• icon-phone Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405
  • Contact Center Yakes Telkom : 022 - 4521405

Info Terbaru

image-newest
Info Kesehatan

Kenali, Waspadai, dan Cegah Super Flu! Selasa, 06 Januari 2026 17:28 WIB Belakangan ini istilah “super flu” makin sering muncul di pemberitaan kesehatan, terutama setelah varian baru virus influenza A tipe H3N2 yang disebut subclade K terdeteksi di berbagai negara termasuk di Indonesia. Meski namanya terdengar mengerikan, super flu ini sesungguhnya adalah bagian dari flu musiman yang sudah dikenal, namun punya beberapa ciri yang membuatnya cepat menyebar.  Apa Itu Super Flu Subclade K? Super flu adalah julukan yang diberikan masyarakat dan media untuk varian Influenza A (H3N2) subclade K, yang merupakan turunan baru dari virus flu musiman. Virus ini telah beredar di banyak negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, Jepang, dan juga kini di Indonesia.  Subclade K bukan virus baru yang sepenuhnya berbeda, ia masih termasuk keluarga influenza H3N2  tetapi mutasi genetiknya membuatnya lebih cepat menular dari satu orang ke orang lain dibanding varian sebelumnya. Karena kemampuan penyebarannya yang tinggi, istilah super flu pun populer, meski istilah ini bukan istilah medis resmi.  Sudah Masuk Indonesia, Tapi Keadaannya Terkendali Kementerian Kesehatan RI melaporkan bahwa subclade K telah ditemukan di Indonesia sejak 25 Desember 2025, dengan total lebih dari 60 kasus tersebar di beberapa provinsi termasuk Jawa Timur dan Jawa Barat. Mayoritas kasus ditemukan pada usia dewasa dan anak-anak, terutama pada perempuan.  Walaupun sudah terdeteksi, Kemenkes menegaskan bahwa varian ini belum mendominasi angka kasus flu nasional dan tren influenza justru menunjukkan penurunan dalam beberapa minggu terakhir. Artinya, meski ada subclade K, situasi umum flu di Indonesia belum meningkat tajam.  Bagaimana Super Flu Bekerja & Gejalanya Virus subclade K menular dengan cepat melalui cairan pernapasan dan kontak antar manusia. Gejala yang timbul biasanya mirip flu biasa, seperti: Demam Batuk Pilek Sakit tenggorokan Nyeri otot Karena gejalanya mirip influenza musiman yang umum, orang sering tidak menyadari kalau itu varian subclade K.  Para ahli jelas menyebutkan bahwa subclade K tidak terbukti lebih mematikan dibanding varian flu sebelumnya, dan kasus parah atau komplikasi berat tetap lebih mungkin terjadi pada orang yang sudah punya kondisi kesehatan tertentu.  Kewaspadaan Tanpa Kepanikan Meski belum menunjukkan lonjakan kasus secara signifikan di Indonesia, super flu tetap perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok yang rentan seperti: ✔ Anak-anak ✔ Lansia ✔ Orang dengan penyakit penyerta Karena daya tahan tubuh mereka umumnya lebih rendah dan risiko komplikasi flu bisa lebih tinggi.  Cara Melindungi Diri dan Keluarga Untuk meminimalkan risiko tertular atau menularkan super flu, berikut langkah yang direkomendasikan: Cuci tangan secara teratur Terapkan etika batuk & bersin (misalnya menggunakan tisu atau siku) Jaga kebersihan lingkungan dan ruang tertutup Istirahat cukup dan makan bergizi Gunakan masker ketika sakit atau berada di keramaian Segera periksa kesehatan jika gejala flu makin buruk Langkah-langkah sederhana ini membantu tubuh tetap kuat dan menekan penyebaran virus.

image-newest
Info Kesehatan

Cara Menjaga Kesehatan Mata di Era Layar Digital Senin, 05 Januari 2026 15:13 WIB Sekarang hampir semua aktivitas dilakukan lewat layar mulai dari kerja, belajar, sampai hiburan. Tanpa disadari, mata kita bekerja ekstra setiap hari menatap ponsel, laptop, atau TV dalam waktu lama. Akibatnya? Mata terasa kering, pegal, buram, bahkan sakit kepala. Kondisi ini dikenal sebagai Digital Eye Strain atau Computer Vision Syndrome. Nah, supaya mata tetap sehat meski sering di depan layar, yuk kenali cara-cara sederhana untuk menjaganya. 1. Gunakan Aturan 20-20-20 Menurut World Health Organization (WHO), istirahat mata secara berkala bisa membantu mencegah kelelahan visual. Caranya mudah banget: setiap 20 menit, alihkan pandangan dari layar ke objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik. Kebiasaan kecil ini bantu mata beristirahat dan menjaga fokus tetap tajam. 2. Pastikan Pencahayaan Cukup Mata akan bekerja lebih keras kalau ruangan terlalu gelap atau terlalu terang. Usahakan pencahayaan ruangan tidak langsung mengenai layar, dan atur posisi monitor agar cahaya tidak memantul. 3. Jangan Lupa Berkedip Saat fokus menatap layar, frekuensi berkedip bisa menurun hingga setengah dari normalnya ini menyebabkan mata kering dan terasa perih. Cobalah untuk sadar berkedip lebih sering, terutama saat bekerja lama di depan komputer. Kalau perlu, gunakan tetes mata pelembap atas saran dokter untuk menjaga kelembapan alami mata. 4. Atur Jarak dan Posisi Layar Jarak ideal antara mata dan layar adalah sekitar 50–70 cm, atau kira-kira sejauh panjang lengan. Pastikan bagian atas layar sejajar dengan mata atau sedikit di bawahnya, agar leher dan mata tidak cepat tegang. 5. Konsumsi Makanan Bergizi untuk Mata Kesehatan mata tidak hanya dijaga dari luar, tapi juga dari dalam. Makanan yang mengandung vitamin A, C, E, serta omega-3 sangat baik untuk mata. Kamu bisa mendapatkannya dari sayur berdaun hijau, wortel, telur, ikan salmon, dan buah-buahan berwarna cerah seperti jeruk atau pepaya. 6. Batasi Paparan Layar di Waktu Luang Coba kurangi waktu menatap layar di luar jam kerja, misalnya dengan membaca buku fisik, berjalan santai, atau berbincang langsung dengan orang di sekitar. Keseimbangan antara aktivitas digital dan waktu istirahat bisa membantu mata lebih segar dan pikiran lebih rileks. 7. Periksa Mata Secara Berkala Walau terasa normal, bukan berarti mata benar-benar bebas masalah. WHO merekomendasikan pemeriksaan mata rutin, terutama bagi yang sering menggunakan perangkat digital atau berusia di atas 40 tahun. Pemeriksaan berkala bisa membantu mendeteksi gangguan sejak dini seperti mata kering kronis, glaukoma, atau gangguan refraksi. Menjaga Mata = Menjaga Kualitas Hidup Mata adalah jendela dunia dan juga “teman kerja” kita setiap hari. Dengan kebiasaan kecil seperti istirahat sejenak, mengatur pencahayaan, serta pola hidup sehat, kita bisa menjaga penglihatan tetap tajam dan nyaman meski di era digital. Jadi, mulai sekarang yuk lebih peduli dengan kesehatan mata. Karena layar boleh jadi bagian dari hidup kita, tapi jangan sampai mengambil kejernihan pandangan kita.

image-newest
Info Kesehatan

Waspadai Gejala Awal Penyakit Jantung Sebelum Terlambat Senin, 22 Desember 2025 08:23 WIB Penyakit jantung sering dijuluki “silent killer” karena gejalanya di tahap awal bisa sangat samar, sehingga mudah diabaikan. Padahal, mengenali tanda-tanda awal penting agar tindakan pencegahan atau pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif. Berikut adalah gejala-gejala yang sering luput dari perhatian namun patut dicurigai sebagai indikasi masalah jantung: Gejala-gejala yang Sering Diabaikan Rasa Tidak Nyaman atau Tekanan di Dada Rasa seperti ditekan, diremas, atau seperti ada beban di dada bisa menjadi sinyal awal masalah jantung. Gejala ini kadang diartikan sebagai gangguan pencernaan atau masuk angin oleh banyak orang.   Nyeri Menjalar ke Bagian Tubuh Lain Nyeri bisa menyebar ke lengan, bahu, punggung, leher, atau rahang. Ini sering terjadi terutama saat penyakit jantung koroner progresif.   Sesak Napas Bila jantung tidak mampu memompa darah secara efisien, cairan bisa menumpuk di paru-paru, memicu kesulitan bernapas, bahkan dalam aktivitas ringan atau saat berbaring.   Kelelahan Berlebihan Tanpa Sebab Jelas Tubuh sering terasa sangat lelah meski tidak melakukan aktivitas berat. Kondisi ini muncul karena organ tubuh tidak mendapat suplai oksigen dan nutrisi yang optimal akibat kerja jantung yang terganggu.   Pembengkakan di Kaki, Pergelangan Kaki, atau Perut Cairan yang tidak dapat dibuang secara efektif bisa mengendap di jaringan dan menyebabkan edema, yang sering muncul di tungkai atau perut.   Pusing atau Pingsan Mendadak Gangguan aliran darah ke otak bisa memicu kondisi seperti kepala ringan, pusing, atau bahkan kehilangan kesadaran.   Detak Jantung Tidak Teratur (Palpitasi / Aritmia) Sensasi jantung “berdebar”, melompat, terlalu cepat atau lambat bisa menjadi pertanda bahwa sistem listrik jantung mengalami gangguan.   Keringat Dingin Keringat dingin yang muncul tiba-tiba, terutama ketika disertai dengan nyeri dada dan sesak napas, bisa mengindikasikan terjadinya serangan jantung.   Batuk yang Tak Kunjung Sembuh / Berlebihan Batuk kronis, terutama yang disertai dahak berbusa atau kemerahan, mungkin terkait dengan gagal jantung di mana cairan dari jantung bocor ke paru-paru.   Mendengkur Keras (Sleep Apnea Tersembunyi) Mendengkur parah dan sleep apnea bisa menjadi faktor risiko jantung yang tersembunyi. Kondisi ini memicu stres pada sistem pernapasan dan jantung. Mengapa Penting untuk Tanggap Dini? Mengabaikan gejala ringan bisa menyebabkan kondisi memburuk secara perlahan, hingga muncul komplikasi serius seperti serangan jantung mendadak atau gagal jantung. Dengan deteksi dini: Penanganan bisa dilakukan dengan intervensi minimal Risiko komplikasi dapat ditekan Kualitas hidup penderita bisa dijaga lebih baik Siapa yang Lebih Berisiko? Beberapa faktor yang meningkatkan kecenderungan mengalami penyakit jantung antara lain: Usia (pria ≥ 45 tahun dan wanita ≥ 55 tahun) Riwayat keluarga penyakit jantung Gaya hidup kurang sehat: merokok, pola makan tinggi lemak/gula/garam, kurang aktivitas fisik, stres kronis Penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi Langkah Pencegahan dan Tindakan yang Dapat Dilakukan Gaya hidup sehat Konsumsi makanan seimbang (sayur, buah, biji-bijian, protein rendah lemak), kurangi garam/lemak jenuh/gula, hentikan merokok, batasi alkohol, dan kelola stres.   Aktivitas fisik rutin Lakukan olahraga ringan hingga moderat minimal 30 menit per hari (misalnya jalan cepat, bersepeda, senam) secara konsisten.   Manajemen penyakit penyerta Kontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol sesuai anjuran medis. Terapis sesuai kebutuhan.   Cek kesehatan secara rutin Pemeriksaan seperti EKG, ekokardiografi, tes darah kolesterol/gula, tekanan darah, dan konsultasi ke dokter spesialis jantung bila ada keluhan.   Segera konsultasi dokter bila gejala muncul Jangan meremehkan gejala-gejala di atas. Bila Anda mengalami satu atau lebih dengan frekuensi atau intensitas yang meningkat, segera periksakan diri ke dokter jantung. Menjaga kesehatan jantung bukan hanya soal menghindari penyakit, tapi juga tentang mencintai diri sendiri dengan menjalani gaya hidup yang seimbang. Jangan tunggu sampai gejala muncul baru bertindak. Mulai sekarang, perhatikan sinyal tubuhmu dan lakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan jantung tetap sehat dan kuat.

image-newest
Info Kesehatan

Manfaat Omega-3 untuk Tubuh: Menjaga Jantung, Mata, dan Banyak Fungsi Lainnya Kamis, 11 Desember 2025 13:19 WIB Asam lemak omega-3 adalah jenis lemak sehat yang tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga perlu diperoleh dari luar melalui makanan. Omega-3 memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh secara keseluruhan terutama untuk jantung, mata, dan sistem saraf.  Berikut ringkasan manfaat utama dan cara optimal mengonsumsinya: Manfaat Utama Omega-3 Menjaga kesehatan jantung Omega-3 membantu menurunkan tekanan darah, menurunkan kadar trigliserida, memperlambat pembentukan plak pada arteri, dan meningkatkan fungsi pembuluh darah. Semua ini dapat mengurangi risiko penyakit kardiovaskular. Menunjang ketajaman mata & kesehatan retina Omega-3 terutama DHA (docosahexaenoic acid) berperan besar dalam menjaga kesehatan retina mata. Konsumsi cukup omega-3 dapat membantu mencegah degenerasi makula terkait usia dan menjaga penglihatan tetap baik. Memperkuat tulang dan sendi Dengan membantu mengurangi peradangan (inflamasi) dalam tubuh, omega-3 juga berdampak positif pada kesehatan sendi. Ini bisa membantu meredakan nyeri sendi dan menjaga kepadatan tulang. Mendukung fungsi otak & sistem saraf Otak sangat bergantung pada asam lemak omega-3 untuk pertumbuhan dan regenerasi sel-sel saraf. Asupan yang baik bisa menunjang daya ingat, konsentrasi, hingga mood yang seimbang. Menjaga kulit tetap sehat Omega-3 dapat mendukung kelembapan kulit, mengurangi kekeringan dan iritasi, serta membantu memperbaiki kulit yang terpapar stres atau polusi. Menunjang fungsi sistem kekebalan tubuh Karena sifat anti-inflamasinya, omega-3 mendukung respons imun tubuh terhadap infeksi dan menjaga keseimbangan sistem imun. Mendukung kesehatan mental & suasana hati Kajian menunjukkan bahwa omega-3 bisa membantu mengurangi depresi dan kecemasan ringan dengan memengaruhi transmisi saraf dan peradangan di otak.  Cara Mendapatkan Omega-3 dari Makanan Untuk memaksimalkan manfaatnya, berikut beberapa tips konsumsi omega-3: Konsumsi ikan berlemak seperti salmon, makarel, sarden, tuna, dan ikan laut dalam lainnya setidaknya 2–3 kali per minggu. Sumber nabati: biji chia, biji rami (flaxseed), kenari, dan minyak kanola bisa menjadi alternatif omega-3 dari tumbuhan. Suplementasi: bila sulit mendapatkan omega-3 dari makanan, suplemen minyak ikan atau minyak alga bisa dipertimbangkan tapi sebaiknya konsultasikan dulu ke dokter atau ahli gizi. Pastikan keseimbangan ω-3 terhadap ω-6: konsumsi lemak omega-6 (misalnya dari minyak nabati) tidak berlebihan agar efek anti-inflamasi omega-3 tetap optimal. Tips Aman dan Efektif Mengonsumsi Omega-3 Asupan omega-3 tinggi bukan pengganti pengobatan medis, khususnya bagi penderita penyakit jantung, tekanan darah tinggi, atau kondisi kronis lainnya. Sebaiknya konsultasikan ke dokter atau ahli gizi sebelum mulai konsumsi suplemen, terutama bila Anda sedang menggunakan obat pengencer darah atau memiliki kondisi medis tertentu. Efek omega-3 akan lebih optimal bila didukung pola hidup sehat: aktivitas fisik teratur, tidak merokok, tidur cukup, dan pengelolaan stres. Omega-3 bukan sekadar “lemak baik”, melainkan kunci penting dalam menjaga kesehatan jantung, mata, otak, dan sistem tubuh lainnya. Dengan mengonsumsinya secara cukup melalui diet seimbang, Anda memberi tubuh banyak “proteksi alami” terhadap penyakit. Sehat itu dimulai dari dalam, mari lengkapi hidup Anda dengan “lemak baik” yang bekerja untuk Anda.

image-newest
Info Kesehatan

Waspada Blue Light: Bahaya Layar Gadget buat Mata Kamu Rabu, 10 Desember 2025 09:00 WIB Di zaman sekarang, gadget kayak HP, tablet, laptop jadi sahabat sejati. Tapi, tahukah kamu kalau layar-layar itu memancarkan blue light (cahaya biru) yang bisa berdampak buruk ke mata? Yuk, kita bahas dampak-dampaknya dan gimana cara melindungi mata supaya tetap sehat. Apa Itu Blue Light? Blue light adalah jenis cahaya dengan panjang gelombang pendek (~415–455 nm) yang menyimpan energi cukup tinggi. Karena gelombangnya pendek, cahaya ini cenderung ‘menyebar’ dalam mata dan sulit untuk difokuskan. Sumbernya gak cuma gadget, loh. Matahari adalah sumber blue light terbesar. Gadget, lampu LED, dan layar digital juga ikut menyumbang paparan blue light yang kita hadapi setiap hari. Dampak Blue Light ke Kesehatan Mata Paparan blue light yang terlalu lama bisa memunculkan beberapa gangguan pada mata dan kesehatan tubuh secara umum. Berikut beberapa efek yang patut kamu waspadai: 1. Mata Cepat Lelah & Kering Layar yang memancarkan blue light menyebar dan membuat mata sulit mempertahankan fokus. Otot mata harus bekerja ekstra keras supaya tetap “nyaman” melihat layar. Selain itu, saat kita konsentrasi menatap layar, kita cenderung lebih jarang berkedip, sehingga permukaan mata bisa jadi kering.  Gejala yang muncul bisa berupa mata kering, pandangan kabur, mata terasa panas, bahkan kedutan pada kelopak mata. 2. Ganggu Pola Tidur (Ritme Sirkadian) Saat malam hari kamu terus menatap layar gadget, blue light bisa menekan produksi melatonin, hormon yang membantu tubuh mengenali kapan waktu tidur. Akibatnya, jam biologis (ritme sirkadian) jadi “kacau” dan kamu bisa susah tidur atau pola tidur jadi tidak teratur 3. Risiko Kerusakan Retina & Degenerasi Makula Paparan blue light dalam jangka panjang diduga bisa merusak jaringan retina. Ini bisa berujung pada degenerasi makula, yaitu kerusakan area tengah retina yang sangat penting untuk penglihatan tajam. Penelitian juga menunjukkan adanya korelasi antara paparan cahaya biru dan risiko AMD (age-related macular degeneration).  4. Risiko Katarak & Masalah Lensa Lensa mata berfungsi menyaring cahaya sebelum mencapai retina. Tapi, paparan cahaya biru yang terus-menerus bisa membuat lensa jadi keruh atau berubah sifatnya, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko katarak.  5. Dampak Lainnya: Kelelahan Tubuh, Sakit Kepala Efek dari blue light gak cuma di mata. Banyak orang melaporkan sakit kepala, pusing, atau rasa pegal di leher dan pundak karena sering menatap layar terlalu lama.  Gimana Cara Melindungi Mata dari Efek Buruk Blue Light? Tenang, kamu gak harus berhenti pakai gadget. Tapi ada beberapa strategi sederhana yang bisa kamu terapkan supaya mata tetap sehat: Gunakan aturan 20-20-20: setiap 20 menit menatap layar, alihkan pandangan ke objek sejauh ±6 meter selama ±20 detik. Aktifkan mode malam (night mode) atau blue light filter di perangkatmu agar emisi cahaya biru dikurangi di malam hari. Gunakan kacamata dengan lensa anti-blue light (jika diperlukan) supaya sebagian blue light disaring sebelum mencapai mata. Batasi penggunaan gadget, terutama menjelang waktu tidur. Matikan atau jauhkan perangkat digital minimal 1–2 jam sebelum tidur. Pastikan ruangan memiliki pencahayaan yang tepat (tidak terlalu gelap atau terlalu terang) agar mata tidak “dipaksa” bekerja keras. Rutin istirahatkan mata dan berkedip lebih sering agar permukaan mata tetap lembab. Bila merasa mata sangat terganggu, periksa ke dokter mata untuk evaluasi lebih lanjut dan rekomendasi penanganan. Mata kita bagian dari aset utama untuk beraktivitas. Blue light memang tidak bisa dihindari sepenuhnya di era digital, tapi dengan kebiasaan bijak dan proteksi sederhana, kita bisa meminimalkan dampaknya.

image-newest
Info Kesehatan

Waspadai Gejala Awal Penyakit Jantung Sebelum Terlambat Senin, 08 Desember 2025 08:35 WIB Penyakit jantung sering dijuluki “silent killer” karena gejalanya di tahap awal bisa sangat samar, sehingga mudah diabaikan. Padahal, mengenali tanda-tanda awal penting agar tindakan pencegahan atau pengobatan bisa dilakukan lebih cepat dan efektif. Berikut adalah gejala-gejala yang sering luput dari perhatian namun patut dicurigai sebagai indikasi masalah jantung: Gejala-gejala yang Sering Diabaikan Rasa Tidak Nyaman atau Tekanan di Dada Rasa seperti ditekan, diremas, atau seperti ada beban di dada bisa menjadi sinyal awal masalah jantung. Gejala ini kadang diartikan sebagai gangguan pencernaan atau masuk angin oleh banyak orang. Nyeri Menjalar ke Bagian Tubuh Lain Nyeri bisa menyebar ke lengan, bahu, punggung, leher, atau rahang. Ini sering terjadi terutama saat penyakit jantung koroner progresif. Sesak Napas Bila jantung tidak mampu memompa darah secara efisien, cairan bisa menumpuk di paru-paru, memicu kesulitan bernapas, bahkan dalam aktivitas ringan atau saat berbaring. Kelelahan Berlebihan Tanpa Sebab Jelas Tubuh sering terasa sangat lelah meski tidak melakukan aktivitas berat. Kondisi ini muncul karena organ tubuh tidak mendapat suplai oksigen dan nutrisi yang optimal akibat kerja jantung yang terganggu. Pembengkakan di Kaki, Pergelangan Kaki, atau Perut Cairan yang tidak dapat dibuang secara efektif bisa mengendap di jaringan dan menyebabkan edema, yang sering muncul di tungkai atau perut. Pusing atau Pingsan Mendadak Gangguan aliran darah ke otak bisa memicu kondisi seperti kepala ringan, pusing, atau bahkan kehilangan kesadaran. Detak Jantung Tidak Teratur (Palpitasi / Aritmia) Sensasi jantung “berdebar”, melompat, terlalu cepat atau lambat bisa menjadi pertanda bahwa sistem listrik jantung mengalami gangguan. Keringat Dingin Keringat dingin yang muncul tiba-tiba, terutama ketika disertai dengan nyeri dada dan sesak napas, bisa mengindikasikan terjadinya serangan jantung. Batuk yang Tak Kunjung Sembuh / Berlebihan Batuk kronis, terutama yang disertai dahak berbusa atau kemerahan, mungkin terkait dengan gagal jantung di mana cairan dari jantung bocor ke paru-paru. Mendengkur Keras (Sleep Apnea Tersembunyi) Mendengkur parah dan sleep apnea bisa menjadi faktor risiko jantung yang tersembunyi. Kondisi ini memicu stres pada sistem pernapasan dan jantung. Mengapa Penting untuk Tanggap Dini? Mengabaikan gejala ringan bisa menyebabkan kondisi memburuk secara perlahan, hingga muncul komplikasi serius seperti serangan jantung mendadak atau gagal jantung. Dengan deteksi dini: Penanganan bisa dilakukan dengan intervensi minimal Risiko komplikasi dapat ditekan Kualitas hidup penderita bisa dijaga lebih baik Siapa yang Lebih Berisiko? Beberapa faktor yang meningkatkan kecenderungan mengalami penyakit jantung antara lain: Usia (pria ≥ 45 tahun dan wanita ≥ 55 tahun) Riwayat keluarga penyakit jantung Gaya hidup kurang sehat: merokok, pola makan tinggi lemak/gula/garam, kurang aktivitas fisik, stres kronis Penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi Langkah Pencegahan dan Tindakan yang Dapat Dilakukan Gaya hidup sehat Konsumsi makanan seimbang (sayur, buah, biji-bijian, protein rendah lemak), kurangi garam/lemak jenuh/gula, hentikan merokok, batasi alkohol, dan kelola stres. Aktivitas fisik rutin Lakukan olahraga ringan hingga moderat minimal 30 menit per hari (misalnya jalan cepat, bersepeda, senam) secara konsisten. Manajemen penyakit penyerta Kontrol tekanan darah, gula darah, dan kolesterol sesuai anjuran medis. Terapis sesuai kebutuhan. Cek kesehatan secara rutin Pemeriksaan seperti EKG, ekokardiografi, tes darah kolesterol/gula, tekanan darah, dan konsultasi ke dokter spesialis jantung bila ada keluhan. Segera konsultasi dokter bila gejala muncul Jangan meremehkan gejala-gejala di atas. Bila Anda mengalami satu atau lebih dengan frekuensi atau intensitas yang meningkat, segera periksakan diri ke dokter jantung. Menjaga kesehatan jantung bukan hanya soal menghindari penyakit, tapi juga tentang mencintai diri sendiri dengan menjalani gaya hidup yang seimbang. Jangan tunggu sampai gejala muncul baru bertindak. Mulai sekarang, perhatikan sinyal tubuhmu dan lakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan jantung tetap sehat dan kuat.

image-newest
Info Kesehatan

Kenali Lemak Baik dan Lemak Jahat dalam Makanan Harian Selasa, 02 Desember 2025 08:32 WIB Selama ini, lemak sering dianggap musuh utama kesehatan. Padahal, tidak semua lemak itu jahat, lho! Tubuh kita justru membutuhkan lemak dalam jumlah yang cukup untuk menjaga energi, mendukung kerja otak, dan menyerap vitamin seperti A, D, E, dan K. Namun, kuncinya ada pada jenis lemak yang dikonsumsi. Menurut World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes), ada dua kelompok besar lemak yang perlu kita kenali: lemak baik dan lemak jahat. Yuk, kita bahas satu per satu supaya nggak salah pilih makanan! Lemak Baik: Sahabat Jantung dan Otak Lemak baik atau lemak tak jenuh berperan penting dalam menjaga kadar kolesterol normal dan menurunkan risiko penyakit jantung. Jenis lemak ini bisa ditemukan pada bahan makanan alami, terutama dari tumbuhan dan ikan. Beberapa contoh sumber lemak baik: Alpukat, kacang almond, dan kacang kenari Minyak zaitun, minyak kanola, dan minyak biji bunga matahari Ikan berlemak seperti salmon, tuna, dan sarden (kaya akan omega-3) Menurut WHO, konsumsi lemak tak jenuh dalam porsi seimbang dapat meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) dan membantu melindungi pembuluh darah dari penyumbatan. Lemak Jahat: Si Terselubung yang Perlu Diwaspadai Lemak jahat adalah lemak jenuh dan lemak trans yang bisa meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dan memicu penyakit jantung, stroke, serta obesitas. Jenis lemak ini banyak ditemukan dalam makanan olahan, gorengan, dan makanan cepat saji. Contoh sumber lemak jahat yang sebaiknya dibatasi: Makanan cepat saji seperti burger dan ayam goreng Kue, biskuit, dan makanan kemasan tinggi mentega atau margarin Daging olahan seperti sosis dan daging asap WHO menyarankan agar asupan lemak jenuh tidak melebihi 10% dari total energi harian, dan lemak trans kurang dari 1%. Sementara itu, Kemenkes RI mengingatkan bahwa konsumsi lemak jahat berlebihan bisa mempercepat proses penyempitan pembuluh darah. Keseimbangan adalah Kunci Kuncinya bukan menghilangkan lemak sama sekali, tapi memilih jenis lemak yang tepat dan menjaga porsinya. Gunakan minyak zaitun atau minyak jagung untuk memasak, hindari menggoreng berulang kali, dan biasakan makan ikan dua kali seminggu. Coba juga pola makan seperti “isi piringku” dari Kemenkes RI, yang menekankan keseimbangan antara karbohidrat, protein, sayur, buah, dan lemak sehat dalam satu porsi makan. Lemak bukan musuh, asal kamu tahu cara memilihnya. Dengan membatasi lemak jahat dan memperbanyak lemak baik, tubuh akan tetap bertenaga, jantung lebih sehat, dan kolesterol tetap terkendali. Mulailah dari hal kecil  ganti gorengan dengan kacang panggang, pilih minyak sehat, dan jaga pola makan seimbang. Karena menjaga kesehatan itu bukan soal pantangan, tapi soal bijak dalam memilih.

image-newest
Info Kesehatan

Gula Tersembunyi di Makanan Sehari-hari Senin, 01 Desember 2025 08:57 WIB Kamu mungkin merasa tidak terlalu sering makan manis. Jarang minum teh manis, tidak suka permen, bahkan sudah mengurangi kue. Tapi, pernahkah kamu sadar kalau gula tetap bisa “menyelinap” ke dalam makananmu bahkan di menu yang tidak terasa manis? Menurut World Health Organization (WHO), konsumsi gula tambahan sebaiknya tidak lebih dari 10% total energi harian, atau sekitar 50 gram per hari untuk orang dewasa. Tapi kenyataannya, banyak orang tanpa sadar mengonsumsi lebih dari itu karena adanya gula tersembunyi di berbagai makanan olahan. 1. Roti dan Sereal Sarapan Meski tidak terasa manis, roti dan sereal kemasan sering kali mengandung tambahan gula agar rasanya lebih enak. Bahkan, produk yang diberi label “whole grain” atau “sehat” pun bisa mengandung gula tambahan di dalamnya. WHO mengingatkan, membaca label gizi sangat penting untuk mengenali kandungan gula dalam makanan sehari-hari. 2. Minuman Kemasan Jus buah kemasan, kopi instan, atau minuman berenergi bisa jadi “jebakan manis”. Meski terlihat segar dan praktis, satu botol jus bisa mengandung hingga 6–8 sendok teh gula, melebihi batas harian yang disarankan. Menurut Kementerian Kesehatan RI, konsumsi gula berlebihan dari minuman manis dapat meningkatkan risiko obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. 3. Saus dan Bumbu Masak Saus tomat, saus sambal, bahkan kecap manis ternyata termasuk sumber gula tambahan yang sering terlupakan. Satu sendok makan saus bisa mengandung lebih dari 4 gram gula. Karena itu, penting untuk memperhatikan porsi penggunaan bumbu olahan dan sesekali menggantinya dengan bahan alami seperti rempah, cabai segar, atau perasan lemon untuk menambah rasa. 4. Camilan “Sehat” Banyak produk yang diklaim “low fat” atau “high fiber” justru punya kadar gula tinggi untuk menggantikan rasa dari lemak yang dikurangi. Misalnya granola bar, yogurt rasa buah, atau biskuit gandum. Kemenkes RI menyarankan untuk selalu memeriksa label “karbohidrat total” dan “gula” sebelum membeli produk kemasan agar tidak tertipu klaim kesehatan di bungkusnya. 5. Buah Kaleng dan Produk Olahan Buah Buah memang sehat, tapi buah kaleng sering direndam dalam sirup kental yang tinggi gula. Jika ingin konsumsi buah, sebaiknya pilih buah segar atau buah beku tanpa tambahan gula. Selain lebih sehat, kandungan serat alaminya juga membantu mengontrol kadar gula darah. Gula tidak selalu datang dari makanan manis. Ia bisa tersembunyi di makanan yang terlihat “biasa saja” seperti roti, saus, atau camilan. Kuncinya ada di membaca label kemasan dan membatasi makanan olahan. Mulailah dari langkah kecil: ganti minuman manis dengan air putih, kurangi saus olahan, dan pilih buah segar daripada makanan kemasan. Tubuhmu akan terasa lebih ringan, energi lebih stabil, dan risiko penyakit pun bisa ditekan.

Info Terpopuler

image-popular
Info Kesehatan

Be Mindful of Your Mental Health Sabtu, 24 Oktober 2020 08:36 WIB Tidak dipungkiri lagi bahwa kesehatan mental merupakan salah satu bagian yang menandakan sehatnya seseorang. Sehat tidak hanya dilihat dari kondisi fisik saja, tetapi bagaimana kondisi psikologis diri kita. Di tengah kondisi pandemic Covid-19 yang melanda, mari kita tanyakan ke diri sendiri, sejahterakah kita secara psikologis? Sejahtera secara psikologis menandakan bahwa diri kita memiliki perasaan yang baik (feeling good) dan dapat berfungsi secara efektif (functioning effectively). Untuk dapat sejahtera secara psikologis, tentunya kita perlu memperhatikan (mindful) kondisi kesehatan mental. Mengapa demikian? Alasannya sangat sederhana, karena dengan memberikan perhatian maka kita lebih menyadari serta dapat lebih memahami kondisi diri kita. Mindfulness adalah suatu pendekatan integratif yang didasarkan pada hubungan pikiran & tubuh, yang membantu individu untuk mengelola pikiran dan perasaan serta kesehatan mental mereka. Mindfulness merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Salah satu contoh simpelnya adalah dengan kita menyadari bagaimana rasa makanan yang tadi dicicipi? Apa warna baju yang dipakai hari ini? Apa perasaan yang muncul ketika atasan memberikan feedback kepada saya? Apa yang saya rasakan ketika rekan kerja menolak pendapat saya? Sadar akan apa yang sedang dipikirkan atau dirasakan menjadi salah satu wujud agar kita dapat menjalankan hari-hari dengan nyaman serta menemukan solusi yang terbaik untuk permasalahan yang dihadapi. Selain menyadari apa yang terlintas dipikiran dan dirasakan, menyadari apa yang tubuh kita coba untuk sampaikan juga salah satu bentuk mindfulness. Sebagai contoh, saat berada pada situasi penuh tekanan atau kecemasan, ternyata tubuh kita memunculkan reaksi tertentu seperti detak jantung meningkat, otot tegang atau napas terhambat. Dengan memperhatikan perubahan yang muncul tersebut, maka kita dapat pula mencari solusi atas perubahan yang terjadi, salah satu upayanya dengan mengatur napas dengan baik agar tubuh menjadi tenang. Begitu pula dengan situasi Covid-19 yang tengah kita hadapi saat ini, aware terhadap apa yang menjadi pikiran, perasaan, serta pola tingkah laku yang dimunculkan akan membantu kita menentukan langkah pengelolaan yang tepat. Kesadaran ini menandakan pula bahwa kita merawat diri. Kita sadar akan hal yang menjadi pemicu dari kecemasan serta memperhatikan hal-hal apa yang membuat tertekan. Ketika kita mulai memperhatikan kondisi kesehatan mental, tidak hanya diri kita sendiri yang mendapatkan manfaatnya. Manfaat apalagi yang didapat melalui mindfulness? Menyadari kondisi psikologis atau kesehatan mental ini juga dapat membantu mengurangi stigma lingkungan yang buruk terhadap kesehatan mental. Beberapa contoh mindfulness ini adalah, menyadari penggunaan tata bahasa yang digunakan agar tidak menyakiti perasaan orang lain, mengedukasi diri terkait kesehatan mental yaitu dengan mengenali bahwa kesehatan mental memiliki perlakuan yang sama dengan masalah medis lainnya, dan mendengarkan kondisi orang lain tanpa interupsi, asumsi, maupun interpretasi di awal. Nah, beberapa hal tersebut dapat kita latih di kehidupan sehari-hari dan menjadi upaya bagi kita untuk lebih mindful terhadap diri maupun lingkungan sosial. Sudah saatnya kita aware terhadap kesehatan mental. Sesuai dengan kampanye yang dikeluarkan World Federation for Mental Health (WFMH), perayaan Hari Kesehatan Mental Dunia tahun 2020 mengusung tema “Mental Health for All: Greater Investment – Greater Access”, hal tersebut menandakan bahwa sehat mental itu hak setiap orang. Inilah saatnya bagi kita untuk berinvestasi dalam kesehatan mental. By: Rahmi Maya Fitri, M.Psi., Psikolog     “We would never tell someone with a broken leg that they should stop wallowing and get it together. We don’t consider taking medication for an ear infection something to be ashamed of.”  MICHELLE OBAMA     Sumber: https://www.verywellmind.com/improve-psychological-well-being-4177330; https://www.mentalhealth.org.uk/a-to-z/m/mindfulness; https://www.mindfulnessstudies.com/ending-mental-health-stigma-through-mindfulness/

image-popular
Info Kesehatan

Telemedicine menjadi alternatif konsultasi dimasa Pandemi Senin, 18 Januari 2021 11:05 WIB Tahun 2020 sudah selesai akan tetapi,  lain halnya dengan Pandemi yang sampai akhir 2020 belum kunjung usai. Dalam masa Pandemik ini, Yakes Telkom memberikan layanan Telemedicine yaitu pemakaian telekomunikasi untuk memberikan informasi dan pelayanan medis jarak-jauh. Telemedicine saat ini, menggunakan teknologi komunikasi dengan gadget untuk memberikan konsultasi fasilitas kesehatan di tempat yang berjauhan, bisa secara langsung via telepon, berkirim pesan, ataupun videocall dengan aplikasi WA (whatsapp) atau aplikasi Telegram. Layanan Telemedicine dibutuhkan oleh Pelanggan dalam masa pandemik Covid-19 saat ini karena ada beberapa layanan yang bisa didapatkan oleh pelanggan dengan menggunakan Telemedicine diantaranya adalah: Layanan Konsultasi medis dengan dokter dan petugas medis lainnya di Yakes Telkom. Memberi kemudahan saat pelanggan ingin mendapatkan Obat Rutin yang dikonsumsi tanpa harus datang ke Poliklinik Yakes Telkom. Permintaan rujukan pemeriksaan Laboratorium dan rujukan ke rumah sakit. Layanan konsultasi tentang restitusi. Layanan konsultasi non medis perihal kepesertaan. Kenapa harus Telemedicine? Guna mencegah penyebaran virus covid-19 lebih baik apabila dirumah saja untuk menghindari kerumunan, itulah sebabnya Yakes Telkom lebih menekankan Telemedicine daripada pelanggan datang langsung ke Poliklinik. Dengan Telemedicine para pelanggan tetap bisa mendapatkan layanan kesehatan dari Yakes. Untuk layanan medis para pelanggan bisa melakukan konsultasi kepada para dokter, apabila memerlukan obat dokter akan memberikan dan dikirim menggunakan kurir. Demikian juga dengan rujukan bisa juga didapatkan dengan melakukan Telemedicine. Tidak hanya layanan konsultasi medis saja yang diberikan kepada para pelanggan, melainkan dari sisi Non Medispun bisa melakukan Telemedicine, salah satu contohnya adalah layanan Konsultasi kepesertaan. Untuk melakukan laporan update Faskes putra/i dari pelanggan, Pensiunan dapat mengirimkan foto atau scan persyaratan yang sudah lengkap kepada admin kepesertaan untuk diproses lebih lanjut. Selain itu juga pengajuan untuk cetak kartu kesehatan bisa dilayani secara online via Whatsapp ataupun Telegram, dengan mengirimkan persyaratan yang sudah lengkap kepada Admin Kepesertaan pengajuan cetak kartu kesehatan bisa diproses lebih lanjut. Saat ini Yakes Telkom tak henti-hentinya memberikan layanan yang terbaik kepada para pelanggan karena sesuai dengan slogan terbaru Yakes Telkom yaitu Sehat Tekad Kita, Melayani dengan Cinta (YKS05-01)

image-popular
Info Kesehatan

Kasus Positif Terus Melonjak, Segera Vaksinasi dan Kencangkan Prokes Minggu, 30 Januari 2022 21:49 WIB Lonjakan Kasus Harian Perupadata mencatatkan penambahan kasus harian Covid-19 sebanyak 9905 kasus (per 28 Januari 2022). Data yang ada juga menunjukkan 90,1% kasus konfirmasi nasional merupakan transmisi lokal dan tercatat sudah 3 pasien kasus konfirmasi Omicron meninggal dunia (memiliki komorbid atau penyakit penyerta dan 1 kasus belum divaksin). Kenaikan kasus harian Covid disinyalir akan terus meningkat dalam beberapa waktu kedepan. Gambaran kenaikan tajam kasus ini juga terlihat di lingkungan TelkomGroup. Munculnya 3 sub varian Omicron Baru-baru ini muncul 3 sub varian Omicron yaitu BA.1 BA.2 dan BA.3, status ketiganya masih terus diteliti. Sementara gejala dibandingkan Delta lebih ringan. BA.2 lebih infeksius dengan gejala lebih ringan dari BA.1. Mutasi virus memang bukanlah hal yang baru, apalagi Variant of Concern cenderung cepat menginfeksi dan akan banyak bermutasi. Yang harus digarisbawahi adalah jangan meremehkan dan jangan abai untuk mencegah virus semakin merajalela dan melahirkan varian yang berbahaya. Cegah dengan Vaksin dan Disiplin Prokes Sesuai dengan anjuran pemerintah melalui Kemenkes, perusahaan turut aktif mengambil langkah-langkah untuk mencegah laju penularan khususnya di lingkungan TelkomGroup dengan mempercepat upaya pelaksanaan vaksinasi booster untuk meningkatkan efektivitas vaksin primer.  Jadi bagi karyawan, pensiunan dan keluarga yg sudah mendapatkan e tiket di Peduli Lindungi dan telah 6 bulan dari vaksin ke 2, segera lakukan vaksinasi booster baik di sentra vaksinasi, RS atau puskesmas terdekat. Ayo kita cegah peningkatan laju Covid dengan tidak panik seraya meningkatkan protokol kesehatan dengan selalu gunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan, menghindari bepergian kecuali sangat mendesak, dan menghindari kegiatan makan bersama. Semangat Sehat!  #SEMUAWAJIBPAKAIMASKER #SegeraVaksin

image-popular
Info Kesehatan

Hari Hipertensi Sedunia, Kenali Faktor Risiko & Cara Pencegahannya Selasa, 17 Mei 2022 14:21 WIB 17 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Hipertensi Sedunia atau dikenal dengan World Hypertension Day. Momen peringatan ini ditujukan untuk menyadarkan masyarakat terkait dengan pentingnya mengenali gejala, faktor risiko serta cara pencegahan dari penyakit hipertensi. Gerakan Hari Hipertensi Sedunia ini juga bertujuan untuk memberitahukan kepada masyarakat dunia terkait komplikasi medis yang serius akibat hipertensi, informasi tentang pencegahannya, deteksi dini, serta tahapan pengobatannya. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan kondisi dimana tubuh mengalami tekanan darah di 130/80 mmHg atau lebih. Jika kondisi ini berlangsung lama, maka dapat menimbulkan berbagai penyakit serius yang mengancam nyawa, seperti gagal jantung, penyakit ginjal, dan juga stroke. Meskipun gejalanya sering tidak terlihat jelas, namun hipertensi masih dapat dideteksi serta dikontrol dengan baik. Hal tersebut seperti mengetahui beberapa faktor risiko yang dapat memicu terjadinya hipertensi dalam tubuh, seperti : Usia Seiring bertambahnya usia, risiko tekanan darah tinggi juga akan meningkat. Selain itu risiko hipertensi juga akan lebih sering terjadi pada pria dewasa dibandingkan wanita.   Riwayat Keluarga Penyakit Hipertensi ini juga cenderung dapat diturunkan dalam silsilah keluarga, sehingga peran serta seluruh anggota keluarga dalam mencegah atau mendeteksi dini terjadinya hipertensi sangatlah penting.   Merokok Kebiasaan buruk merokok juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi serta merusak lapisan dinding arteri, jika dibiarkan dapat menyebabkan arteri menyempit serta meningkatkan risiko penyakit jantung.   Obesitas Orang yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas juga memiliki risiko tinggi akan terjadinya hipertensi. Hal ini terjadi akibat tubuh yang semakin berat dapat meningkatkan kebutuhan darah dalam memasok oksigen dan nutrisi dalam jaringan tubuh. Dengan meningkatnya aliran darah tersebut, maka dapat meningkatkan tekanan pada dinding arteri.   Konsumsi Garam Berlebih Serta Sedikit Mengkonsumsi Potasium Konsumsi garam (natrium) berlebih dapat menyebabkan tubuh menahan cairan yang berdampak pada meningkatnya tekanan darah. Selain itu, kurangnya konsumsi zat potasium dapat meningkatkan tumpukan kadar natrium dalam darah.   Disebabkan Oleh Kondisi Kesehatan Tertentu Kondisi kesehatan yang kronis juga dapat meningkatkan risiko hipertensi, hal ini termasuk pada penderita penyakit ginjal, diabetes, serta sleep apnea. Dalam mendeteksi dini penyakit hipertensi ini, perlu dilakukan pengecekan berkala dalam mengukur tingkat tekanan darah. Meski begitu, pengukuran tekanan darah harus tetap dilakukan sesuai dengan anjuran dokter. Hal ini seperti yang disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia, dr. Erwinanto. SpJP(K). dr. Erwinanto menjelaskan bahwa proses pengukuran tekanan darah di rumah sebaiknya dilakukan setiap hari, setidaknya hingga 3 sampai 4 hari berturut-turut. Kemudian pada saat pengukuran tensi, dilakukan sebanyak 2 kali pengukuran dengan jeda waktu 1 hingga 2 menit untuk memastikan nilai tensi yang didapat adalah valid. "Lebih baik 7 hari berturut-turut pada pagi dan sore hari. Tingkat tekanan darah ditentukan oleh nilai rata-rata semua pengukuran , kecuali pengukuran hari pertama. Jadi, hasil hari pertama jangan dimasukin ke perhitungan rata-rata, ya,"jelas dr. Erwinanto Hipertensi juga dapat diatasi dengan menjalankan pola hidup sehat, seperti melakukan olahraga terartur, mengkonsumsi makanan sehat, mengurangi konsumsi minuman berkafein hingga berhenti merokok. Namun jika kondisi tekanan darah sudah tinggi, perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter serta mengkonsumsi obat penurun tekanan darah.