Selasa, 09 Maret 2021 10:52 WIB

Pengelolaan PJK

Tujuan utama dari pengobatan PJK yaitu dapat membantu mengelola gejala dan mengurangi risiko masalah lebih lanjut dari komplikasi yang dapat menyebabkan kematian.

Penyakit jantung koroner sebenarnya tidak dapat disembuhkan tapi harus senantiasa dikontrol (Majid, 2007). Sebagian besar bentuk penyakit jantung adalah kronis. Pemberian obat umumnya berjangka panjang, meskipun obat-obat itu berguna tetapi juga memberikan efek samping (Soeharto, 2001). Pengobatan penyakit jantung koroner dimaksudkan tidak sekedar mengurangi atau bahkan menghilangkan keluhan, yang paling penting adalah memelihara fungsi jantung sehingga harapan hidup akan meningkat (Yahya, 2010).

Tujuan obat-obat adalah untuk mengendalikan faktor risiko yang bisa dimodifikasi dan memperbaiki fungsi jantung. Beberapa obat jantung memiliki efek samping sehingga perlu beberapa saat untuk menemukan obat yang cocok dan memerlukan konsultasi dengan dokter. Obat jantung tidak boleh dihentikan secara tiba-tiba tanpa nasihat dokter karena ada risiko yang dapat memperburuk gejala.

Berbagai obat yang dapat digunakan untuk mengobati di antaranya: 

  1. Obat penurun kolesterol
    Misalnya golongan statin, niasin, fibrat, dan sekuestran asam empedu. Obat yang memberikan manfaat terbesar adalah statin. Statin berfungsi menurunkan kolesterol tinggi dengan membuang LDL dari darah sehingga memperlambat perkembangan penyakit jantung.
    Pengobatan dengan statin digunakan untuk mengurangi risiko baik pada prevensi primer maupun prevensi sekunder. Statin selain sebagai penurun kolesterol, juga mempunyai mekanisme lain yang dapat berperan sebagai anti inflamasi, anti trombotik, dll.
    Target penurunan LDL kolesterol adalah <100 mg/dl dan pada pasien risiko tinggi, salah satunya DM, danjurkan menurunkan LDL <70 mg/dl.

  2. Aspirin
    Hal ini dapat mengurangi kecenderungan pembekuan darah, yang dapat membantu mencegah penyumbatan arteri koroner, dan dapat membantu mencegah serangan di masa mendatang.

  3. Thienopyridine Clopidogrel dan Ticlopidine
    Berfungsi untuk menghambat agregasi trombosit (pembekuan darah). Clopidogrel lebih diindikasikan pada penderita dengan resistensi atau intoleransi terhadap aspirin.

  4. Beta Blocker.
    Obat-obatan ini berfungsi untuk memperlambat detak jantung dan menurunkan tekanan darah, yang menurunkan kebutuhan jantung akan oksigen. Beta blocker mengurangi risiko serangan di masa mendatang.
    Pemberian beta blocker dilakukan dengan target denyut jantung 50-60x/menit. Kontraindikasi terpenting pemberian beta blocker adalah riwayat asma bronkhial serta disfungsi bilik kiri jantung akut.

  5. Calcium Channel Blocker 
    Obat ini memiliki efek vasodilatasi dan dapat mengurangi keluhan pada pasien yang telah mendapat nitrat ataupun beta blocker. Antagonis kalsium tidak disarankan bila terjadi penurunan fungsi bilik kiri jantung dan gangguan konduksi atrioventrikel.
    Obat-obatan ini dapat digunakan dengan beta blocker jika pemberian beta blocker saja tidak efektif atau sebagai pengganti beta blocker. Obat ini dapat membantu meredakan gejala nyeri dada.

  6. Ranolazine. 
    Obat ini dapat membantu orang dengan nyeri dada (angina).

  7. Nitrogliserin. 
    Dapat mengontrol nyeri dada dengan melebarkan arteri koroner untuk sementara dan mengurangi permintaan darah dari jantung.
    Nitrat pada umumnya disarankan karena memiliki efek venodilator sehingga beban jantung dapat menurun dan konsumsi oksigen miokard juga menurun. Nitrat juga melebarkan pembuluh darah normal yang mengalami aterosklerotik, menaikkan aliran darah kolateral, dan menghambat agregasi trombosit. Efek samping obat adalah sakit kepala dan flushing.

  8. ACE Inhibitor (ACE-I) & ARB
    Obat serupa ini menurunkan tekanan darah dan dapat membantu mencegah perkembangan penyakit arteri koroner. ACE-I juga berperan sebagai kardioproteksi untuk prevensi sekunder pada pasien dengan PJK. Bila intoleransi terhadap ACE-I, dapat diganti dengan ARB.

Jika terjadi penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan ateroma (timbunan lemak) atau jika gejala tidak dapat dikontrol menggunakan obat-obatan, maka pembedahan intervensi mungkin diperlukan untuk membuka arteri yang tersumbat (revaskularisasi). Tujuan revaskularisasi adalah meningkatkan survival, mencegah infark, ataupun untuk menghilangkan gejala. Tindakan mana yang dipilih tergantung pada risiko dan keluhan pasien.

Secara umum, pasien yang memiliki indikasi untuk dilakukan arteriography koroner dan tindakan kateterisasi yang menunjukkan penyempitan arteri koroner adalah kandidat yang potensial dilakukan tindakan revaskularisasi. Selain itu, tindakan ini dapat dilakukan pada pasien jika:

  • Pengobatan tidak berhasil mengontrol keluhan pasien.
  • Hasil uji non-invasif menunjukkan adanya risiko miokard.
  • Dijumpai risiko tinggi untuk kejadian dan kematian.
  • Pasien lebih memilih tindakan intervensi dibanding dengan pengobatan biasa dan sepenuhnya mengerti risiko dari pengobatannya.

Berikut adalah beberapa prosedur utama yang digunakan:

  1. Angioplasti koroner juga dikenal sebagai intervensi koroner perkutan (PCI), angioplasti koroner transluminal perkutan (PTCA), atau angioplasti balon.
    • Merupakan prosedur terencana untuk seseorang dengan angina atau perawatan segera jika gejalanya menjadi tidak stabil. 
    • Dilakukan pemeriksaan angiogram koroner terlebih dahulu untuk menentukan tindakan.
    • Dilakukan sebagai perawatan darurat selama serangan jantung. 
    • Dilakukan dengan memasukkan kateter ke bagian arteri yang mengalami penyempitan. Kemudian, dokter akan mengembangkan balon kecil melalui kateter untuk melebarkan arteri yang menyempit. Dengan demikian, aliran darah dapat kembali lancar. Ring (stent) akan dipasang di arteri guna mencegah penyempitan kembali."
  2. Cangkok bypass arteri koroner (CABG) juga dikenal sebagai operasi bypass, bypass jantung, atau operasi bypass arteri koroner. 
    • Prosedur ini dilakukan dengan mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain untuk ditempel (dicangkok) ke bagian antara pembuluh darah besar (aorta) dan arteri dengan melewati area yang menyempit. Dengan begitu, darah akan mengalir lancar melalui rute baru tersebut.
    • Bypass jantung dilakukan dengan membedah dada pasien (operasi jantung terbuka). Oleh karena itu, prosedur ini umumnya hanya dilakukan bila terdapat banyak arteri koroner yang menyempit.
  3. Transplantasi Jantung
    • Dilakukan jika kerusakan jantung sudah sangat parah yang tidak dapat lagi diatasi dengan obat maupun tindakan lainnya.
    • Dilakukan dengan mengganti jantung yang rusak dengan jantung donor yang sehat.

Baca juga : Pengendalian Faktor Risiko Kejadian PJK