Gejala utama vertigo adalah sensasi berputar atau melayang, baik terasa pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Gejala ini sering muncul saat mengubah posisi kepala, misalnya ketika bangun dari tempat tidur, menoleh, atau menunduk. Keluhan lain yang dapat menyertai antara lain mual, muntah, keringat dingin, sulit menjaga keseimbangan, berjalan sempoyongan, telinga berdenging (tinnitus), penurunan pendengaran, rasa penuh pada telinga, gerakan mata yang tidak normal (nistagmus), serta sulit berkonsentrasi. Pada beberapa orang, vertigo dapat menyebabkan rasa cemas karena takut terjatuh.
Vertigo dapat dialami oleh siapa saja, tetapi risikonya lebih tinggi pada orang yang berusia di atas 50 tahun, memiliki riwayat vertigo sebelumnya, sering mengalami migrain, pernah mengalami cedera kepala, memiliki riwayat infeksi telinga, menderita diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi. Kurang tidur, stres, kelelahan, konsumsi alkohol berlebihan, serta perubahan posisi kepala yang terlalu cepat juga dapat memicu timbulnya vertigo pada sebagian orang.
Untuk mengetahui penyebab vertigo, dokter akan menanyakan riwayat keluhan secara rinci, seperti kapan vertigo mulai muncul, berapa lama berlangsung, apa yang memicu keluhan, serta gejala lain yang menyertainya. Selanjutnya dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan telinga, mata, serta keseimbangan. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan khusus seperti tes keseimbangan, tes pendengaran (audiometri), atau pemeriksaan pencitraan seperti CT Scan atau MRI apabila dicurigai terdapat gangguan pada otak atau saraf.
Penanganan vertigo bergantung pada penyebabnya. Dokter dapat memberikan obat untuk mengurangi rasa pusing, mual, dan muntah. Pada kasus BPPV, dapat dilakukan gerakan khusus (manuver reposisi/Epley maneuver) untuk mengembalikan posisi kristal di telinga bagian dalam sehingga gejala berkurang. Bila penyebabnya adalah infeksi, dokter akan memberikan pengobatan sesuai penyebabnya. Pada beberapa pasien juga dianjurkan menjalani latihan keseimbangan (rehabilitasi vestibular). Selama mengalami vertigo, penderita disarankan beristirahat, menghindari perubahan posisi secara mendadak, serta tidak mengemudi atau mengoperasikan mesin sampai kondisi membaik.
Tidak semua kasus vertigo dapat dicegah, tetapi risikonya dapat dikurangi dengan menerapkan pola hidup sehat. Tidur yang cukup (7–9 jam per hari), minum air putih yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berolahraga secara teratur, mengelola stres, serta mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol merupakan langkah yang dapat membantu mencegah kekambuhan. Bangun dari tempat tidur secara perlahan, menghindari gerakan kepala yang tiba-tiba, serta menggunakan pegangan saat merasa tidak seimbang juga dapat membantu mengurangi risiko jatuh akibat vertigo.
Segera periksa ke dokter apabila vertigo sering kambuh, berlangsung lebih dari beberapa jam, tidak membaik setelah beristirahat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Segera ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) apabila vertigo disertai sakit kepala yang sangat hebat, kelemahan atau mati rasa pada salah satu sisi tubuh, bicara pelo, wajah mencong, penglihatan ganda, sulit berjalan, penurunan kesadaran, kejang, nyeri dada, atau penurunan pendengaran secara mendadak. Gejala-gejala tersebut dapat menandakan kondisi serius seperti stroke yang memerlukan penanganan segera.
Belum Ada Komentar