• icon-phone Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405
  • Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405

Info Terbaru

image-newest
Info Kesehatan

Deadline Terus, Mood Tergerus? Yuk Cek Kondisimu! Selasa, 30 Juni 2026 10:05 WIB Di tengah tuntutan pekerjaan, target yang harus dicapai, hingga berbagai aktivitas sehari-hari, kesehatan jiwa sering kali menjadi hal yang terabaikan. Padahal, kondisi mental yang sehat berperan penting dalam menjaga produktivitas, kualitas hubungan dengan rekan kerja, serta kemampuan mengambil keputusan. Merasa lelah sesekali atau stres saat menghadapi deadline adalah hal yang wajar. Namun, jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai memengaruhi aktivitas sehari-hari, bisa jadi tubuh sedang memberi sinyal bahwa kesehatan jiwa membutuhkan perhatian lebih. Tanda Kesehatan Jiwa Perlu Diperhatikan Beberapa tanda yang patut diwaspadai antara lain: Mudah merasa lelah meskipun sudah cukup beristirahat. Sulit berkonsentrasi atau sering melakukan kesalahan saat bekerja. Lebih mudah marah, sensitif, atau kehilangan kesabaran. Kehilangan motivasi dan semangat dalam menyelesaikan pekerjaan. Sulit tidur atau justru tidur berlebihan. Menarik diri dari lingkungan kerja atau menghindari interaksi sosial. Jika gejala-gejala tersebut dirasakan dalam waktu yang cukup lama, jangan abaikan. Mengenali kondisi sejak dini merupakan langkah awal untuk menjaga kesehatan jiwa. Mengapa Kesehatan Jiwa Penting di Tempat Kerja? Kesehatan jiwa bukan hanya tentang terhindar dari stres, tetapi juga tentang kemampuan seseorang untuk berpikir jernih, mengelola emosi, beradaptasi dengan tantangan, dan tetap menjalankan perannya secara optimal. Lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental dapat memberikan berbagai manfaat, seperti: Meningkatkan fokus dan produktivitas. Membantu mengelola tekanan kerja dengan lebih baik. Membangun komunikasi dan kerja sama tim yang lebih sehat. Mengurangi risiko kelelahan berkepanjangan (burnout). Meningkatkan kepuasan dan kualitas hidup secara keseluruhan. Rutinitas Sederhana untuk Menjaga Kesehatan Jiwa Menjaga kesehatan jiwa tidak selalu membutuhkan langkah yang rumit. Beberapa kebiasaan sederhana berikut dapat membantu: 1. Luangkan waktu untuk beristirahat. Berikan jeda sejenak di sela pekerjaan untuk meregangkan tubuh, berjalan singkat, atau mengalihkan pandangan dari layar komputer. 2. Kelola beban kerja dengan baik. Susun prioritas pekerjaan dan hindari kebiasaan menunda agar tekanan tidak menumpuk. 3. Tetap aktif bergerak. Aktivitas fisik ringan, seperti berjalan kaki atau peregangan, dapat membantu memperbaiki suasana hati dan mengurangi ketegangan. 4. Jaga pola tidur dan pola makan. Tidur yang cukup dan asupan gizi seimbang berperan penting dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental. 5. Bangun komunikasi yang positif. Jangan ragu berbicara dengan rekan kerja, atasan, keluarga, atau orang yang dipercaya ketika menghadapi tekanan. 6. Cari bantuan profesional bila diperlukan. Apabila stres, kecemasan, atau perubahan suasana hati mulai mengganggu aktivitas sehari-hari dan berlangsung dalam waktu lama, berkonsultasilah dengan psikolog atau tenaga kesehatan jiwa. Mulai Lebih Peduli pada Diri Sendiri Menjaga kesehatan jiwa merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Mengenali sinyal dari tubuh, memberi waktu untuk beristirahat, serta membangun kebiasaan hidup yang sehat dapat membantu menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Ingat, kinerja terbaik selalu dimulai dari pikiran yang sehat. Luangkan waktu untuk merawat diri, karena kesehatan jiwa yang baik bukan hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga mendukung produktivitas dan kualitas hidup yang lebih baik.

image-newest
Info Kesehatan

Manisnya Sesaat, Risikonya Bisa Lebih Lama Jumat, 26 Juni 2026 09:19 WIB Minuman manis seperti kopi susu, boba, teh kemasan, dan minuman bersoda telah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Meski terasa nikmat dan menyegarkan, konsumsi yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular yang berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang. Kandungan gula tambahan dalam minuman manis dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Jika dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus, kondisi ini dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2, kelebihan berat badan atau obesitas, penyakit jantung, hingga gangguan metabolisme. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan konsumsi gula tidak lebih dari 50 gram atau sekitar 4 sendok makan per hari. Namun, tanpa disadari, satu gelas minuman kekinian dapat mengandung gula dalam jumlah yang mendekati bahkan melebihi batas tersebut. Untuk menjaga kesehatan, Anda dapat menerapkan beberapa langkah sederhana: Utamakan air putih sebagai minuman sehari-hari. Pilih minuman tanpa tambahan gula atau dengan kadar gula yang lebih rendah. Konsumsi buah sebagai alternatif rasa manis alami. Biasakan membaca informasi nilai gizi sebelum membeli produk minuman kemasan. Mengurangi konsumsi gula bukan berarti menghilangkan kesenangan menikmati minuman favorit. Kuncinya adalah mengatur frekuensi dan porsi konsumsi agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari risiko penyakit di kemudian hari. Yuk, mulai lebih bijak memilih minuman. Langkah kecil hari ini dapat menjadi investasi besar untuk kesehatan di masa depan.

image-newest
Info Kesehatan

Harapan Itu Masih Ada: Strategi Pemulihan Pasca-Stroke yang Perlu Diketahui Jumat, 12 Juni 2026 10:05 WIB Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia. Namun, stroke bukanlah akhir dari segalanya. Dengan penanganan yang tepat, dukungan keluarga, serta komitmen dalam menjalani proses rehabilitasi, penyintas stroke tetap memiliki kesempatan untuk kembali hidup mandiri dan produktif. Salah satu periode yang paling menentukan dalam proses pemulihan adalah 90 hari pertama pasca-stroke. Pada masa inilah otak memiliki kemampuan terbaik untuk beradaptasi dan membentuk kembali fungsi-fungsi yang terganggu akibat stroke. Oleh karena itu, upaya rehabilitasi yang dilakukan secara cepat, tepat, dan konsisten dapat memberikan dampak besar terhadap kualitas hidup penyintas di masa depan. Mengapa 90 Hari Pertama Sangat Penting? Setelah stroke terjadi, tubuh dan otak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang dialami. Selama tiga bulan pertama, proses pemulihan umumnya berlangsung lebih cepat dibandingkan periode-periode berikutnya. Pada fase ini, berbagai intervensi seperti terapi fisik, terapi okupasi, terapi wicara, pengaturan pola makan, serta dukungan psikologis memiliki peran penting dalam membantu penyintas memperoleh kembali kemampuan yang sempat terganggu. Semakin dini rehabilitasi dilakukan, semakin besar peluang untuk: Meningkatkan kemampuan bergerak dan beraktivitas Mengurangi risiko komplikasi pasca-stroke Meningkatkan kesehatan mental dan kepercayaan diri penyintas Mendukung kemandirian dalam menjalani aktivitas sehari-hari Menurunkan risiko terjadinya stroke berulang Panduan Praktis dalam E-Book Pasca-Stroke Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, Unit MQH Yakes Telkom menghadirkan E-Book "Kembali Kendalikan Hidup: 90 Hari Strategi Cerdas Pasca-Stroke". E-book ini merupakan bagian dari series e-book informasi kesehatan Yakes Telkom yang disusun sebagai panduan praktis dan mudah dipahami bagi peserta, keluarga, serta masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan. Baca E-Book "Kembali Kendalikan Stroke" Disini! Di dalam e-book ini, pembaca akan mendapatkan berbagai informasi penting, antara lain: 1. Tahapan Pemulihan Pasca-Stroke Selama 90 Hari Pertama Penjelasan mengenai proses pemulihan yang umumnya dialami penyintas stroke dan target yang dapat dicapai pada setiap tahap rehabilitasi. 2. Panduan Aktivitas dan Latihan yang Aman Berbagai rekomendasi latihan dan aktivitas harian yang dapat membantu meningkatkan fungsi tubuh secara bertahap dan aman. 3. Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental Informasi mengenai pentingnya menjaga motivasi, kesehatan mental, serta dukungan keluarga dalam proses pemulihan. 4. Pola Makan Sehat untuk Pemulihan Optimal Panduan nutrisi yang dapat membantu mempercepat pemulihan sekaligus menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah. 5. Mencegah Stroke Berulang Langkah-langkah penting yang dapat dilakukan untuk mengendalikan faktor risiko dan mengurangi kemungkinan terjadinya stroke kembali. Peran Keluarga Sangat Menentukan Pemulihan pasca-stroke tidak hanya bergantung pada penyintas, tetapi juga memerlukan dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Kehadiran keluarga yang memberikan semangat, membantu aktivitas sehari-hari, serta memastikan kepatuhan terhadap terapi dan pengobatan dapat meningkatkan keberhasilan proses rehabilitasi secara signifikan. Karena itu, edukasi mengenai perawatan pasca-stroke tidak hanya penting bagi penyintas, tetapi juga bagi anggota keluarga yang mendampingi.

image-newest
Info Kesehatan

Waspada Musuh Dalam Selimut: Lemak Tak Kasat Mata Pemicu Diabetes! Selasa, 09 Juni 2026 09:25 WIB Pernahkah Anda merasa lega karena angka di timbangan tidak bertambah, atau merasa aman karena memiliki postur tubuh yang tergolong kurus? Banyak orang masih beranggapan bahwa tubuh yang kurus adalah jaminan mutlak dari kesehatan. Faktanya, paradigma ini bisa sangat menyesatkan. Seseorang bisa saja memiliki berat badan normal, namun diam-diam menyimpan "bom waktu" di dalam tubuhnya berupa lemak viseral. Bagi kita yang peduli pada kesehatan secara komprehensif, memahami apa itu lemak viseral dan bagaimana cara mengelolanya adalah langkah krusial. Mari kita bedah mengapa tubuh kurus belum tentu bebas dari lemak berbahaya. Apa Itu Lemak Viseral dan Mengapa Berbahaya? Lemak viseral bukanlah lemak subkutan (lemak yang berada tepat di bawah kulit dan bisa dicubit). Lemak viseral adalah lemak yang menumpuk jauh di dalam rongga perut dan mengelilingi organ-organ vital bagian dalam, seperti hati, pankreas, dan usus. Karena letaknya yang tersembunyi, lemak ini sering kali tidak terlihat dari luar. Inilah alasan mengapa seseorang yang tampak langsing bisa saja memiliki tumpukan lemak viseral yang tinggi. Jika dibiarkan menumpuk, lemak viseral dapat memicu pelepasan zat-zat peradangan yang meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan serius, antara lain: Penyakit Jantung: Meningkatkan risiko penyumbatan pembuluh darah. Diabetes dan Resistensi Insulin: Mengganggu kemampuan tubuh dalam mengelola gula darah. Peradangan Kronis: Memicu berbagai penyakit degeneratif. Gangguan Metabolisme: Memperlambat dan mengacaukan fungsi alami tubuh. 6 Makanan Alami untuk Membantu Mengurangi Lemak Viseral Kabar baiknya, lemak viseral sangat responsif terhadap perubahan pola makan dan gaya hidup. Mengubah menu harian Anda adalah strategi utama yang bisa langsung diterapkan. Berikut adalah enam jenis makanan yang terbukti secara ilmiah membantu mengurangi tumpukan lemak berbahaya ini: Tomat: Buah segar ini kaya akan likopen, sebuah antioksidan kuat yang membantu mengurangi penumpukan lemak di dalam tubuh. Teh Hijau: Mengandung senyawa EGCG (Epigallocatechin gallate) yang sangat efektif dalam meningkatkan laju metabolisme dan pembakaran lemak. Cabai: Kandungan capsaicin di dalam cabai tidak hanya memberikan sensasi pedas, tetapi juga memicu efek termogenik yang membantu tubuh membakar lebih banyak kalori. Blueberry: Buah kecil ini padat akan polifenol yang mendukung kesehatan bakteri baik di dalam usus, yang merupakan kunci dari metabolisme yang sehat. Jamur: Sangat baik untuk mendukung sistem imun sekaligus menjaga keseimbangan kesehatan metabolisme tubuh. Minyak Zaitun Extra Virgin: Salah satu sumber lemak sehat terbaik yang mengandung antioksidan tinggi untuk membantu meredakan peradangan kronis di dalam tubuh. Batasi Konsumsi Ini Agar Usaha Tidak Sia-Sia Menambah makanan sehat saja tidak cukup jika Anda masih rutin mengonsumsi asupan yang justru memicu penumpukan lemak perut. Mulai sekarang, batasi secara ketat konsumsi: Karbohidrat olahan (seperti roti putih dan pasta) Daging olahan (sosis, nugget) Pemanis buatan berlebihan Makanan ultra-proses (junk food) Minuman manis (boba, soda, teh kemasan) Minyak nabati olahan berlebihan

image-newest
Info Kesehatan

Sakit kepala memang umum, tapi bagaimana jika sakit kepala itu terus berulang? Senin, 08 Juni 2026 08:38 WIB Pernahkah Anda mengalami sakit kepala yang terus berulang, semakin berat di pagi hari, atau bahkan membangunkan Anda saat tidur? Banyak orang menganggap keluhan tersebut sebagai masalah biasa akibat kelelahan atau stres. Namun dalam beberapa kasus, gejala tersebut bisa menjadi salah satu tanda adanya tumor otak yang memerlukan perhatian medis lebih lanjut. Setiap tanggal 8 Juni, dunia memperingati Hari Tumor Otak Sedunia (World Brain Tumor Day) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini, pengobatan, dan pencegahan tumor otak. Mengenal Tumor Otak Tumor otak adalah pertumbuhan jaringan abnormal di dalam otak atau pada selaput yang melindunginya (meninges). Tumor dapat bersifat jinak (non-kanker) maupun ganas (kanker). Meskipun tidak semua tumor otak bersifat kanker, pertumbuhan jaringan abnormal ini tetap dapat menekan dan merusak jaringan otak yang sehat. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi tersebut dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh, kecacatan, hingga mengancam jiwa. Gejala Tumor Otak yang Perlu Diwaspadai Gejala tumor otak dapat berbeda pada setiap orang, tergantung lokasi dan ukuran tumor. Namun beberapa tanda yang perlu mendapatkan perhatian antara lain: Sakit kepala yang semakin berat, terutama pada pagi hari Kejang tanpa riwayat sebelumnya Gangguan bicara atau kesulitan berpikir Perubahan perilaku dan kepribadian Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh Gangguan keseimbangan atau sering pusing Penglihatan kabur atau berbayang Gangguan pendengaran Mati rasa pada wajah Mual dan muntah tanpa sebab yang jelas Kesulitan menelan Mudah bingung atau sulit berkonsentrasi Kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari Penurunan kemampuan penciuman Jika gejala-gejala tersebut terjadi secara terus-menerus atau semakin memburuk, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Bisakah Tumor Otak Dicegah? Tidak semua tumor otak dapat dicegah karena beberapa faktor risiko masih belum diketahui secara pasti. Namun, menerapkan pola hidup sehat dan mengurangi paparan faktor risiko tertentu dapat membantu menjaga kesehatan otak. 1. Batasi Paparan Bahan Kimia Berbahaya di Sekitar Kita Bahan kimia tertentu dapat ditemukan dalam lingkungan kerja maupun rumah tangga. Misalnya asap cat, thinner, bahan bakar, pestisida, atau bahan pembersih yang digunakan tanpa ventilasi yang baik. Pastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang cukup dan gunakan alat pelindung jika diperlukan. 2. Hindari Merokok dan Paparan Asap Rokok Tidak hanya perokok aktif, anggota keluarga yang sering terpapar asap rokok di rumah juga berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan. Menjadikan rumah sebagai area bebas asap rokok adalah langkah sederhana yang dapat dilakukan. 3. Gunakan Perangkat Elektronik Secara Bijak Meskipun penelitian mengenai hubungan perangkat elektronik dengan tumor otak masih terus berkembang, penggunaan gawai secara berlebihan tetap dapat berdampak pada kualitas tidur dan kesehatan secara umum. Gunakan seperlunya dan istirahatkan mata secara berkala. 4. Lindungi Kepala dari Cedera Cedera kepala dapat terjadi dalam aktivitas sehari-hari, seperti berkendara tanpa helm, terjatuh saat berolahraga, atau kecelakaan kerja. Selalu gunakan helm standar saat mengendarai motor dan perlengkapan keselamatan saat beraktivitas yang berisiko. 5. Terapkan Gaya Hidup Sehat Setiap Hari Kebiasaan sederhana seperti berjalan kaki atau berolahraga 30 menit sehari, mengonsumsi sayur dan buah, membatasi makanan ultra-proses, tidur cukup 7–9 jam, serta mengelola stres dengan baik dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan otak secara keseluruhan. 6. Jangan Abaikan Gejala yang Tidak Biasa Jika mengalami sakit kepala yang semakin sering, gangguan penglihatan, kejang, atau perubahan kemampuan berpikir dan berbicara, segera konsultasikan ke dokter. Deteksi dini dapat membantu mendapatkan penanganan yang lebih cepat dan tepat. Kesadaran Adalah Langkah Awal Perlindungan Hari Tumor Otak Sedunia mengingatkan kita bahwa kesehatan otak merupakan aset berharga yang perlu dijaga sepanjang hidup. Mengenali gejala sejak dini, menerapkan gaya hidup sehat, dan tidak mengabaikan tanda-tanda yang tidak biasa dapat menjadi langkah penting untuk melindungi diri dan orang-orang yang kita sayangi. Karena ketika berbicara tentang tumor otak, deteksi dini bukan hanya tentang pengobatan yang lebih cepat, tetapi juga tentang memberikan harapan yang lebih besar untuk masa depan yang lebih baik.

image-newest
Info Kesehatan

Mitos vs Fakta: Benarkah Diabetes Keturunan 100% Tidak Bisa Dihindari? Jumat, 05 Juni 2026 09:29 WIB Bagi sebagian orang, mengetahui bahwa orang tua atau kakek-nenek memiliki riwayat diabetes sering kali terasa seperti menerima "vonis" kesehatan. Ada ketakutan tersendiri bahwa penyakit gula darah ini adalah kutukan genetik yang pasti akan menurun ke generasi selanjutnya. Namun, sebelum Anda panik, mari kita luruskan faktanya. Benarkah diabetes keturunan 100% tidak bisa dihindari? Jawabannya: Tidak benar. Memiliki anggota keluarga dengan riwayat diabetes memang membuat risiko Anda sedikit lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak. Namun, genetika bukanlah takdir mutlak. Ibarat sebuah pistol, faktor keturunan hanyalah pelurunya, sedangkan gaya hidup kitalah yang menjadi pelatuknya. Tanpa "tarikan pelatuk" dari gaya hidup yang buruk, peluru tersebut tidak akan pernah melesat. Di Balik Risiko: Mengapa Gaya Hidup Lebih Menentukan? Selain faktor keturunan, munculnya penyakit diabetes—terutama Diabetes Tipe 2—sangat dipengaruhi oleh kebiasaan kita sehari-hari. Mulai dari apa yang kita piring kita setiap hari, seberapa sering kita bergerak, fluktuasi berat badan, hingga bagaimana cara kita mengelola stres. Kabar baiknya adalah, berbeda dengan DNA yang tidak bisa diubah, gaya hidup adalah sesuatu yang 100% berada di bawah kendali Anda. Anda BISA memutus rantai genetik tersebut mulai hari ini juga. 5 Langkah Cerdas Memutus Rantai Diabetes Keluarga Bagi Yakes Fams yang ingin menjaga tubuh tetap prima dan menjauh dari risiko diabetes, mulailah menyayangi diri sendiri dengan menerapkan lima kebiasaan sehat berikut: 1. Pilih Makanan Sehat dan Bergizi Seimbang   Tinggalkan kebiasaan makan asal kenyang. Terapkan prinsip "Isi Piringku" dengan memperbanyak porsi sayur yang kaya serat, protein tanpa lemak, dan karbohidrat kompleks (seperti nasi merah atau gandum utuh). Serat sangat ampuh untuk mengontrol lonjakan gula darah setelah makan. 2. Aktif Bergerak Setiap Hari   Bukan berarti Anda harus menjadi atlet. Cukup pastikan tubuh tetap aktif minimal 30 menit setiap hari. Anda bisa memilih jalan cepat, bersepeda, berenang, atau bahkan sekadar naik-turun tangga di kantor. Aktivitas fisik membantu sel tubuh merespons insulin dengan lebih baik. 3. Jaga Berat Badan Tetap Ideal   Penumpukan lemak, terutama di area perut, sangat berkaitan erat dengan resistensi insulin (kondisi di mana tubuh tidak bisa menggunakan insulin secara efektif). Menurunkan 5-10% dari berat badan awal (bagi yang overweight) sudah terbukti menurunkan risiko diabetes secara signifikan. 4. Kurangi Minuman Manis   Ini adalah musuh tersembunyi (hidden sugar) yang sering tidak disadari. Kurangi kebiasaan mengonsumsi kopi susu gula aren, boba, teh manis kemasan, atau soda. Biasakan diri untuk memperbanyak minum air putih atau teh tawar yang jauh lebih ramah untuk pankreas Anda. 5. Rutin Cek Gula Darah   Jangan menunggu sampai muncul gejala seperti sering haus atau sering buang air kecil di malam hari. Lakukan pengecekan gula darah secara rutin, setidaknya satu tahun sekali, terutama jika Anda memiliki riwayat keturunan. Deteksi dini adalah kunci pencegahan terbaik. Mulai dari Mana? Mengubah gaya hidup memang tidak bisa instan, namun bukan berarti tidak mungkin. Tantangan terbesarnya bukan pada memulainya, melainkan pada konsistensinya. Dari kelima kebiasaan sehat di atas, mana yang menurut Anda paling menantang untuk dilakukan saat ini? Mari jadikan kesadaran hari ini sebagai langkah pertama untuk memutus rantai diabetes di keluarga Anda. Ingat, kesehatan masa depan Anda ditentukan oleh pilihan yang Anda buat hari ini!

image-newest
Info Kesehatan

Bukan Cuma Kardio, Ternyata Angkat Beban Jadi "Senjata Rahasia" Lawan Diabetes. Kamis, 04 Juni 2026 09:46 WIB Banyak yang beranggapan bahwa penyandang diabetes harus membatasi aktivitas fisiknya. Namun faktanya, latihan angkat beban justru menjadi salah satu kunci penting dalam mengelola diabetes. Bagi penyandang Diabetes Tipe 2, aktivitas ini bukan sekadar untuk membentuk otot, melainkan bagian krusial dalam menjaga kesehatan metabolik. Mengapa Latihan Beban Sangat Dianjurkan? Berdasarkan hasil meta-analisis besar dari berbagai penelitian berkualitas tinggi, latihan beban (resistance training) terbukti membantu mengendalikan diabetes pada orang dewasa dengan Diabetes Tipe 2. Kuncinya ada pada otot kita. Otot berperan sebagai salah satu pengguna glukosa terbesar di dalam tubuh. Ketika Anda rutin berlatih dan massa serta kekuatan otot meningkat, maka akan terjadi perubahan positif di dalam tubuh: Penyerapan gula darah menjadi jauh lebih efisien. Respons tubuh terhadap insulin membaik. Pengelolaan gula darah menjadi lebih optimal. Berbagai Manfaat Latihan Beban bagi Penyandang Diabetes Tipe 2 Penelitian menunjukkan bahwa menjalani latihan beban dan kardio selama empat bulan dapat memberikan berbagai manfaat yang signifikan. Berikut adalah deretan manfaat utama dari latihan beban: Membantu menurunkan dan mengontrol kadar gula darah secara efektif. Meningkatkan sensitivitas insulin di dalam tubuh. Membantu penurunan lemak visceral (lemak yang mengelilingi organ dalam) dan lemak bawah kulit. Mendukung kesehatan metabolik secara menyeluruh. Menambah kekuatan fisik dan kapasitas tubuh untuk beraktivitas sehari-hari. Panduan Aman Memulai Latihan Beban Meskipun latihan beban sangat baik untuk diabetes, rutinitas ini tetap harus dilakukan dengan benar. Agar latihan beban bisa dilakukan secara aman dan terukur, perhatikan empat hal berikut ini: Lakukan pemanasan sebelum latihan: Otot dan sendi yang belum siap lebih mudah mengalami cedera. Karena itu, selalu awali latihan dengan gerakan pemanasan ringan. Utamakan teknik, bukan ego: Mengangkat beban yang terlalu berat belum tentu lebih efektif. Teknik yang salah justru akan sangat meningkatkan risiko cedera pada tubuh Anda. Istirahat sama pentingnya dengan latihan: Istirahat yang cukup sangat dibutuhkan karena akan membantu otot untuk pulih dan berkembang secara optimal. Jangan ragu berkonsultasi: Apabila Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional atau dokter sebelum memulai rutinitas olahraga ini. Mulailah secara bertahap dan tetap konsisten untuk mendapatkan manfaat latihan beban secara maksimal bagi kesehatan Anda.

Info Terpopuler

image-popular
Info Kesehatan

Telemedicine menjadi alternatif konsultasi dimasa Pandemi Senin, 18 Januari 2021 11:05 WIB Tahun 2020 sudah selesai akan tetapi,  lain halnya dengan Pandemi yang sampai akhir 2020 belum kunjung usai. Dalam masa Pandemik ini, Yakes Telkom memberikan layanan Telemedicine yaitu pemakaian telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan medis jarak-jauh. Telemedicine saat ini, menggunakan teknologi komunikasi dengan gadget untuk memberikan konsultasi fasilitas kesehatan di tempat yang berjauhan, bisa secara langsung via telepon, berkirim pesan, ataupun videocall dengan aplikasi WA (whatsapp) atau aplikasi Telegram. Layanan Telemedicine dibutuhkan oleh Pelanggan dalam masa pandemik Covid-19 saat ini karena ada beberapa layanan yang bisa didapatkan oleh pelanggan dengan menggunakan Telemedicine diantaranya adalah: Layanan Konsultasi medis dengan dokter dan petugas medis lainnya di Yakes Telkom. Memberi kemudahan saat pelanggan ingin mendapatkan Obat Rutin yang dikonsumsi tanpa harus datang ke Poliklinik Yakes Telkom. Permintaan rujukan pemeriksaan Laboratorium dan rujukan ke rumah sakit. Layanan konsultasi tentang restitusi. Layanan konsultasi non medis perihal kepesertaan. Kenapa harus Telemedicine? Guna mencegah penyebaran virus covid-19 lebih baik apabila dirumah saja untuk menghindari kerumunan, itulah sebabnya Yakes Telkom lebih menekankan Telemedicine daripada pelanggan datang langsung ke Poliklinik. Dengan Telemedicine para pelanggan tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan dari Yakes. Untuk layanan medis para pelanggan bisa melakukan konsultasi kepada para dokter, apabila memerlukan obat dokter akan memberikan dan dikirim menggunakan kurir. Demikian juga dengan rujukan bisa juga didapatkan dengan melakukan Telemedicine. Tidak hanya layanan konsultasi medis saja yang diberikan kepada para pelanggan, melainkan dari sisi Non Medispun bisa melakukan Telemedicine, salah satu contohnya adalah layanan Konsultasi kepesertaan. Untuk melakukan laporan update Faskes putra/i dari pelanggan, Pensiunan dapat mengirimkan foto atau scan persyaratan yang sudah lengkap kepada admin kepesertaan untuk diproses lebih lanjut. Selain itu juga pengajuan untuk cetak kartu kesehatan bisa dilayani secara online via Whatsapp ataupun Telegram, dengan mengirimkan persyaratan yang sudah lengkap kepada Admin Kepesertaan pengajuan cetak kartu kesehatan bisa diproses lebih lanjut. Saat ini Yakes Telkom tak henti-hentinya memberikan layanan yang terbaik kepada para pelanggan karena sesuai dengan slogan terbaru Yakes Telkom yaitu Sehat Tekad Kita, Melayani dengan Cinta (YKS05-01)

image-popular
Info Kesehatan

Be Mindful of Your Mental Health Sabtu, 24 Oktober 2020 08:36 WIB Tidak dipungkiri lagi bahwa kesehatan mental merupakan salah satu bagian yang menandakan sehatnya seseorang. Sehat tidak hanya dilihat dari kondisi fisik saja, tetapi bagaimana kondisi psikologis diri kita. Di tengah kondisi pandemic Covid-19 yang melanda, mari kita tanyakan ke diri sendiri, sejahterakah kita secara psikologis? Sejahtera secara psikologis menandakan bahwa diri kita memiliki perasaan yang baik (feeling good) dan dapat berfungsi secara efektif (functioning effectively). Untuk dapat sejahtera secara psikologis, tentunya kita perlu memperhatikan (mindful) kondisi kesehatan mental. Mengapa demikian? Alasannya sangat sederhana, karena dengan memberikan perhatian maka kita lebih menyadari serta dapat lebih memahami kondisi diri kita. Mindfulness adalah suatu pendekatan integratif yang didasarkan pada hubungan pikiran & tubuh, yang membantu individu untuk mengelola pikiran dan perasaan serta kesehatan mental mereka. Mindfulness merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Salah satu contoh simpelnya adalah dengan kita menyadari bagaimana rasa makanan yang tadi dicicipi? Apa warna baju yang dipakai hari ini? Apa perasaan yang muncul ketika atasan memberikan feedback kepada saya? Apa yang saya rasakan ketika rekan kerja menolak pendapat saya? Sadar akan apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan menjadi salah satu wujud agar kita dapat menjalankan hari-hari dengan nyaman serta menemukan solusi yang terbaik untuk permasalahan yang dihadapi. Selain menyadari apa yang terlintas dipikiran dan dirasakan, menyadari apa yang tubuh kita coba untuk sampaikan juga salah satu bentuk mindfulness. Sebagai contoh, saat berada pada situasi penuh tekanan atau kecemasan, ternyata tubuh kita memunculkan reaksi tertentu seperti detak jantung meningkat, otot tegang atau napas terhambat. Dengan memperhatikan perubahan yang muncul tersebut, maka kita dapat pula mencari solusi atas perubahan yang terjadi, salah satu upayanya dengan mengatur napas dengan baik agar tubuh menjadi tenang. Begitu pula dengan situasi Covid-19 yang tengah kita hadapi saat ini, aware terhadap apa yang menjadi pikiran, perasaan, serta pola tingkah laku yang dimunculkan akan membantu kita menentukan langkah pengelolaan yang tepat. Kesadaran ini menandakan pula bahwa kita merawat diri. Kita sadar akan hal yang menjadi pemicu dari kecemasan serta memperhatikan hal-hal apa yang membuat tertekan. Ketika kita mulai memperhatikan kondisi kesehatan mental, tidak hanya diri kita sendiri yang mendapatkan manfaatnya. Manfaat apalagi yang didapat melalui mindfulness? Menyadari kondisi psikologis atau kesehatan mental ini juga dapat membantu mengurangi stigma lingkungan yang buruk terhadap kesehatan mental. Beberapa contoh mindfulness ini adalah, menyadari penggunaan tata bahasa yang digunakan agar tidak menyakiti perasaan orang lain, mengedukasi diri terkait kesehatan mental yaitu dengan mengenali bahwa kesehatan mental memiliki perlakuan yang sama dengan masalah medis lainnya, dan mendengarkan kondisi orang lain tanpa interupsi, asumsi, maupun interpretasi di awal. Nah, beberapa hal tersebut dapat kita latih di kehidupan sehari-hari dan menjadi upaya bagi kita untuk lebih mindful terhadap diri maupun lingkungan sosial. Sudah saatnya kita aware terhadap kesehatan mental. Sesuai dengan kampanye yang dikeluarkan World Federation for Mental Health (WFMH), perayaan Hari Kesehatan Mental Dunia tahun 2020 mengusung tema “Mental Health for All: Greater Investment – Greater Access”, hal tersebut menandakan bahwa sehat mental itu hak setiap orang. Inilah saatnya bagi kita untuk berinvestasi dalam kesehatan mental. By: Rahmi Maya Fitri, M.Psi., Psikolog     “We would never tell someone with a broken leg that they should stop wallowing and get it together. We don’t consider taking medication for an ear infection something to be ashamed of.”  MICHELLE OBAMA     Sumber: https://www.verywellmind.com/improve-psychological-well-being-4177330; https://www.mentalhealth.org.uk/a-to-z/m/mindfulness; https://www.mindfulnessstudies.com/ending-mental-health-stigma-through-mindfulness/

image-popular
Info Kesehatan

Kasus Positif Terus Melonjak, Segera Vaksinasi dan Kencangkan Prokes Minggu, 30 Januari 2022 21:49 WIB Lonjakan Kasus Harian Perupadata mencatatkan penambahan kasus harian Covid-19 sebanyak 9905 kasus (per 28 Januari 2022). Data yang ada juga menunjukkan 90,1% kasus konfirmasi nasional merupakan transmisi lokal dan tercatat sudah 3 pasien kasus konfirmasi Omicron meninggal dunia (memiliki komorbid atau penyakit penyerta dan 1 kasus belum divaksin). Kenaikan kasus harian Covid disinyalir akan terus meningkat dalam beberapa waktu kedepan. Gambaran kenaikan tajam kasus ini juga terlihat di lingkungan TelkomGroup. Munculnya 3 sub varian Omicron Baru-baru ini muncul 3 sub varian Omicron yaitu BA.1 BA.2 dan BA.3, status ketiganya masih terus diteliti. Sementara gejala dibandingkan Delta lebih ringan. BA.2 lebih infeksius dengan gejala lebih ringan dari BA.1. Mutasi virus memang bukanlah hal yang baru, apalagi Variant of Concern cenderung cepat menginfeksi dan akan banyak bermutasi. Yang harus digarisbawahi adalah jangan meremehkan dan jangan abai untuk mencegah virus semakin merajalela dan melahirkan varian yang berbahaya. Cegah dengan Vaksin dan Disiplin Prokes Sesuai dengan anjuran pemerintah melalui Kemenkes, perusahaan turut aktif mengambil langkah-langkah untuk mencegah laju penularan khususnya di lingkungan TelkomGroup dengan mempercepat upaya pelaksanaan vaksinasi booster untuk meningkatkan efektivitas vaksin primer.  Jadi bagi karyawan, pensiunan dan keluarga yg sudah mendapatkan e tiket di Peduli Lindungi dan telah 6 bulan dari vaksin ke 2, segera lakukan vaksinasi booster baik di sentra vaksinasi, RS atau puskesmas terdekat. Ayo kita cegah peningkatan laju Covid dengan tidak panik seraya meningkatkan protokol kesehatan dengan selalu gunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan, menghindari bepergian kecuali sangat mendesak, dan menghindari kegiatan makan bersama. Semangat Sehat!  #SEMUAWAJIBPAKAIMASKER #SegeraVaksin

image-popular
Info Kesehatan

Grief: Mengatasi Kepergian Orang yang Dicintai.. Selasa, 05 Oktober 2021 19:50 WIB Berduka adalah proses yang dialami individu ketika kehilangan seseorang, terlebih ketika orang tersebut merupakan orang yang dicintai. Ada berbagai macam teori yang digunakan untuk memahami proses berduka, dimulai dari Freud yang menjelaskan bahwa proses berduka melibatkan pemutusan hubungan dengan orang yang meninggalkan kita dan penyesuaian keadaan dengan kehidupan baru. Teori lainnya dari Stroebe dan Schut menjelaskan mengenai “Dual Process Model”, yang mana proses berduka seseorang dapat dijelaskan dalam dua cara, apakah seseorang tersebut menggunakan cara “loss orientation”, yaitu melewati kehilangan dengan berfokus pada emosi (emotion-focused) atau “restoration orientation”, yaitu cara individu ketika melewati kehilangan dengan mengatasi stressor sekunder yang terjadi sebagai akibat dari kehilangan (problem-focused). Sedangkan Bonanno dalam teorinya menyebutkan bahwa rasa berduka yang kronis biasanya terjadi karena dependensi dalam relasi antara kita dan orang yang meninggalkan kita serta bagaimaan resiliensi kita dalam menerima proses kematian tersebut. Teori lainnya yang sering digunakan dalam menjelaskan proses berduka ini yaitu “Stage of Grief” dari Kubler-Ross, yang mana menjelaskan bahwa proses berduka seseorang akan terdiri dari serangkaian tahapan dimulai dari penyangkalan, marah, menawar “bargaining”, depresi, dan penerimaan. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk berduka, tidak ada rentang waktu maupun jadwal yang pasti, setiap orang memiliki caranya tersendiri dan tidak dapat diprediksi. Berduka tidak bisa dipaksakan atau disudahi dengan tergesa-gesa. Situasi Covid-19 saat ini memberikan satu pelajaran bagi kita, salah satunya yaitu untuk mengikhlaskan kepergian kerabat terdekat. Berita duka yang muncul selama Covid-19 tentunya memberikan makna tersendiri bagi setiap orang yang mengalaminya. Di tengah proses adaptasi pada masa pandemi ini, mengatasi kehilangan pun dapat menjadi salah satu tantangan terberat. Ketika kita kehilangan pasangan, saudara kandung, atau orang tua, kesedihan yang dialami bisa menjadi sangat intens. Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap kematian, tidak ada rentang waktu "normal" untuk berduka. Meskipun kehilangan dipahami sebagai bagian alami dari kehidupan, namun jika tidak terlewati dengan baik maka dapat mengarah pada periode kesedihan atau depresi yang berkepanjangan. Lalu bagaimana menghadapi proses berduka tersebut dengan cara yang sehat? Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan dalam melewati masa duka: Bicarakan tentang kematian orang yang kita cintai dengan teman untuk membantu kita memahami dan melewati apa yang terjadi. Menghindari bicara dapat menyebabkan isolasi dan akan mengganggu proses penyembuhan. Terima perasaan yang muncul. Berbagai macam emosi dari kesedihan mungkin akan dirasa, bahkan kemarahan dan kelelahan. Semua perasaan ini normal dan penting untuk mengenali emosi tersebut. Jika merasa kewalahan oleh emosi ini, akan lebih baik untuk berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental lainnya yang dapat membantu kita. Tetap menjaga kesehatan diri. Makan makanan sehat, berolahraga, dan tidur yang cukup untuk membantu memulihkan kesehatan fisik dan emosional. Proses berduka dapat memberikan efek besar pada tubuh. Tentunya tidak semua orang dapat melewati proses tersebut dengan sempurna. Jika kenalan kita ada yang berduka, jangkau dan bantu mereka menghadapi kehilangan. Sesekali cek untuk mengetahui bahwa mereka mengambil langkah-langkah sehat yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mereka. Membantu orang lain tentunya memiliki manfaat tambahan untuk membuat kita merasa lebih baik juga. Proses berduka dapat dirasakan seperti menaiki roller coaster, penuh dengan pasang surut. Embrace the moment. Semoga kita semua tetap diberi kekuatan dalam melewati proses tersebut. (oleh Rahmi Maya Fitri, M.Psi., Psikolog)     ------- Sumber: https://www.apa.org/topics/families/grief, diakses pada 1 Oktober 2021 https://www.psychologytoday.com/us/basics/grief, diakses pada 1 Oktober 2021 https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5033290/#__sec1title, diakses pada 4 Oktober 2021