makanan, ataupun membuka mulut.

Pencegahan Gingivitis 

Mencegah timbulnya gingivitis akan lebih baik dibandingkan dengan mengobati. Langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya gingivitis antara lain adalah:

  1. Dianjurkan untuk menjaga kebersihan mulut agar plak dan karang gigi tidak cepat menumpuk dengan menyikat gigi 2 kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur dengan metode cara menggosok gigi yang tepat.
  2. Pemakaian dental floss (benang gigi) untuk membersihkan sela-sela gigi.
  3. Nutrisi seimbang.
  4. Menghindari stres.
  5. Menghentikan kebiasaan merokok.

 

Pengobatan Gingivitis

Pengobatan atau cara mengatasi gingivitis bertujuan untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi yang bisa ditimbulkan. Berikut cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi gingivitis: 

  1. Melakukan pembersihan karang gigi (scaling dan root planing).
  2. Mengganti obat-obatan yang menyebabkan terjadinya gingivitis.
  3. Pemakaian obat kumur chlorhexidine sesuai anjuran dokter gigi.
  4. Pemberian obat pereda nyeri oleh dokter apabila terasa nyeri yang terus menerus.
  5. Jika diperlukan maka dokter akan memberikan antibiotik untuk mencegah infeksi semakin parah.

Baca juga : Pemeriksaan untuk Penegakan Diagnosis Covid-19