Info Terbaru

image-newest
Info Kesehatan

Cara Ampuh Usir Stres dan Tingkatkan Fokus Hanya dengan Mengatur Napas Rabu, 26 Agustus 2026 21:22 WIB Gaya hidup modern yang serba cepat dan tekanan pekerjaan sering kali memicu stres dan kecemasan. Saat kondisi tersebut melanda, napas seseorang umumnya menjadi lebih cepat dan tidak teratur. Untuk mengatasi hal ini, para ahli kesehatan merekomendasikan sebuah metode sederhana yang dikenal dengan sebutan teknik box breathing. Melalui kampanye edukasi kesehatannya, Yakes-Telkom turut membagikan panduan praktis mengenai teknik pernapasan ini. Metode box breathing dinilai efektif sebagai pertolongan pertama untuk mengembalikan ritme napas, sehingga tubuh dan pikiran dapat kembali rileks. Apa Itu Box Breathing? Melansir dari informasi kesehatan yang dibagikan, box breathing adalah teknik pernapasan terstruktur yang membagi proses pernapasan ke dalam empat langkah utama, di mana masing-masing fase ditahan selama 4 detik. Teknik ini tidak memerlukan peralatan khusus maupun ruangan yang luas, sehingga sangat praktis dilakukan kapan saja dan di mana saja, terutama dalam situasi yang memicu kepanikan atau ketegangan. Beragam Manfaat untuk Kesehatan Mental dan Fisik Penerapan box breathing secara rutin tidak hanya sekadar mengatur napas, tetapi juga memberikan dampak signifikan bagi kesehatan tubuh, antara lain: Meredakan Stres dan Kecemasan: Membantu menenangkan sistem saraf pusat sehingga ketegangan tubuh berkurang. Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi: Pikiran yang tenang terbukti ampuh menjernihkan otak, sehingga produktivitas saat bekerja atau belajar kembali meningkat. Membantu Tidur Lebih Nyenyak: Sangat direkomendasikan bagi mereka yang mengalami insomnia atau kesulitan tidur, karena teknik ini mampu menenangkan pikiran sebelum istirahat malam. Menurut anjuran medis, teknik ini sangat tepat diaplikasikan pada momen-momen krusial, seperti saat sedang merasa cemas, sebelum melakukan presentasi atau rapat penting, setelah menjalani aktivitas fisik yang melelahkan, maupun menjelang waktu tidur. Cara Tepat Mempraktikkan Box Breathing Bagi Anda yang ingin mencobanya, ikuti empat tahapan sederhana berikut yang masing-masing berdurasi 4 detik: Tarik Napas: Hirup udara secara perlahan dan dalam melalui hidung selama 4 detik. Tahan Napas: Tahan udara di dalam paru-paru sejenak, juga selama 4 detik. Buang Napas: Hembuskan udara secara perlahan melalui mulut selama 4 detik. Tahan Kembali: Tahan kembali napas Anda (kondisi paru-paru kosong) selama 4 detik sebelum mengulangi siklus pertama. Ulangi siklus pernapasan ini beberapa kali hingga Anda merasa beban pikiran mulai terangkat dan tubuh terasa jauh lebih rileks. Tips Memaksimalkan Latihan Agar mendapatkan hasil yang optimal, terdapat beberapa tips yang bisa diterapkan saat mempraktikkan box breathing: Carilah posisi duduk atau berdiri yang paling nyaman dan rileks. Lakukan proses bernapas secara perlahan tanpa terburu-buru. Fokuskan pikiran penuh pada hitungan (1 sampai 4) dan rasakan setiap ritme napas yang masuk dan keluar. Lakukan latihan ini selama 1 hingga 5 menit, atau sesuaikan dengan kebutuhan tubuh Anda. Dengan meluangkan waktu beberapa menit saja setiap harinya, tubuh tidak hanya menjadi lebih rileks, tetapi stres pun menjadi lebih mudah untuk dikelola. Sebuah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi kualitas hidup dan kesehatan mental Anda.

image-newest
Info Kesehatan

Minuman Manis, Teman atau Ancaman? Senin, 24 Agustus 2026 21:24 WIB Segelas es teh manis saat makan siang, kopi kekinian di sore hari, atau minuman bersoda saat berkumpul bersama teman mungkin sudah menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Rasanya menyegarkan dan mampu meningkatkan suasana hati. Namun, tanpa disadari, kebiasaan mengonsumsi minuman manis setiap hari dapat membuat asupan gula menjadi berlebihan. Padahal, tubuh memang membutuhkan gula sebagai sumber energi, tetapi dalam jumlah yang sesuai. Ketika konsumsi gula melebihi kebutuhan tubuh secara terus-menerus, risiko berbagai penyakit kronis pun dapat meningkat. Asupan gula berlebih dapat menyebabkan berat badan bertambah karena kelebihan gula akan disimpan sebagai lemak. Selain itu, kadar gula darah yang sering melonjak juga dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2. Tidak hanya itu, konsumsi gula berlebihan juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, kerusakan gigi akibat bakteri di rongga mulut, hingga membuat tubuh lebih cepat lapar dan mudah lelah karena kadar gula darah yang naik dan turun secara drastis. Kabar baiknya, mengurangi konsumsi gula tidak harus dilakukan secara ekstrem. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, mulai memilih air putih sebagai minuman utama, mengurangi minuman kemasan atau kopi dengan tambahan gula, serta membiasakan membaca label informasi gizi sebelum membeli makanan dan minuman. Jika ingin camilan, buah segar dapat menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan makanan atau minuman tinggi gula. Bagi yang terbiasa mengonsumsi minuman manis, kurangi kadar gulanya secara bertahap. Cara ini membantu lidah beradaptasi sehingga tubuh tidak merasa "kehilangan" rasa manis secara tiba-tiba. Melalui Hari ke-6 dalam rangkaian "7 Tantangan 7 Hari Lebih Sehat", Yakes mengajak seluruh peserta untuk mulai membangun kebiasaan sederhana ini. Mengurangi minuman manis bukan berarti menghilangkan kenikmatan, melainkan memilih yang lebih baik bagi kesehatan tubuh.

image-newest
Info Kesehatan

Hidup Bebas Cemas, Apakah Bisa? Rabu, 19 Agustus 2026 21:26 WIB Kecemasan adalah kondisi yang pasti pernah dialami setiap individu. American Psychological Association (APA) mendefinisikan kecemasan sebagai salah satu emosi dengan ciri-ciri perasaan tegang, pikiran khawatir, dan perubahan fisik seperti peningkatan tekanan darah. Perasaan cemas biasanya muncul sebelum menghadapi kejadian penting atau dalam situasi sulit. Sehingga dalam intensitas dan frekuensi tertentu justru membantu keberlangsungan hidup seseorang. Kecemasan dapat membantu kita untuk mengarahkan perhatian terhadap hal yang penting dan memotivasi kita untuk melewati suatu masalah. Sebagai contoh, dengan kecemasan, kita mencoba belajar lebih tekun sebelum mengikuti ujian. Dapat dilihat bahwa kecemasan penting untuk dimiliki untuk dalam kadar tertentu. Namun, jika kecemasan yang muncul terlalu kuat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, maka kecemasan perlu dikelola. Pengelolaan kecemasan dapat dilakukan secara mandiri atau menggunakan pertolongan ahi seperti psikolog. Pengelolaan mandiri kecemasan yang dapat dilakukan antara lain:  Manajemen stres: Belajar untuk mengelola stres dapat meningkatkan ambang batas kecemasan. Kurangi beban kerja, buat prioritas dan daftar pekerjaan yang akan datang, serta istirahat sesuai kebutuhan dapat membuat tugas berat menjadi lebih terkelola. Teknik relaksasi: Meditasi, relaksasi otot progresif, relaksasi napas, berendam air hangat, dan yoga merupakan contoh aktivitas untuk dapat meningkatkan relaksasi. Berolahraga rutin serta mengadaptasi pola makan sehat seimbang. Olahraga dapat meningkatkan kepercayaan diri serta memicu pelepasan hormon dalam otak yang mampu mendatangkan perasaan positif. Berlatih mengubah pola pikir negatif: Buatlah catatan berisi daftar pikiran negatif berulang yang memicu kecemasan, lalu buat pikiran faktual atau positif yang dapat menggantikannya. Cari dukungan sosial: Komunikasi dengan anggota keluarga dan teman yang suportif atau ikuti support grup yang ada di lingkungan. Jika dirasa kecemasan terlalu kuat dan tidak dapat ditangani secara mandiri, maka pertolongan ahli diperlukan. Psikiater dapat memberikan pengobatan dengan beberapa jenis antidepresan, benzodiazepines, tricyclics, dan beta-blockers. Jenis obat dan dosis yang diberikan akan disesuaikan dengan kondisi penderita. Selain itu, psikiater dan psikolog dapat memberikan psikoterapi. Psikoterapi melibatkan diskusi dengan profesional kesehatan mental seperti psikolog, psikiater, dan konselor untuk mempelajari bagaimana cara mengelola kecemasan. Teknik yang paling sering digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Jadi kecemasan itu kita butuhkan, namun dalam kadar berlebihan, perlu dikelola. Yuk perhatikan kesehatan mental kita dengan mengelola. Sumber: www.apa.org. www.psychologytoday.com www.mayoclinichealthsystem.org www.nimh.nih.gov  American Psychiatric Association (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders. American Psychiatric Publishing: Washington, DC (by: Azza Maulydia., M.Psi, Psikolog)

image-newest
Info Kesehatan

Jangan Anggap Sepele, Telat Makan Bisa Berdampak pada Kesehatan Tubuh Senin, 17 Agustus 2026 21:28 WIB Kesibukan sehari-hari sering membuat banyak orang menunda waktu makan. Mulai dari pekerjaan yang menumpuk, aktivitas padat, hingga lupa waktu, telat makan kerap dianggap hal biasa. Padahal, kebiasaan ini dapat memengaruhi kondisi tubuh dan kesehatan secara keseluruhan. Saat tubuh terlalu lama tidak mendapatkan asupan makanan, produksi asam lambung dapat meningkat. Kondisi ini dapat memicu rasa perih di perut, mual, hingga heartburn atau sensasi panas di dada. Selain itu, pola makan yang tidak teratur juga dapat mengganggu ritme tubuh sehingga membuat badan terasa lemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah lelah saat beraktivitas. Tidak hanya itu, telat makan juga dapat menyebabkan kadar gula darah menurun. Ketika tubuh kekurangan energi, seseorang bisa mengalami pusing, gemetar, hingga sulit fokus dalam bekerja maupun belajar. Jika terjadi terus-menerus, kebiasaan ini tentu dapat berdampak pada produktivitas dan kesehatan jangka panjang. Untuk menjaga kesehatan lambung dan tubuh tetap bugar, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: Membiasakan makan secara teratur setiap hari Tidak melewatkan sarapan Menyiapkan camilan sehat saat beraktivitas Mengatur pengingat jam makan di ponsel Menghindari kebiasaan menunda makan saat sibuk Menjaga pola makan bukan hanya tentang menghilangkan rasa lapar, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan tubuh dan kesehatan secara menyeluruh. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu tubuh tetap berenergi dan lambung lebih nyaman setiap hari. Yuk mulai lebih peduli dengan kesehatan diri sendiri dengan membiasakan makan tepat waktu

image-newest
Info Kesehatan

Bukan Cuma Kardio, Ternyata Angkat Beban Jadi "Senjata Rahasia" Lawan Diabetes. Rabu, 05 Agustus 2026 21:31 WIB Banyak yang beranggapan bahwa penyandang diabetes harus membatasi aktivitas fisiknya. Namun faktanya, latihan angkat beban justru menjadi salah satu kunci penting dalam mengelola diabetes. Bagi penyandang Diabetes Tipe 2, aktivitas ini bukan sekadar untuk membentuk otot, melainkan bagian krusial dalam menjaga kesehatan metabolik. Mengapa Latihan Beban Sangat Dianjurkan? Berdasarkan hasil meta-analisis besar dari berbagai penelitian berkualitas tinggi, latihan beban (resistance training) terbukti membantu mengendalikan diabetes pada orang dewasa dengan Diabetes Tipe 2. Kuncinya ada pada otot kita. Otot berperan sebagai salah satu pengguna glukosa terbesar di dalam tubuh. Ketika Anda rutin berlatih dan massa serta kekuatan otot meningkat, maka akan terjadi perubahan positif di dalam tubuh: Penyerapan gula darah menjadi jauh lebih efisien. Respons tubuh terhadap insulin membaik. Pengelolaan gula darah menjadi lebih optimal. Berbagai Manfaat Latihan Beban bagi Penyandang Diabetes Tipe 2 Penelitian menunjukkan bahwa menjalani latihan beban dan kardio selama empat bulan dapat memberikan berbagai manfaat yang signifikan. Berikut adalah deretan manfaat utama dari latihan beban: Membantu menurunkan dan mengontrol kadar gula darah secara efektif. Meningkatkan sensitivitas insulin di dalam tubuh. Membantu penurunan lemak visceral (lemak yang mengelilingi organ dalam) dan lemak bawah kulit. Mendukung kesehatan metabolik secara menyeluruh. Menambah kekuatan fisik dan kapasitas tubuh untuk beraktivitas sehari-hari. Panduan Aman Memulai Latihan Beban Meskipun latihan beban sangat baik untuk diabetes, rutinitas ini tetap harus dilakukan dengan benar. Agar latihan beban bisa dilakukan secara aman dan terukur, perhatikan empat hal berikut ini: Lakukan pemanasan sebelum latihan: Otot dan sendi yang belum siap lebih mudah mengalami cedera. Karena itu, selalu awali latihan dengan gerakan pemanasan ringan. Utamakan teknik, bukan ego: Mengangkat beban yang terlalu berat belum tentu lebih efektif. Teknik yang salah justru akan sangat meningkatkan risiko cedera pada tubuh Anda. Istirahat sama pentingnya dengan latihan: Istirahat yang cukup sangat dibutuhkan karena akan membantu otot untuk pulih dan berkembang secara optimal. Jangan ragu berkonsultasi: Apabila Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional atau dokter sebelum memulai rutinitas olahraga ini. Mulailah secara bertahap dan tetap konsisten untuk mendapatkan manfaat latihan beban secara maksimal bagi kesehatan Anda.

image-newest
Info Kesehatan

Sate, Gulai, Rendang? Nikmati Iduladha Tetap Sehat dengan Cara Ini! Selasa, 26 Mei 2026 21:30 WIB Hari Raya Iduladha selalu identik dengan kebersamaan keluarga dan aneka hidangan olahan daging yang menggugah selera. Mulai dari sate, gulai, rendang, hingga tongseng menjadi menu favorit yang dinantikan setiap tahunnya. Tidak heran, momen makan bersama saat Iduladha menjadi salah satu bagian paling hangat dan menyenangkan. Namun di balik kelezatan hidangan tersebut, konsumsi daging berlebihan juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti kolesterol tinggi, tekanan darah meningkat, hingga gangguan pencernaan. Karena itu, penting untuk tetap memperhatikan pola makan agar tubuh tetap sehat selama perayaan Iduladha. Berikut beberapa tips sehat yang dapat diterapkan saat menikmati hidangan Iduladha: 1. Batasi Konsumsi Daging Berlemak Pilih bagian daging yang lebih rendah lemak dan hindari mengonsumsi terlalu banyak santan atau makanan berminyak. Mengatur porsi makan membantu tubuh tetap nyaman dan mengurangi risiko kenaikan kolesterol. 2. Perbanyak Konsumsi Sayur dan Buah Lengkapi menu olahan daging dengan sayur dan buah yang kaya serat. Serat membantu melancarkan pencernaan serta menyeimbangkan asupan lemak dalam tubuh. 3. Cukupi Kebutuhan Air Putih Konsumsi makanan tinggi protein perlu diimbangi dengan asupan cairan yang cukup. Minum air putih minimal 8 gelas per hari dapat membantu menjaga metabolisme dan mencegah dehidrasi. 4. Tetap Aktif Bergerak Setelah menikmati hidangan khas Iduladha, sempatkan melakukan aktivitas ringan seperti berjalan santai atau olahraga ringan agar tubuh tetap bugar. Merayakan Iduladha bukan berarti harus membatasi kebahagiaan menikmati makanan favorit. Dengan pola makan yang lebih seimbang dan gaya hidup sehat, momen kebersamaan bersama keluarga tetap bisa dinikmati dengan nyaman dan menyenangkan. Yuk, rayakan Iduladha dengan lebih sehat bersama keluarga tercinta!

Info Terpopuler

image-popular
Info Kesehatan

Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan untuk Menjaga Kesehatan Usus Besar Jumat, 11 September 2026 08:10 WIB Kanker kolorektal atau kanker usus besar kini tidak hanya menjadi perhatian pada usia lanjut. Meningkatnya kasus kanker kolorektal pada orang dewasa muda dapat menjadi perhatian. Karena itu, menjaga kesehatan usus sejak dini penting dilakukan melalui pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah konsumsi daging merah dan daging olahan. Menurut ahli onkologi Christopher G. Cann, daging merah, daging asap, daging yang diawetkan, serta daging olahan seperti salami, pepperoni, dan chorizo berkaitan dengan peningkatan risiko kanker usus besar jika dikonsumsi terlalu sering. Konsumsi daging merah secara rutin juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan demensia, serta dapat memberikan dampak negatif terhadap sistem kekebalan tubuh.  Walaupun harus diperhatikan, Ahli onkologi tersebut menyebutkan makanan tersebut bukan berarti harus dihindari sepenuhnya. Kuncinya adalah membatasi frekuensi dan jumlah konsumsinya. 3 Kebiasaan Yang Juga Perlu Diperhatikan Menjaga kesehatan usus besar bukan hanya tentang apa yang ada di piring. Beberapa kebiasaan sehari-hari juga dapat memengaruhi risiko kanker kolorektal. Berikut diantaranya: Batasi Alkohol Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker kolorektal. Semakin bijak konsumsinya, semakin baik untuk kesehatan. Jauhi Rokok Merokok bukan hanya berdampak pada paru-paru. Penelitian menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko kanker kolorektal hingga 39% lebih tinggi. Luangkan waktu untuk tetap aktif Kurang bergerak dapat berdampak pada kesehatan tubuh. Sebaliknya, aktivitas fisik rutin dapat membantu menurunkan risiko kanker usus besar hingga 30%. Menjaga kesehatan usus besar bisa dimulai dari kebiasaan sederhana. Batasi daging merah dan olahan, kurangi alkohol, hindari rokok, dan luangkan waktu untuk tetap aktif bergerak. Jangan lupa dengarkan kondisi tubuh. Jika muncul gejala atau perubahan yang terasa tidak biasa, jangan menunggu terlalu lama untuk memeriksakannya. Yuk, mulai jaga kesehatan usus dari pilihan yang kita lakukan setiap hari.

image-popular
Info Kesehatan

Bukan Cuma Kardio, Ternyata Angkat Beban Jadi "Senjata Rahasia" Lawan Diabetes. Rabu, 05 Agustus 2026 21:31 WIB Banyak yang beranggapan bahwa penyandang diabetes harus membatasi aktivitas fisiknya. Namun faktanya, latihan angkat beban justru menjadi salah satu kunci penting dalam mengelola diabetes. Bagi penyandang Diabetes Tipe 2, aktivitas ini bukan sekadar untuk membentuk otot, melainkan bagian krusial dalam menjaga kesehatan metabolik. Mengapa Latihan Beban Sangat Dianjurkan? Berdasarkan hasil meta-analisis besar dari berbagai penelitian berkualitas tinggi, latihan beban (resistance training) terbukti membantu mengendalikan diabetes pada orang dewasa dengan Diabetes Tipe 2. Kuncinya ada pada otot kita. Otot berperan sebagai salah satu pengguna glukosa terbesar di dalam tubuh. Ketika Anda rutin berlatih dan massa serta kekuatan otot meningkat, maka akan terjadi perubahan positif di dalam tubuh: Penyerapan gula darah menjadi jauh lebih efisien. Respons tubuh terhadap insulin membaik. Pengelolaan gula darah menjadi lebih optimal. Berbagai Manfaat Latihan Beban bagi Penyandang Diabetes Tipe 2 Penelitian menunjukkan bahwa menjalani latihan beban dan kardio selama empat bulan dapat memberikan berbagai manfaat yang signifikan. Berikut adalah deretan manfaat utama dari latihan beban: Membantu menurunkan dan mengontrol kadar gula darah secara efektif. Meningkatkan sensitivitas insulin di dalam tubuh. Membantu penurunan lemak visceral (lemak yang mengelilingi organ dalam) dan lemak bawah kulit. Mendukung kesehatan metabolik secara menyeluruh. Menambah kekuatan fisik dan kapasitas tubuh untuk beraktivitas sehari-hari. Panduan Aman Memulai Latihan Beban Meskipun latihan beban sangat baik untuk diabetes, rutinitas ini tetap harus dilakukan dengan benar. Agar latihan beban bisa dilakukan secara aman dan terukur, perhatikan empat hal berikut ini: Lakukan pemanasan sebelum latihan: Otot dan sendi yang belum siap lebih mudah mengalami cedera. Karena itu, selalu awali latihan dengan gerakan pemanasan ringan. Utamakan teknik, bukan ego: Mengangkat beban yang terlalu berat belum tentu lebih efektif. Teknik yang salah justru akan sangat meningkatkan risiko cedera pada tubuh Anda. Istirahat sama pentingnya dengan latihan: Istirahat yang cukup sangat dibutuhkan karena akan membantu otot untuk pulih dan berkembang secara optimal. Jangan ragu berkonsultasi: Apabila Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional atau dokter sebelum memulai rutinitas olahraga ini. Mulailah secara bertahap dan tetap konsisten untuk mendapatkan manfaat latihan beban secara maksimal bagi kesehatan Anda.

image-popular
Info Kesehatan

Benarkah Penderita Asam Urat Pantang Makan Sayuran Hijau? Rabu, 02 September 2026 21:18 WIB Selama ini, banyak masyarakat khususnya penderita asam urat meyakini bahwa mereka harus menghindari atau bahkan berhenti total mengonsumsi sayuran hijau. Sayuran kerap dituduh sebagai biang kerok pemicu melonjaknya kadar asam urat yang menyebabkan nyeri sendi hebat. Namun, benarkah anggapan medis tersebut? Ternyata, anggapan bahwa penderita asam urat dilarang makan sayuran hijau hanyalah mitos belaka. Faktanya, sebagian besar sayuran hijau memiliki kandungan purin yang rendah. Purin adalah zat yang ketika dipecah oleh tubuh akan menghasilkan asam urat. Mengingat kandungan purin pada sayur hijau tergolong minim, bahan pangan ini umumnya sangat aman dikonsumsi sebagai bagian dari pola makan dengan gizi seimbang. Pilihan Sayuran yang Aman dan Perlu Dibatasi Penderita asam urat tidak perlu ragu untuk melengkapi piring makan harian mereka dengan sayur-mayur. Beberapa jenis sayuran yang terbukti aman dan direkomendasikan untuk dikonsumsi meliputi: Selada Mentimun Wortel Kale Paprika Kol merah Kentang Meski mayoritas aman, memang ada beberapa sayuran yang mengandung purin sedikit lebih tinggi. Sayuran jenis ini bukan berarti harus dihindari sepenuhnya, melainkan hanya perlu dibatasi porsi konsumsinya. Sayuran yang masuk dalam kategori ini antara lain bayam, asparagus, dan kembang kol. Waspada, Inilah Pemicu Asam Urat yang Sebenarnya! Alih-alih memusuhi sayuran, penderita asam urat justru harus lebih waspada terhadap jenis makanan dan minuman lain yang sudah terbukti secara medis memiliki kadar purin sangat tinggi. Risiko kekambuhan justru lebih sering dipicu oleh hal-hal berikut: Jeroan: Hindari konsumsi organ dalam hewan karena kandungan purinnya sangat tinggi. Daging Merah: Konsumsi berlebih pada daging sapi, kambing, atau domba dapat meningkatkan asam urat secara drastis. Seafood Tertentu: Batasi hidangan laut seperti udang, kerang, sarden, dan tuna. Minuman Beralkohol: Alkohol diketahui dapat menghambat proses pengeluaran asam urat dari dalam tubuh. Minuman Tinggi Gula atau Fruktosa: Minuman manis dapat meningkatkan produksi asam urat secara signifikan di dalam tubuh. Langkah Tepat Mencegah Kekambuhan Membatasi makanan pemicu di atas terbukti jauh lebih efektif dalam mencegah serangan asam urat dibandingkan dengan menghindari sayuran hijau. Selain menjaga pola makan, gaya hidup sehat juga memegang peranan krusial. Pakar kesehatan menyarankan masyarakat untuk memperbanyak minum air putih untuk membantu kerja ginjal, menjaga berat badan agar tetap ideal, serta rutin melakukan aktivitas fisik atau berolahraga. Kesimpulannya, konsumsi sayuran hijau tetap penting untuk menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Hal yang perlu diperhatikan adalah variasi jenis makanan secara keseluruhan, mengontrol porsi makan, dan menerapkan pola hidup sehat, bukan sekadar menghindari sayur-sayuran.

image-popular
Info Kesehatan

Awas 'Encok' Dini! Lakukan 6 Gerakan Ini Tanpa Harus Berdiri dari Kursi Kerjamu Jumat, 28 Agustus 2026 21:21 WIB Rutinitas mengejar deadline sering kali menuntut kita duduk terpaku berjam-jam di depan layar. Saking fokusnya, tubuh yang tadinya tegap perlahan makin membungkuk mendekati monitor. Tanpa disadari, kebiasaan ini memicu rasa pegal, kaku pada persendian, dan rasa lelah yang lebih cepat datang meski kita tidak melakukan aktivitas fisik berat. Duduk terlalu lama memang menjadi musuh senyap bagi sirkulasi darah dan otot. Namun, tenang saja! Menjaga kebugaran saat bekerja tidak selalu harus dilakukan di pusat kebugaran. Anda bisa mengembalikan kesegaran tubuh dengan meluangkan waktu beberapa menit saja untuk stretching ringan, langsung dari kursi kerja Anda. Berikut adalah 6 gerakan peregangan praktis yang bisa langsung Anda sontek untuk mengusir rasa kaku di tengah kesibukan: 1. Peregangan Leher untuk Usir Ketegangan Sering merasa tengkuk berat dan kaku? Cobalah miringkan dan putar leher secara perlahan ke arah kanan dan kiri. Gerakan sederhana ini sangat efektif mengurangi ketegangan pada area leher dan pundak. Ingat, lakukan dengan lembut dan hindari membunyikan leher secara paksa agar tidak memicu cedera. 2. Putar Bahu, Lepaskan Beban Beban pekerjaan tak jarang membuat area bahu menegang. Putarlah bahu ke depan dan ke belakang secara bergantian sebanyak 10–15 kali. Gerakan ini akan membantu me-rileks-kan otot setelah terlalu lama diam dalam posisi mengetik. 3. Lemaskan Pergelangan Tangan Penggunaan keyboard dan mouse secara intens adalah pemicu utama kekakuan jari dan pergelangan tangan. Putar pergelangan tangan searah dan berlawanan arah jarum jam masing-masing 10–15 kali agar pergerakan tangan kembali luwes dan terhindar dari kram. 4. Buka Dada, Perbaiki Postur Layar monitor sering kali "menarik" postur tubuh kita untuk membungkuk. Lawan kebiasaan ini dengan merentangkan kedua tangan ke samping, tarik bahu ke belakang, lalu tahan selama beberapa detik. Gerakan ini adalah kunci untuk memperbaiki postur tubuh bagian atas. 5. Jangan Lupakan Pergelangan Kaki Sirkulasi darah di area kaki kerap terhambat saat kita duduk terlalu lama. Angkat sedikit kaki Anda dari lantai, lalu putar pergelangan kaki secara perlahan ke dua arah. Gerakan ini akan melancarkan sirkulasi darah bagian bawah dan mencegah rasa kesemutan. 6. Aktifkan Otot Perut Otot inti (core) yang kuat akan membantu Anda duduk lebih tegak dan stabil. Kencangkan otot perut selama beberapa detik, lalu lepaskan perlahan. Ulangi gerakan ini beberapa kali untuk menjaga kekuatan otot perut selama bekerja. Bangun Kebiasaan Kecil untuk Perubahan Besar Peregangan di atas akan jauh lebih efektif jika diimbangi dengan kebiasaan ergonomis di meja kerja. Agar tubuh tetap fit hingga jam pulang kerja tiba, pastikan Anda mulai menerapkan kebiasaan kecil berikut ini: Pasang pengingat waktu: Biasakan untuk mengambil jeda dan melakukan peregangan rutin setiap 45–60 menit sekali. Atur pandangan mata: Pastikan posisi monitor sejajar dengan pandangan mata agar leher tidak terus-terusan menunduk atau mendongak. Duduk dengan postur tepat: Biasakan duduk dengan punggung tegak bersandar, siku membentuk sudut 90 derajat, dan telapak kaki menapak penuh di lantai. Curi waktu untuk berjalan: Sesekali berdirilah, entah sekadar untuk mengambil air minum atau berjalan singkat ke meja rekan kerja, agar tubuh tetap aktif. Menyelesaikan pekerjaan dengan baik memang penting, namun menjaga kesehatan tubuh Anda jauh lebih utama. Gerakan-gerakan simpel ini adalah bentuk investasi kecil untuk menciptakan hari kerja yang lebih produktif, nyaman, dan pastinya bebas pegal!

image-popular
Info Kesehatan

Rahasia Tulang Kuat dan Sendi Bebas Nyeri di Usia Senja Minggu, 20 September 2026 09:58 WIB Pernahkah Anda merasa lutut berbunyi "krek" saat bangkit dari kursi, atau punggung terasa kaku setelah menggendong cucu? Jika iya, Anda tidak sendirian. Seiring bertambahnya usia, tubuh kita mengalami perubahan alami. Kepadatan tulang mulai menurun (osteoporosis), massa otot menyusut (sarkopenia), dan pelumas pada sendi tidak lagi seoptimal dulu (osteoartritis). Keluhan seperti pegal linu, encok, atau tubuh yang terasa kaku di pagi hari sering kali dianggap sebagai "penyakit wajar orang tua". Padahal, usia senja bukanlah alasan untuk berhenti bergerak bebas. Dengan beberapa penyesuaian gaya hidup, Anda tetap bisa beraktivitas dengan nyaman tanpa gangguan nyeri tulang, otot, maupun sendi. Berikut adalah panduan praktis yang bisa Anda terapkan mulai hari ini: 1. Tetap Aktif Bergerak (Gunakan Prinsip Use It or Lose It) Otot dan sendi ibarat mesin; jika jarang digunakan, ia akan berkarat dan kaku. Olahraga ringan yang rutin justru berfungsi melumasi persendian dan memperkuat otot penyangga tulang. Pilihan aktivitas: Jalan kaki pagi, berenang, senam tera, atau bersepeda statis. Latihan peregangan: Lakukan peregangan ringan setiap pagi atau setelah duduk lebih dari 60 menit. Ini membantu menjaga kelenturan dan mencegah kaku otot. 2. Perhatikan Postur Tubuh dan Cara Mengangkat Barang Sering kali, cedera otot dan sendi pada lansia tidak terjadi karena olahraga berat, melainkan karena aktivitas harian dengan postur yang salah. Saat ingin mengambil barang di lantai atau mengangkat beban (seperti galon atau pot tanaman), jangan langsung membungkuk. Biasakan untuk menekuk lutut, berjongkok terlebih dahulu, dan gunakan kekuatan otot paha serta kaki untuk berdiri. Jaga punggung tetap lurus agar tulang belakang terhindar dari tekanan berlebih. 3. Penuhi "Bahan Bakar" Tulang dan Otot Nutrisi adalah fondasi utama peremajaan sel tubuh. Pastikan piring makan Anda mengandung: Kalsium & Vitamin D: Susu rendah lemak, keju, ikan teri, sayuran hijau, dan jangan lupa berjemur di bawah sinar matahari pagi (sebelum jam 9 pagi) selama 10-15 menit untuk asupan Vitamin D alami. Protein: Sangat penting untuk menjaga massa otot agar tidak cepat menyusut. Konsumsi telur, ikan, tahu, tempe, dan dada ayam. 4. Jaga Berat Badan Ideal Setiap kilogram berat badan berlebih akan memberikan beban ekstra pada sendi penopang tubuh, terutama lutut dan pinggul. Menjaga berat badan tetap ideal adalah salah satu cara paling efektif untuk mencegah dan mengurangi nyeri sendi. 5. Jangan Abaikan Sinyal Tubuh Rasa nyeri adalah cara tubuh berkomunikasi. Jika Anda merasakan nyeri sendi yang tajam, bengkak, atau tidak kunjung hilang setelah beristirahat, jangan dipaksa untuk terus beraktivitas dan hindari mengurut area yang meradang secara sembarangan. Menua Itu Pasti, Tetap Aktif Itu Pilihan Menjaga kesehatan tulang, otot, dan sendi adalah investasi jangka panjang agar kita bisa menikmati masa pensiun dengan mandiri, bahagia, dan bebas beraktivitas bersama keluarga tercinta. Mulailah dari langkah kecil hari ini: perbaiki postur tubuh dan rutin bergerak. Punya keluhan seputar tulang dan sendi, atau ingin berkonsultasi mengenai program kebugaran yang aman untuk lansia? Jangan ragu untuk mengunjungi klinik atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan langsung dari ahlinya.

image-popular
Info Kesehatan

Jangan Anggap Sepele, Telat Makan Bisa Berdampak pada Kesehatan Tubuh Senin, 17 Agustus 2026 21:28 WIB Kesibukan sehari-hari sering membuat banyak orang menunda waktu makan. Mulai dari pekerjaan yang menumpuk, aktivitas padat, hingga lupa waktu, telat makan kerap dianggap hal biasa. Padahal, kebiasaan ini dapat memengaruhi kondisi tubuh dan kesehatan secara keseluruhan. Saat tubuh terlalu lama tidak mendapatkan asupan makanan, produksi asam lambung dapat meningkat. Kondisi ini dapat memicu rasa perih di perut, mual, hingga heartburn atau sensasi panas di dada. Selain itu, pola makan yang tidak teratur juga dapat mengganggu ritme tubuh sehingga membuat badan terasa lemas, sulit berkonsentrasi, dan mudah lelah saat beraktivitas. Tidak hanya itu, telat makan juga dapat menyebabkan kadar gula darah menurun. Ketika tubuh kekurangan energi, seseorang bisa mengalami pusing, gemetar, hingga sulit fokus dalam bekerja maupun belajar. Jika terjadi terus-menerus, kebiasaan ini tentu dapat berdampak pada produktivitas dan kesehatan jangka panjang. Untuk menjaga kesehatan lambung dan tubuh tetap bugar, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa mulai diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: Membiasakan makan secara teratur setiap hari Tidak melewatkan sarapan Menyiapkan camilan sehat saat beraktivitas Mengatur pengingat jam makan di ponsel Menghindari kebiasaan menunda makan saat sibuk Menjaga pola makan bukan hanya tentang menghilangkan rasa lapar, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan tubuh dan kesehatan secara menyeluruh. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten dapat membantu tubuh tetap berenergi dan lambung lebih nyaman setiap hari. Yuk mulai lebih peduli dengan kesehatan diri sendiri dengan membiasakan makan tepat waktu

image-popular
Info Kesehatan

Fisik Nggak Ngapa-ngapain, tapi Kok Lemas Banget? Ini Biang Keroknya! Rabu, 09 September 2026 08:08 WIB Pernahkah kamu merasa kehabisan energi di sore hari, padahal sejak pagi "hanya" duduk di depan laptop atau menatap layar HP? Jangan buru-buru menyalahkan cuaca atau kurang minum kopi. Kelelahan ekstrem yang datang tanpa aktivitas fisik berat ini punya nama: Digital Fatigue atau kelelahan digital. Kondisi ini bukan sekadar mata yang terasa perih. Jika dibiarkan, kelelahan akibat paparan layar terus-menerus bisa merembet menjadi beban fisik dan mental yang serius. Mengapa Layar Bisa Membuat Kita "Tumbang"? Secara logika, duduk di kursi seharusnya menghemat energi. Namun, saat kita menatap layar berjam-jam, otak kita sebenarnya sedang bekerja maraton. Otak menerima terlalu banyak rangsangan visual secara bersamaan—mulai dari teks yang bergerak, transisi warna, hingga cahaya biru (blue light) yang dipancarkan oleh layar. Ditambah lagi, posisi tubuh kita cenderung statis dan jarang bergerak (sedentary). Kombinasi antara overstimulasi otak dan otot yang kaku inilah yang akhirnya menyedot energi kita habis-habisan. Kenali Gejala Digital Fatigue Kelelahan digital sering kali datang perlahan. Berikut adalah tanda-tanda bahwa tubuh dan pikiranmu sudah kewalahan menghadapi layar: Fisik: Sakit kepala (terutama di area dahi), nyeri pada leher dan bahu (tech neck), serta mata kering, perih, atau pandangan kabur. Mental & Kognitif: Susah fokus (konsentrasi mudah buyar), brain fog (otak terasa berkabut), dan produktivitas yang menurun tajam meski tenggat waktu menumpuk. Emosional & Pola Hidup: Gampang terpancing emosi (iritabilitas), merasa burnout, hingga pola tidur yang berantakan atau insomnia. Cara Tepat Mengatasi Kelelahan Digital Jangan tunggu sampai tubuh benar-benar tumbang, Yakes Fams! Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Mari mulai batasi dampak buruk layar dengan langkah-langkah proaktif berikut: 1. Terapkan Aturan Istirahat Mata (20-20-20) Jangan biarkan mata terpaku pada jarak dekat terlalu lama. Rutin istirahatkan mata dengan aturan 20-20-20: Setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter) selama minimal 20 detik. 2. Sempatkan Micro-Breaks dan Peregangan Tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Di sela-sela duduk lama, berdirilah setiap 1-2 jam sekali. Lakukan peregangan ringan pada area leher, bahu, dan punggung bawah untuk melancarkan sirkulasi darah dan melepas ketegangan otot. 3. Evaluasi Ergonomi Meja Kerjamu Pastikan posisi dudukmu nyaman dan mendukung postur tulang belakang. Layar laptop atau monitor harus sejajar dengan mata (agar leher tidak menunduk), telapak kaki menapak datar di lantai, dan gunakan kursi yang menopang punggung bagian bawah (lumbar support). 4. Lakukan Digital Detox Sebelum Tidur Cahaya biru dari layar menekan produksi melatonin (hormon tidur). Kurangi screen time setidaknya 1 jam sebelum tidur. Matikan juga notifikasi aplikasi yang tidak penting agar pikiran bisa benar-benar beristirahat tanpa gangguan fear of missing out (FOMO). Menjaga keseimbangan antara produktivitas digital dan kesehatan tubuh adalah kunci agar kita bisa tetap aktif berkarya.

image-popular
Info Kesehatan

Cara Ampuh Usir Stres dan Tingkatkan Fokus Hanya dengan Mengatur Napas Rabu, 26 Agustus 2026 21:22 WIB Gaya hidup modern yang serba cepat dan tekanan pekerjaan sering kali memicu stres dan kecemasan. Saat kondisi tersebut melanda, napas seseorang umumnya menjadi lebih cepat dan tidak teratur. Untuk mengatasi hal ini, para ahli kesehatan merekomendasikan sebuah metode sederhana yang dikenal dengan sebutan teknik box breathing. Melalui kampanye edukasi kesehatannya, Yakes-Telkom turut membagikan panduan praktis mengenai teknik pernapasan ini. Metode box breathing dinilai efektif sebagai pertolongan pertama untuk mengembalikan ritme napas, sehingga tubuh dan pikiran dapat kembali rileks. Apa Itu Box Breathing? Melansir dari informasi kesehatan yang dibagikan, box breathing adalah teknik pernapasan terstruktur yang membagi proses pernapasan ke dalam empat langkah utama, di mana masing-masing fase ditahan selama 4 detik. Teknik ini tidak memerlukan peralatan khusus maupun ruangan yang luas, sehingga sangat praktis dilakukan kapan saja dan di mana saja, terutama dalam situasi yang memicu kepanikan atau ketegangan. Beragam Manfaat untuk Kesehatan Mental dan Fisik Penerapan box breathing secara rutin tidak hanya sekadar mengatur napas, tetapi juga memberikan dampak signifikan bagi kesehatan tubuh, antara lain: Meredakan Stres dan Kecemasan: Membantu menenangkan sistem saraf pusat sehingga ketegangan tubuh berkurang. Meningkatkan Fokus dan Konsentrasi: Pikiran yang tenang terbukti ampuh menjernihkan otak, sehingga produktivitas saat bekerja atau belajar kembali meningkat. Membantu Tidur Lebih Nyenyak: Sangat direkomendasikan bagi mereka yang mengalami insomnia atau kesulitan tidur, karena teknik ini mampu menenangkan pikiran sebelum istirahat malam. Menurut anjuran medis, teknik ini sangat tepat diaplikasikan pada momen-momen krusial, seperti saat sedang merasa cemas, sebelum melakukan presentasi atau rapat penting, setelah menjalani aktivitas fisik yang melelahkan, maupun menjelang waktu tidur. Cara Tepat Mempraktikkan Box Breathing Bagi Anda yang ingin mencobanya, ikuti empat tahapan sederhana berikut yang masing-masing berdurasi 4 detik: Tarik Napas: Hirup udara secara perlahan dan dalam melalui hidung selama 4 detik. Tahan Napas: Tahan udara di dalam paru-paru sejenak, juga selama 4 detik. Buang Napas: Hembuskan udara secara perlahan melalui mulut selama 4 detik. Tahan Kembali: Tahan kembali napas Anda (kondisi paru-paru kosong) selama 4 detik sebelum mengulangi siklus pertama. Ulangi siklus pernapasan ini beberapa kali hingga Anda merasa beban pikiran mulai terangkat dan tubuh terasa jauh lebih rileks. Tips Memaksimalkan Latihan Agar mendapatkan hasil yang optimal, terdapat beberapa tips yang bisa diterapkan saat mempraktikkan box breathing: Carilah posisi duduk atau berdiri yang paling nyaman dan rileks. Lakukan proses bernapas secara perlahan tanpa terburu-buru. Fokuskan pikiran penuh pada hitungan (1 sampai 4) dan rasakan setiap ritme napas yang masuk dan keluar. Lakukan latihan ini selama 1 hingga 5 menit, atau sesuaikan dengan kebutuhan tubuh Anda. Dengan meluangkan waktu beberapa menit saja setiap harinya, tubuh tidak hanya menjadi lebih rileks, tetapi stres pun menjadi lebih mudah untuk dikelola. Sebuah langkah kecil yang membawa dampak besar bagi kualitas hidup dan kesehatan mental Anda.