Selasa, 09 Maret 2021 10:55 WIB

Keterkaitan PJK dan Kondisi Psikologis

picture-of-article

Kondisi psikologis dianggap memiliki peranan penting dalam perjalanan Penyakit Jantung Koroner (PJK). Mulai dari memicu kemunculan, memperparah kondisi atau simptom pasien, dan mempengaruhi pengobatan PJK. 

Terdapat beberapa hubungan dari kondisi psikologis terutama stres kepada PJK. Pertama, stres secara tidak langsung membuat penderitanya melakukan perilaku tidak sehat seperti merokok, pola makan berlemak, minum alkohol berlebihan, dan kurang berolahraga. Kedua, stres secara langsung menimbulkan gangguan pada metabolisme tubuh. Kedua hal ini kemudian meningkatkan risiko berkembangnya PJK. 

Selain menjadi faktor risiko dari kemunculan PJK, kondisi psikologis juga berdampak negatif pada pasien yang sudah mengalami PJK. Pasien dengan PJK seringkali mengalami cemas dan depresi. Sedangkan kejadian cemas dan depresi pada pasien PJK dapat menimbulkan permasalahan yang lebih buruk bagi penderitanya, sebagai akibat dari respon fisiologis yang menyertainya.  
Berikut beberapa faktor risiko psikologis dan sosial dari PJK: 

  1. Stres
    Berdasarkan penelitian terlihat bahwa stres terkait pekerjaan seperti tingginya tuntutan dan kurangnya dukungan menjadi faktor risiko penyakit PJK pada laki-laki. Konflik, krisis, dan kondisi stres jangka panjang dalam kehidupan keluarga menjadi faktor risiko PJK pada wanita.
  2. Isolasi sosial dan dukungan sosial rendah
    Penelitian menunjukkan bahwa pasien PJK yang terisolasi dan terputus dari sosialnya berisiko mengalami perburukan hingga meninggal lebih cepat. Serupa dengan hal tersebut, rendahnya dukungan sosial berujung pada perburukan prognosis dari PJK.
  3. Kecemasan
    Cemas memiliki korelasi positif dengan frekuensi angina (nyeri dada). Semakin cemas maka pasien PJK akan lebih sering mengalami nyeri dada. Sebaliknya semakin sering mengalami nyeri dada maka pasien PJK akan semakin merasakan cemas. Selain nyeri dada, efek buruk lainnya adalah infeksi, sesak, intoleransi aktivitas fisik, dan memperburuk stabilitas angina. Kesimpulannya, semakin sering pasien PJK mengalami kecemasan akan semakin memperburuk kondisi fisik pasien. Semakin lama cemas dibiarkan maka risiko terjadinya depresi semakin meningkat. Perubahan kondisi fisik dan emosi yang terjadi dalam waktu lama dapat menyebabkan terjadinya depresi.
  4. Depresi
    Depresi umum ditemui pada pasien PJK. Prevalensi depresi 20% lebih tinggi pada pasien PJK dibandingkan orang sehat. Depresi pada pasien PJK merupakan salah satu masalah psikologis yang harus dicegah kejadiannya karena menjadi faktor yang paling mempengaruhi kualitas hidup pasien PJK. Pasien PJK yang tidak depresi memiliki kualitas hidup 5,4 kali lebih baik dibandingkan dengan pasien PJK yang depresi. Hal ini mungkin berhubungan dengan peningkatan kemunculan kembali PJK pada pasien depresi. Selain mempengaruhi kualitas hidup, depresi juga meningkatkan risiko serangan jantung, rawat inap, dan kematian. 
  1. Dukungan sosial yang kuat 
    Salah satu faktor protektif dari PJK adalah dukungan sosial. Penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial selama pasien dirawat menurunkan simptom depresi secara signifikan.
  2. Konseling
    Perawat dan tenaga kesehatan yang berkaitan dengan pasien dapat memberikan konseling terkait manajemen stres, cemas, dan depresi pada pasien PJK untuk menjadi sumber daya dalam menghadapi stres akibat PJK.
  3. Spiritualitas
    Pendekatan spiritual juga menjadi penting dalam menurunkan stres, kecemasan, dan depresi pada pasien.

Baca juga : Manifestasi Oral pada Pasien PJK